PSIKOANALISIS

Posted: Januari 11, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Psikoanalisa menjadi pembicaraan dan landasan dari teori-teori psikologi perkembangan. Tentu timbul banyak reaksi dan pandangan mengenai teori tersebut, termasuk dari mereka yang menentangnya. Teori psikoanalisa adalah teori yang membahas tentang tentang dunia batin dari perasaan, impuls dan fantasi manusia. Diantara pakar-pakar yang fokus mengembangkan teori psikoanalisis ini adalah Sigmund freud dan Erick H. Erikson yang secara terperinci akan di jelaskan sebagai berikut.

TEORI PSIKOANALISIS

SIGMUND FREUD

Freud adalah seorang developmentalis artinya percaya bahwa perubahan psikologis diatur oleh kekuatan-kekuatan batin, khususnya kedewasaan biologis. Freud juga melihat bahwa pendewasaan membawa bersamanya energi seksual dan agresif tak terkendali, dimana masyarakat harus menekannya. Karena itu kekuatan kekuatan sosial juga berperan kuat.

Freud lahir di Freiberg, Moravia sekarang bagian dari Negara Chekoslowakia.Dia putra pertama dari ibu yang berusia 20 tahun dan ayah berusia 40 tahun. Dan ayahnya memiliki dua putra lain yang sudah dewasa dari pernikahan sebelumnya. Ketika masih kecil Freud adalah anak yang cerdas, dan keluarga mendukung penuh studinya. Ketertarikan intelektual Freud meliputi beragam topik, dan ketika usianya cukup untuk masuk universitas dia memilih fakultas kedokteran, karena bidang ini memberinya kesempatan untuk melakukan penelitian. Di fakultas kedokteran ini , Freud melakukan beberapa penelitian penting tentang otak depan petromyzon, salah satu jenis ikan.

Antara usia 26 sampai 35 than, Freud dengan gigih menyelidiki sebuah bidang tempat dia melakukan sebuah penemuan  penting. Dia memutuskan meneruskan risetnya dibidang neurologi, namun kemudian lebih tertarik Pada kemunkinan terpobosan-terobosan yang lain. Untuk sesaat ,Freud mengira sudah menemukan revolusi penggunaan kokain, jenis obat yang tampaknya dia sendiri kecanduan untuk sementara waktu. Freud juga mengunjungi laboratorium Charcot di Paris, dimana Charcot sedang menyelidiki misteri hysteria. Studi tentang penyimpangan ini menjadi titik awal kontribusi Freud terbesar bagi psikologi.

Istilah hysteria kemudian diaplikasikannya kepada penyakit-penyakit ringan seperti kelupaan, karena untuk kasus ini tidak ada penjelasan fisiologi yang memadai. Karya Freud yang pertama tentang hysteria berisi salah satu contoh kasus Josef Breuer yang menangani seorang wanita (‘Anna O’) dengan membantu menyingkapkan pikiran dan perasaan terpendamnya lewat hipnotis. Tampaknya bagi Breuer dan Freud paien-pasien hysteria memiliki penghalang (block-off), atau sesuatu yang merepresi, bagi harapan dan emosi kesadarannya. Energi yang terhalang ini kemudian berubah menjadi gejala-gejala fisik. Terapinya kalau begitu terdiri atas penyingkapan dan pembebasan emosi-emosi yang telah diasingkan kebagian pikiran yang berbeda – ketaksadaran.

Karya awal Freud  tentang hysteria bisa diilustrasikan lewat kasus seorang wanita yang disebutnya Elizabeth Von R. Ia menderita penyakit hysteria dipahanya, rasa sakit yang jadi semakin buruk setelah berjalan-jalan bersama kakak iparnya, Elizabeth merasakan rasa simpati yang ganjil, namun kemudian hilang begitu saja karena hal itu hanya dianggap kedekatan sebagai keluarga. Kakak perempuannya meninggal, Elizabeth datang ke makamnya. Namun ketika Elizabeth berdiri disamping ranjang bekas jasad kakak perempuannya itu, tiba-tiba untuk sesaat menyeruak dibenaknya sebuah pemikiran, yang bisa dikerangkai dengan kata-kata ini; “ sekarang dia sudah bebas dan aku bisa menikahinya. Keinginannya tentu tidak bisa diterima oleh pemahaman moralnya, jadi dia segera merepresinya. Elizabeth setelah itu mengalami sakit dengan penderitaan hysteria yang menyakitkan, dan ketika Freud merawatnya, dia sudah lupa dengan pemikiran yang pernah muncul saat berada disamping ranjang kakak perempuannya dulu. Dibutuhkan berjam-jam penanganan psikoanalitik untuk menyingkapkan memori ini dan memori-memori lainnya, karena Elizabeth mempunyai alasan yang kuat untuk menghilangkan semua itu dari kesadarannya. Akhirnya dia sanggup mencapai kembali kesadaran akan perasaan-perasaan itu, dan ketika dia bisa mengingat memori-memori tersebut, maka hal-hal itu tidak lagi memunculkan gejala-gejala pada tubuhnya.

Dalam menangani Elizabeth tidak menggunakan hipnotis, karena hipnotis hanya bisa digunakan terhaap beberapa kasus saja, itupun hanya menemukan kesembuhan yang sementara. Di titik ini Freud menggantinya dengan metode asosiasi bebas (Free association), dimana pasien disuruh membiarkan pikirannya berjalan kesana-kemari dan melaporkan apapun yang muncul, apalagi menyensornya.

Ketika membangun teorinya, Freud bersepekulasi bahwa tidak hanya histeri dan pasien-pasien neurotic lainnya yang menderita konflik internal seperti itu. Kita semua mempunyai pikiran bahwa kita tidak boleh membuka aib diri sendiri. Didalam neurosis, represi dan konflik menjadi mendalam dan tidak bisa diatur lagi sehingga menghasilkan gejala-gejala. Dari konflik inilah kita tahu kondisi orang yang kita hadapi.

Breuer dan Freud kemudian menerbitkan sebuah buku bersama Studies on Hysteria (1895) yang menjadi karya klasik pertama di dalam teori psikoanalitik. Namun Breuer tidak melanjutkan penelitiannya di wilayah ini. Freud semakin menemukan bahwa emosi utama dihalangi para penderita hysteria  dari kesadaran adalah hasrat seksual sebuah temuan yang dirasakan Breuer benar namun dia sendiri secara pribadi tidak nyaman dan merasa terganggu.

Ketika Freud menggali lebih dalam bidang ini, dia menemukan bahwa memori terpendam pasiennya mengarah lebih jauh kebelakang, kemasa lalunya- kemasa kanak-kanak mereka. Namun kemudian dia menyimpulkan bahwa fantasi juga mengatur hidup kita. Pikiran dan perasaan bisa menjadi sama pentingnya dengan peristiwa-peristiwa aktual. Pada tahun 1897, Freud kebingungan untuk menemukan kebenaran dari memori-memori pasiennya, dia memulai garis  penyelidikan kedua- sebuah analisis diri. Termotivasi oleh gangguan yang dirasakan pada saat ayahnya meninggal, Freud mulai menguji mimpi-mimpi, memori-memori dan pengalaman kanak-kanaknya sendiri. Lewat analisis ini, dia meraih konfirmasi independen atas teori seksualitas kanak-kanaknya dan menemukan apa yang dianggapnya sebagai pengertian paling heboh masa itu: Komplek Oedipus pada anak. Artinya freud menyatakan bahwa dia (dan mungkin semua anak pada umumnya) mengembangkan sebuah persaingan mendalam dengan orang tua dari jenis kelamin yang berbeda. Freud pertama menerbitkan teorinya didalam Interpretation of dreams (1900). Dia menyebutnya  interpretasi mimpi ini sebagai “ Jalan raya menuju ketaksadarannya.

Analisis diri Freud bukan proses yang mudah dilakukan. Dia menyelidiki wilayah ini yaitu ketaksadaran-tanpa peduli apakah “Tuhan tahu jenis makhluk yang akan merayap keluar dari daLamnyya.

Sekitar tahun 1901 Freud berusia 45 tahun, dia mulai bangkitd ari pengucilan Intelektualnya. Penelitiannya menarik beragam ilmuwnan dan penulis muda, bahkan  beberapa dari mereka bertemu dengannya untuk diskusi mingguan. Kelompok diskusi ini berkembang dan mempunyai murid  Alfred Adlerdan Carl Gustav jung. Freud terus mengembangkan dan merevisi teorinya sampai akhir hayatnya, dan meninggal pada usia 83 tahun.

Tahap-tahap Perkembangan Psikoseksual

Penelitian Freud telah membawanya untuk percaya bahwa perasaan-perasaan seksual mestinya aktif pada usia kanak-kanak. Namun begitu, konsep konsep seksualitas Freud ini sangat luas.

1. Tahap oral

Bagian pertama dimulai dari bayi samapi 6 bulan, bahwa bayi telah  mengalami kesenangan menghisap putting ibunya untuk bertahan hidup. Itu sebabnya , bayi sampai terbawa–bawa menghisap jarinya sendiri atau objek lain meskipun perutnya tidak lapar. Freud menyebut kesenangan dari menghisap ini otoerotik. Artinya, ketika bayi menghisap jarinya sendiri, mereka tidak mengarahkan impuls-impuls kepada orang lain selain menemukan kenikmatan lewat tubuh mereka sendiri.

Namun aktivitas-aktivitas otoerotik tidak terbatas hanya kepada tahap oral. Ditahap berikutnya, contohnya masturbasi anak-anak juga dianggap sebuah otoerotik. Seperti Piaget, Freud melihat bahwa selama enam bulan pertama atau lebih dari kehidupan pertamanya, dunia bayi ‘tidak terobjek’, artinya, bayi tidak memiliki konsepsi tentang orang atau hal-hal yang eksis dalam dirinya sendiri. Saat digendong, contohnya, bayi kecil mengalami rasa nyaman pelukan ibu namun dia tidak menyadari bahwa kepribadian ibu sebagai pribadi yang terpisah. Terkadang Freud melukiskan kondisi tak terobjek ini sebagai salah satu narsisisme utama. Istilah narsisisme berarti mencintai diri sendiri, sebuah istilah yang diambil mitos yunani kuno tentang seorang anak laki-laki bernama Narcisus yang jatuh cinta kepada bayangannya sendiri dipermukaan air danau. Yang dimaksud dengan kondisi narsisistik dasar adalah tidur, ketika bayi merasa hangat dan cukup dengan dirinya sendiri, sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada dunia luar.

Bagian kedua tahap oral ,kira-kira sejak usia 6 bulan, bayi mulai mengembangkan konsepsi tentang orang lain, khususnya ibu, sebagai pribadi yang berbeda dan terpisah dari dirinya namun dibutuhkan. Mereka jadi cemas bila ibu meninggalkannya atau ketika mereka bertemu dengan orang asing tempat ibunya.

Pada saat yang sama, perkembangan penting lainnya sedang terjadi: pertumbuhan gigi dan dorongan untuk menggigit. Dititik ini, Karl Abraham (1924) menunjukkan bahwa secara samar-samar bayi membentuk gagasan bahwa mereka bisa membuat ibu menjauh dari mereka- lewat dorongan mereka untuk menggigit dan menangis. Kehidupan ditahap ini kemudian jadi makin kompleks dan mengganggu. Agak mengherankan bahwa orang dewasa tanpa sadar ingin kembali ketahap oral ini, dimana segala sesuatu terlihat jauh lebih sederhana dan menyenangkan.

Fiksasi dan regresi. Menurtu Freud, kita semua melewati tahapan oral sama seperti kita melewati tahap-tahap perkembangan psikoseksual lainnya. Namun begitu, kita bisa juga mengembangkan sebuah fiksasi ditahap apapun tak peduli seberapa jauh kita sudah melampauinya, kita masih mempertahan keasyikan tertentu dengan kesenangan dan persoalan ditahap-tahap awal ini. contohnya, jika kita terfiksasi ditahap oral ,kita mungkin menemukan  diri kita terus menerus diasyikkan dengan makanan-atau kita menemukan kalau kita bekerja paling nyaman saat menghisap atau menggigit objek tertentu seperti pensil, atau memperoleh kesenangan terbesar dari aktivitas-aktivitas seksual yang bersifat oral, atau merasa kecanduan untuk merokok  atau minuman. Freud mengatakan bahwa dia tidak begitu pasti dengan penyebab fiksasi, namun para psikoanalis umumnya percaya bahwa fiksasi dihasilkan oleh kesenangan berlebihan atau rasa prustasi yang berlebihan ditahap perkembangan tertentu.

Kecendrungan regresi ditentukan oleh kekuatan fiksasi dimasa kanak-kanak dan daya tolak frustasi yang dialaminya saat ini. Jika kita memiliki fiksasi oral yang kuat, maka frustasi yang relatif kecil di dalam hidup sehari-hari saja sudah cukup menjadi penyebab munculnya regresi oral. disisi lain, frustasi besar bisa menyebabkan sebuah regresi ketahap perkembangan awal meski fiksasinya tidak begitu kuat.

Jenis-jenis regresi yang sudah kita bahas ini bisa saja terdapat di dalam diri kita masing-masing pada orang yang relatif normal. Kita semua menemukan bahwa hidup banyak menghadapkan kita kapada rasa frustasi, sehingga entah sekarang atau kemudian kita akan mengalami regresi ke cara-cara bertindak lebih awal dan lebih kekanak-kanakan. Regresi ini sifatnya hanya parsial dan temporer bukan bersifat patologis.

Menurut Abraham, regresi ketahap oral juga menjadi jelas di dalam kasus-kasus depresi berat, seperti akibatnya  kehilangan orang yang sangat dicintai, dan gejala umum adalah penolakan untuk makan. Mungkin pasien sedang menghukum dirinya sendiri, karena tanpa sadar mereka merasa kalau kemarahan oral merekalah perusak objek cintanya.

2. Tahap Anal

Selama tahun kedua atau ketiga kehidupan anak, wilayah anal menjadi fokus ketertarikan seksual mereka. Anak-anak jadi semakin sadar akan sensasi-sensasi menyenangkan yang dihasilkan gerakan-gerakan isi perut di membran selaput lendir didaerah anal. Ketika sudah dapat mengontrol otot-otot dubur ini, kadang-kadang mereka belajar menahan gerakan perut mereka sampai detik terakhir untuk kemudian meningkatkan tekanan di dubur yang membawa kesenangan tertinggi saat fases akhirnya terlepas. Anak-anak juga sering tertarik dengan hasil dari kerja itu dan menikmati kegiatan memegang dan membaui fases mereka sendiri. Di tahap inilah anak kali pertama mengendalikan kesenangan instingtual mereka dengan cara yang dramtis. Segera anak siap orangtua mulai melatih mereka pelajaran toilet. Pelatihan menggunakan toilet memunculkan rasa marah dan takut yang cukup bisa membuat anak mengalami fiksasi. khususnya di Amerika serikat yang sangat ketat dengan hal ini. Akibatnya, kebanyakan orang munkin berkembang sekurang-kurangnya menuju suatu tendensi entah ‘anal ekspulsif’ atau ‘anal kompulsif’.

3. Tahap Falik atau Odipal

Antara usia 3 sampai 6 tahun, anak memasuki tahap Falik atau Odipal. Freud memahami tahap ini lebih baik pada anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Krisis odipal anak laki-laki

Krisis odipal dimulai saat anak laki-laki mulai tertarik kepada penisnya. Organ ini, yang begitu mudah di buat senang dan berubah bentuk, dan begitu kaya akan sensasi. Menyalakan rasa ingin tahunya, anak lalu ingin membandingkan penisnya dengan penis pria lainnya atau dengan hewan, dan berusaha melihat organ seksual anak perempuan dan wanita. Dia munkin juga menikmati memperlihatkan penisnya dan yang lebih umum, membayangkan peran yang dimainkannya sebagai pria seksual dewasa. Dia mulai bereksperimen dan memutar fantasi dimana dia menjadi pria heroik dan agresif, seringkali mengerahkan intensinya menuju objek cinta pertamanya, sang ibu. Dia mulai mencium ibunya dengan agresif, atau tidur bersamanya ketika malam, atau membayangkan menikahinya. Dia mungkin tidak memahami hubungan senggama, mungkin dia malah heran bagaimana cara melakukan hal itu dengan ibunya.

Biasanya anak laki-laki menyelesaikan konflik Odipal lewat serangkaian manufer pertahanan (defensive maneuvers) dia menghilangkan hasrat inses terhadap ibunya lewat represi- memendam perasaan seksual apapun terhadapnya kebawah alam sadarnya. Dia masih mencintai ibunya, tentu saja, namun sekarang dia melakukannya menurut yang diperbolehkan secara sosial saja. Cinta yang ‘disublimkan’-rasa cinta yang tinggi dan murni untuk menaklukkan krisis Odipal ini, akhirnya, si anak menginternalisasi superegonya. Artinya, dia mengadopsi pandangan moral orangtua sebagai pandangannya sendiri, dan dengan cara ini menciptakan sejenis polisi hati yang menjaganya melawan impuls dan hasrat berbahaya dalam dirinya. Superego mired dengan yang kita sebut suara hati- dia seperti suara dari dalam hati yang memperingatkan kita dan membuat kita mnerasa bersalah karena sudah berfikir dan bertindak buruk. Sebelum anak menginternalisasikan superegonya, dia hanya menderita dari kritikan dan penghukuman eksternal. Sekarang dia bisa mengkritik dirinya sendiri, dan dengan demikian memiliki benteng hati mlawan impuls-impuls terlarang.

Hasil – hasil yang tipikal

Ketika anak laki-laki menyelesaikan kompleks Oedipus di usia 6 tahun atau lebih, hasrat-hasrat persaingan dan insesnya dipendam untuk sementara waktu. Dia akan memasuki masa priode latensi, yang membuat dia relatif terbebas untuk sesaat dari kekhawatiran ini. Namun begitu, perasaan– perasaan odipal ini terus eksis di dalam ketaksadarannya. Mereka mengancam untuk mematahkan kesadaran sekali lagi di masa pubertas, dan membawa pengaruh kuat bagi kehidupan orang dewasa. Pengaruh ini memiliki banyak variasi, tapi uniknya dirasakan didua wilayah utama berikut: persaingan dan cinta.

Kompleks Odipus anak perempuan

Freud mencatat bahwa anak perempuan, diusia 5 tahun atau lebih, menjadi kecewa dengan ibunya. Dia merasa dicampakkan karena ibunya tidak lagi memberinya cinta dan perhatian yang konstan seperti yang diperolehnya dulu saat bayi dulu, terlebih jika adik bayi baru lahir, dia merasa sangat kekurangan dengan perhatian yang diterimanya. Lebihg jauh lagi, dia semakin marah dengan larangan ibu seperti masturbasi. Akhirnya dan yang paling mengecewakan, si gadis menemukan bahwa tidak memiliki penis-sebuah fakta yang membuatnya menyalahkan ibu.

Namun akhirnya anak perempuan mulai bisa memulihkan kebanggaan feminimnya. Ketika dia mengapresiasikan perhatian ayah. Sama seperti anak laki-laki, si anak perempuan menemukan bahwa dia tidak memiliki hak untuk memiliki objek cintanya yang baru ini. Dia menyadari bahwa dia tidak bias menikahi ayahnya, atau tidur bersamanya, atau dipeluk atau tidur sepanjang malam sesuka hatinya.

Menyelesaikan krisis Odipal

Karena dia takut kehilangan cinta kedua orang tuanya. Dari situlah dia merepresi semua hasrat insesnya, mengidentifikasi diri denga figur ibu dan membangun superego untuk mengecek dirinya terhadap impuls dan hasrat terlarang. Kalau begitu sama dengan anak laki-laki, anak perempuan menghibur dirinya dan kemudian meninggalkan fantasi-fantasi persaingan  dan inses.

4. Tahap Latensi

Dengan terciptanya pertahanan yang kuat terhadap perasaan-perasaan odipal, anak memasuki priode latensi, yang bertahan sekiar usia 11 tahun. Fantasi-fantasi seksual dan agretifitas sekarang tersembunyi dalam-dalam, di dalam tak kesadarannya. Freud melihat bahwa pada masa ini replesi seksualitas cukup luas, karena tidak hanya mencakup perasaan dan memori odipal, namun juga perasaan odan anal. Karena impuls dan fantasi yang berbahaya sudah tersimpan, anak tidak begitu terganggu dengan hal ini, dan periode laten relatif berjalan lembut. Anak sekarang bebas mengarahkan kembali energinya pada pengejaran pengejaran konkret yang bisa diterima secara sosial, seperti olahraga, permainan dan aktivitas-aktivitas intelektual.

5. Pubertas ( Tahap genital )

Pada fase pubertas, dimulai sekitar usia 11 tahun untuk anak perempuan, dan 13 tahun untuk anak laki-laki, energi seksual sudah terbentuk dalam kekuatan penuh orang dewasa dan mengancam untuk membobol pertahanan yang sudah dibangun selama ini. Sekali lagi, perasaan-perasaan odipal mengancam untuk membobol keluar menuju kesadaran, dan sekarang anak-anak muda ini sudah cukup besar untuk membawanya ke dalam realitas.

Freud mengatakan bahwa dari pubertas kedepan, tugas terbesar individu adalah ”membebaskan diri dari perwalian orangtua”. Bagi remaja laki-laki, ini artinya membebaskan ikatan dengan ibu dan menemukan wanita yang disukainya. Remaja pria juga harus menyelesaikan persaingannya dengan ayah dan membebaskan diri dari dominasi ayah atas dirinya. Untuk remaja putri, tugasnya sama, dia harus bisa memisahkan diri dari perwalian orangtua dan membangun hidupnya sendiri. Namun Freud mencatat  bahwa indepedensi tidak pernah datang dengan mudah. Selama bertahun-tahun sebelumnya kita sudah membangun ketergantungan yang kuat degan orangtua, dan sangat menyakitkan jika harus memisahkan diri secara emosional dari mereka. Untuk sebagian besar dari kita, tujuan indepedensi yang sejati tidak pernah bisa diraih seutuhnya.

ANA FREUD TENTANG MASA REMAJA

Ana Freud adalah putri dari Freud yang memberikan banyak kontribusi bagi study psikoanalisis tentang masa remaja. Titik awal Anna Freud sama dengan Freud: pengalaman masa remaja terhadap munculnya perasaan-perasaan Odipal yang membahayakan. Yang khas disini adalah anak muda sadar akan kebencian yang semakin besar terhadap orang tua dari jenis kelaminnya yang sama. Perasaan-perasaan inses terhadap orangtua berjenis kelamin beda masih tetap tak tersadari.

Anna Freud menyatakan bahwa ketika anak remaja mengalami kemunculan pertama kali perasaaan –perasaan Odipal ini lagi, impuls pertama mereka adalah melarikan diri. Mereka merasakan tegangan dan kecemasan terhadap kehadiran orangtua dan merasa aman jika terpisah dari mereka. Beberapa remaja biasanya melarikan diri dari rumah pada waktu-waktu ini, sementara yang lain masih tetap tinggal dirumah “mengikuti tingkah laku orang kebanyakan”. Mereka menutup diri dikamar dan merasa nyaman hanya jika berkumpul dengan teman-teman sebayanya.

Para remaja juga berusaha mempertahankan diri terhadap perasaan dan impuls mereka, tanpa mempedulikan objek-objek tempat mereka dilekatkan. Salah satu strateginya adalah Asketisme– berusaha mengabaikan semua kesenangan fisik. Anak laki dan perempuan bisa melakukan diet makanan yang sangat ketat Asketisme– berusaha mengabaikan semua kesenangan fisik, menolak kesenangan dari pakaian-pakaian yang menarik, tarian, musik, atau apapun yang menyenangkan atau sembrono-atau berusaha menguasai tubuh melalui latihan-latihan fisik yang melelahkan.

Pertahan lain terhadap impuls-impuls adalah intelektualisasi. Para remaja berusaha mengubah masalah seks dan agresi menjadi bentuk intelektual dan abstrak. Dia bisa mengkonstruksikan teori-teori elaboratif tentang hakikat cinta dan keluarga, tentang kebebasan dan otoritas. Meskipun teori-teori remaja bisa brilian dan orisionil, namun secara tersamar mereka memadukannya dengan upaya-upaya mengatasi masalah Odipal ditataran intelektual murni. Anna Freud juga mengamati  kalau gangguan masa remaja, pertahanan diri dan strategi yang penuh keputusasaan diperiode ini merupakan hal yang normal yang bisa kita prediksi. Biasanya dari tidak merekomendasikan remaja menjalani psikoterapi. Sebaliknya, Anna malah berfikir kalau remaja mestinya diberikan ruang dan waktu tersendiri untuk mencari solusinya. Namun begitu orang tua juga memerlukan bimbingan, karena terdapat “sejumlah situasi di dalam hidup yang lebih sulit mereka tangani ketimbang kesulkitan yang ditanggung remaja yang berusaha membebnaskan dirinya.

BAGIAN-BAGIAN JIWA

Setelah membahas tahap-tahap perkembangan mental manusia menurut Freud, selanjutnya akan dibahas tentang bagian-bagian jiwa. Konsep Freud yang paling terkenal adalah mengenai id, ego, dan superego.

Id

Id adalah bagian dari kepribadian yang awalnya disebut Freud “ketidaksadaran”. Ini adalah bagian kepribadian paling primitif, mengandung refleks-refleks dan dorongan-dorongan biologis dasariah. Freud membayangkan id seperti lubang yang “penuh kesenangan menggelegak”, semuanya saling mendesak untuk menyembul keluar. Jika diselidiki motivasinya, maka id bisa dikatakan didominasi oleh prinsip kesenangan. Tujuannya adalah memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit. Jadi id adalah sumber dan tempat dari dorongan biologis.

Bayi yang baru lahir dikendalikan oleh id, yang bekerja di bawah prinsip kesenangan (pleasure principle) dorongan untuk mencari kepuasan kebutuhan dan hasrat dengan segera. Ketika kepuasan tertunda, sebagaimana ketika bayi harus menunggu  untuk diberi makan , mereka mulai memandang dirinya terpisah dari dunia luar

Awalnya, aspek kejiwaan bayi didominasi hampir seluruhnya oleh id. Bayi sangat gelisah dengan sedikit saja ketidaknyamanan di tubuhnya sehingga berusaha melepaskan semua tegangan itu secepat mungkin. Contohnya, mereka harus menunggu sekian waktu untuk bisa diberi makan. Yang dilakukan id di titik ini kemudian adalah menghalusinasikan sebuah bayangan mengenai objek yang diinginkan, sehingga dia bisa memuaskan dirinya untuk sesaat. Dan kita dapat melihat fantasi-fantasi pemenuhan-keingian seperti ini bekerja ketika seseorang yang kelaparan menghalusinasikan bayangan makanan, atau ketika pemimpi yang kehausan memimpikan segelas air di tangan sehingga dia tidak perlu lagi bangun dan mengambil gelas sebenarnya. Fantasi-fantasi demikian adalah contoh utama dari yang disebut Freud proses berpikir primer.

Ego

Jika kita terus diatur oleh id, maka kita tidak akan hidup lama. Untuk bertahan, kita tidak bisa bertindak semata-mata di atas dasar halusinasi atau sekedar, mengikuti impuls-impuls. Kita harus belajar menghadapi realitas. Ego adalah mekanisme untuk beradaptasi terhadap realitas. Karena itu ego merepresentasikan akal-budi atau akal sehat, mulai berkembang pada tahun-tahun pertama kehidupan dan bertindak atas dasar prinsip realitas, mencari cara yang dapat diterima dalam pemuasan kebutuhan. Karena itu, ego biasanya menunda energy psikis yang berasal dari id sampai ia menemukan jalan yang paling dapat diterima oleh realitas. Tujuan ego adalah menemukan cara yang realistis utnuk memuaskan id yang dapat diterima oleh super ego yang berkembang pad usia 5 atau 6 tahun.

Contohnya, seorang anak laki-laki segera belajar bahwa dia tidak bisa mengambil makanan karena terdorong secara impulsif di mana pun dia melihat makanan. Jika dia mengambil makanan itu dari seorang anak yang lebih besar, maka dia akan kena pukul. Dia harus belajar memahami realitas sebelum bertindak. Bagian-bagian jiwa yang menunda impuls secara langsung dan memahami realitas seperti ini disebut ego. Ego bertindak sebagai mediator antara id dan superego.

Freud mengatakanbahwa jika id “berisi hasrat-hasrat yang tak terjinakkan”, maka ego “berisi penalaran dan pemahaman yang tepat”. Karena ego memahami realitas, Freud menyebutnya mengikuti prinsip realitas. Ego berusaha menekan tindakan sampai dia memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat, memahami apa sudah terjadi di dalam situasi-situasi serupa di masa lalu, dan membuat rencana-rencana yang realistik ke masa depan. Cara berpikir yang menggunakan penalaran seperti ini disebut proses berpikir sekunder, mencakup apa yang umumnya kita kenal sebagai proses kognisi atau perseptual. Awalnya fungsi ego ini berkaitan dengan tubuh atau aspek motorik. Contohnya, ketika anak pertama-tama belajar berjalan, dia menahan impuls untuk melakukan gerakan acak, memahami di mana dia harus menghindari tabrakan, dan melatih control ego atasnya.

Freud menekankan bahwa meskipun ego berfungsi secara independen dari id, namun dia meminjam semua energinya dari id. Dia membayangkan hubungan ego dan id  seperti penunggang dan kudanya. “Kuda menyediakan energy gerak, sementara penunggang memiliki hak untuk memutuskan tujuan  dan mengarahkan gerakan hewan yang sangat kuat ini”.

Superego

Ego kadang-kadang disebut sebagai satu di antara sejumlah “system kontrol” kepribadian (Redl dan Wineman, 1951). Ego mengontrol hasrat yang buta dari id untuk melindungi organisme dari luka. Kita sudah menyebutkan bagaimana anak laki-laki harus belajar menahan impuls untuk mengambil makanan sampai dia bisa menentukan apakah tindakan ini aman untuk dilakukan  di dalam realitas. Namun kita juga mengontrol tindakan kita karena alasan-alasan lain. Kita menahan diri dari tindakan mengambil barang milik orang lain karena alasan-alasan lain. Kita menahan diri dari tindakan mengambil barang milik orang lain karena kita percaya tindakan seperti itu keliru secara moral. Standar kita tentang benar dan salah mendasari system kontrol kepribadian yang kedua, disebut superego. Menurut Miller dalam psikologi perkembangan anak, superego mewakili nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat yang disampaikan oleh orang tua atau anggota masyarakat lainnya.

Freud menulis tentang superego seolah-olah dia mengandung dua bagian. Salah satu bagian disebutnya suara hati. Ini adalah bagian superego yang bersifat menghukum, negatif dan kritis  yang mengatakan pada kita apa yang tidak boleh dilakukan dan menghukum kita dengan rasa bersalah jika kita melanggar tuntutannya. Sedangkan bagian yang lain disebutnya ego ideal, karena terdiri atas aspirasi-aspirasi positif. Tapi ego ideal bisa juga lebih abstrak. Dia berisi ideal-ideal positif kita seperti keinginan untuk menjadi lebih murah hati, berani, atau berdedikasi tinggi bagi prinsip-prinsip keadilan dan kebebasan.

Peran utama ego

Di dalam analisis terakhir Freud, kemampuan kita menghadapi hidup –yaitu keseimbangan jiwa kita- terletak pada kemampuan ego menghadapi beragam tekanan yang menimpanya. Lebih spesifiknya, ego adalah bagian eksekutif yang harus berfungsi seperti tiga “penguasa tiranik” –id, realitas dan superego. Ego akhirnya harus memenuhi tuntutan-tuntutan biologis id, namun dengan suatu cara yang menghargai  realitas eksternal dan tidak mengganggu kemampuan superego mempersepsi. Tugas ini sulit karena ego pada dasarnya lemah. Seperti disebutkan di atas, ego sendiri tidak memiliki energy dalam dirinya selain meminjamnya dari id.

Di kebanyakan tulisan Freud, ego tampaknya menganggap id dan superego sebagai musuh, petarung kuat yang bagaimanapun harus ditaklukan dan dikendalikan. Namun begitu Freud juga mengakui kebutuhan vital ego terhadap id dan superego, dan beberapa pengikut Freud yang paling getol telah mengelaborasikan dan cara-cara positif ego memanfaatkan bagian-bagian jiwa ini.

Mimpi

Freud sangat tertarik kepada mimpi, yang baginya bisa mengatakan banyak hal kepada kita tentang cara kerja ketaksadaran yang misterius. Namun di dalam mimpi, ketiga bagian jiwa ini sebenarnya bekerja semuanya.

Mimpi dimulai sebagai keinginan-keinginan dari id. Contohnya, seorang anak yang lapar bermimpi bahwa dia sedang menyantap makanan lezat.mimpi seperti itu cukup lugu dan langsung mengarahkan keinginan id. Namun kebanyakan harapan id bertentangan dengan standar-standar superego, jadi ego memerlukan sejumlah distorsi atau samaran terhadap keingingan asli tersebut sebelum mengizinkan mimpi muncul ke permukaan menuju kesadaran.

Di dalam psikoanalisis, pasien diminta menceritakan dengan bebas mimpi-mimpinya. Dia diminta mengatakan apa saja yang muncul dibenaknya terkait dengan setiap aspek mimpi tersebut. Tentu saja pasien tida merasa kesulitan untuk berasosiasi bebas, karena tidak harus menyensor pikiran dan fantasi yang “immoral” terlebih dahulu, sedangkan psikoanalisisnya dapat menggunakan proses tersebut untuk melihat makna yang melandasi mimpi-mimpinya tersebut

Mekanisme Pertahanan Diri

Ancaman dan bahaya yang datang dari id dan lingkungan secra kosntan dapat menimbulkan  kecemasan. Sedapat mungkin ego menanggulanginya secara realistis dengan menggunakan keterampilan pemecahan masalah yang dimilikinya. Namun apabila kecemasan yang dialami sangat berlebihan sehingga mengancam akan melanda ego, maka dipergunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menghadapinya. Mekanisme pertahanan diri akan mengontrol dan mengurangi kecemasan dengan cara mengubah-ubah realitas. Walaupun cara ini kurang tepat dan hanya akan memuaskansebagian dari dorongan yang menuntut pemuasan, namun bagi individu yang sedang cemas keadaan ini lebih menguntungkan daripada tidak. Berikut adalah beberapa mekanisme pertahanan diri yang banyak digunakan.

1. Regresi

Regresi adalah suatu keadaan dimana seseorang kembali pada tingkat perkembangan sebelumnya. Jadi kembali pada ciri-ciri perilaku pada tingkat usia sebelumnya. Misalnya anak sudah duduk di Taman Kanak-kanak tetapi kembali menghisap jari dan mengompol. Bila krisis telah berlalu dan kecemasan hilang biasanya perilaku yang kurang sesuai ini akan menghilang.

2. Proyeksi

Menyalahkan orang lain atau objek lain di lingkungannya atas pikiran atau perasaan yang ada pada dirinya sendiri yang sebetulnya tidak dapat diterima olehnya. Contohnya, seorang anak Taman Kanak-kanak yang iri hati kepada adiknya, tetapi malah mengatakan bahwa adiknya yang iri hati.

3. Reaksi Formasi

Mengganti perasaan yang dapat menimbulkan kecemasan dengan perasaan yang sebaliknya. Contohnya: Budi seorang anak Taman Kanak-kanak, mengatakan bahwa ia tidak mau bermain dengan Andi karena ia tidak menyukai Andi. Padahal sebetulnya ia suka bermain dan berkawan dengan Andi tetapi takut kalau-kalau Andi tidak menyukainya dan tidak mau bermain bersamanya.

4. Represi

Menghambat pikiran-pikiran yang mencemaskan agar tidak muncul ke tingkat kesadaran. Misalnya, untuk menghindari kecemasan kita melupakan suatu peristiwa yang menyakitkan bagi kita. Kita menganggap bahwa kalau kita melupakan peristiwa tersebut, maka peristiwa itu tidak akan menyakiti kita lagi.

5. Sublimasi

Memberi kesempatan untuk menyalurkan dorongan-dorongan seksual atau agresifitas ke dalam kegiatan yang secara sosialdapat diterima. Misalnya melalui kegiatanbelajar, bekerja, olah raga dan hobi.

6. Fiksasi

Yaitu bula salah satu komponen dalam perkembangan kepribadian seseorang terhenti. Fiksasi dapat muncul apabila suatu perilaku itu dirasa sangat memuaskan sehingga si anak mempertahankannya. Misalnya anak sangat menyukai minum susu dari botol dengan menggunakan dot sehingga sukar melepaskan kebiasaan tersebut walaupun usianya sudah lebih besar.

TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ERIC H. ERIKSON

Teori perkembangan kepribadian (pertumbuhan ego) yang dikemukakan Erik Erikson membawa aspek kehidupan sosial dengan menganggap fungsi budaya lebih realistis karena didasarkan pada tiga alasan:

1. Ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia.

2. Perubahan terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan.

3. Menggambarkan secara eksplisit gabungan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.

Teori Erikson ini banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia dilihat dari pertumbuhan egonya. Dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme sehingga menjadi matang secara fisik dan psikologis. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic, yaitu :

(1) Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.

(2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Tahapan perkembangan kepribadian/psikososial manusia[1] menurut Erikson :

Developmental Stage Basic Components
Infancy (0-1 thn)Early childhood (1-3 thn)Preschool age (4-5 thn)

School age (6-11 thn)

Adolescence (12-10 thn)

Young adulthood ( 21-40 thn)

Adulthood (41-65 thn)

Senescence (+65 thn)

Trust vs MistrustAutonomy vs Shame, DoubtInitiative vs Guilt

Industry vs Inferiority

Identity vs Identity Confusion

Intimacy vs Isolation

Generativity vs Stagnation

Ego Integrity vs Despair

Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan) à 0 – 1 tahun (infancy)

Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.

Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk menggantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya. Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan selalu curiga kepada orang lain.

Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu à 1 – 3 tahun (early childhooh)

Tahap pertama ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.

Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan.

Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman  baru yang berorientasi pada suatu tindakan/kegiatan  yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima kontrol dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain. Oleh karena itu orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini harus “tegas namun toleran”, tidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya.

Keseimbangan diperlukan di sini karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri. Sedikit rasa malu dan ragu-ragu, sangat diperlukan bahkan memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak, karena tanpa adanya perasaan ini, anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif yang disebut Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati), sebaliknya apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak baik, karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut Erikson compulsiveness. Sifat inilah yang akan membawa anak selalu menganggap bahwa keberadaan mereka selalu bergantung pada apa yang mereka lakukan, karena itu segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. Apabila tidak dilakukan dengan sempurna maka mereka tidak dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan ragu-ragu.

Jikalau dapat mengatasi krisis antara kemandirian dengan rasa malu dan ragu-ragu dapat diatasi atau jika diantara keduanya terdapat keseimbangan, maka nilai positif yang dapat dicapai yaitu adanya suatu kemauan atau kebulatan tekad. Meminjam kata-kata dari Supratiknya yang menyatakan bahwa “kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima peraturan hukum dan kewajiban”.

Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu dengan adanya sifat bijaksana dan legalisme. Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamannya untuk dapat menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak atau perilaku orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam pola pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalisme yakni merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun pada penerapannya menurut Alwisol mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu tanpa ampun, dan tanpa rasa belas kasih.

Inisiatif vs Kesalahan 4 – 5 tahun (preschool age)

Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.

Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition). Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalahan.

Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Kerajinan vs Inferioritas 6 – 11 tahun (School age)

Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.

Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka.  Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman. Mereka yang mengidap sifat ini oleh Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah inferioritas”. Maksud dari pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil pada usaha pertama, maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.

Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal dengan istilah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat. Peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.

APLIKASI PSIKOANALISIS

Ranah aplikasi psikoanalisis cukup bevariasi, yang terpenting diantaranya aplikasi di bidang psikopatologi, psikoterapi, psikosomatis, dan pengasuhan anak. Namun pada dasarnya psikoanalisis dapat memberi sumbangan dalam berbagai bidang kemanusiaan, seperti masalah persekolahan, narapidana, kemiliteran, advertensi, sosial-antropologi, kreativitas, seni, dan sebagainya.

Psikopatologi

Psikoanalisis memahami psikopatologi sebagai masalah perkembangan, akibat gangguan semasa melewati tahap-tahap psikoseksual. Perkembangan kepribadian dipandang sebagai sesuatu yang kumulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang pengaruhnya tersa sampai dewasa. Orang dewasa yang fondasi kepribadiannya lemah bisa menjadi mengalami psikopatologi. Berikut dinamika jiwa psikoanalisis pada beberapa jenis psikopatologi:

1. Histeria, disebut juga conversion disorder: kelumpuhan tanpa sebab-sebab fisik, ini terjadi karena adanya transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik. Contoh: seorang remaja menjadi tuli karena ayahnya sangat keras dalam mengkritik/memarahi tanpa alasan yang jelas.

2. Fobia, ketakutan yang sangat tidak pada tempatnya, ini terjadi karena dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual atau kecemasan akibat peristiwa traumatik. Contoh: seorang wanita yang fobia naik kapal, karena pernah mengalami perkosaan di sebuah kapal.

3. Obsesi-kompulsi, mempunyai tema yang sangat bervariasi. Tema kebersihan, penyakit, kekejaman, dilatar belakangi oleh konflik seksual pada fase anal. Contoh: karena buang air kecil sembarangan seorang ayah menakut-nakuti anaknya dengan pisau yang kebetulan sedang dibawanya, setelah anak ini dewasa dan menjadi ayah yang terobsesi membunuh anak yang dicintainya. Dia sembunyikan semua senjata tajam di tempat tertentu, dan terus menerus dicek-nya (kompulsi) apakah pisau itu masih berada di sana.

4. Depresi: perasaan tidak mampu, tidak kompeten, kehilangan harga diri, dan merasa bertanggung jawab terhadap semua kejadian buruk (pada dirinya dan lingkungannya). Ini terjadi karena kehilangan cinta pada Oedipus complex, yyang membuat orang marah pada diri sendiri, karena dia kehilangan cinta dari orang tua, teman, bahkan dari negaranya.

5. Ketagihan obat/alkohol: Interpretasi psikoanalisis terhadap ketagihan obat/alkohol bervariasi. Freud menganggap adiksi dilatarbelakangi oleh insting mati. Pakar lain mengatakan adiksi menjadi salah satu cara mengalahkan kontrol superego. Orang menjadi bebas memperoleh apa yang diinginkannya (walau hanya sebentar). Ada juga yang menganalisis botol minuman sebagai representasi dari buah dada ibu pada fase oral.

Psikoterapi

Aplikasi psikoanalisis yang terpenting adalah psikoterapi. Ini bisa dipahami karena pada dasarnya Freud mengembangkan teori dari praktik psikoterapi yang dilakukannya. Tujuan dari psikoterapi bukan semata-mata menghilangkan sindrom yang tidak dikehendaki, tetapi terutama bertujuan memperkuat ego sehingga mampu mengontrol impuls insting, dan memperbesar kapasitas individu untuk mencintai dan berkarya. Klien belajar bagaimana mensublimasi impuls agresi dan impuls seksual, belajar bagaimana mengarahkan keinginan dan bukan malahan diarahkan keinginan. Adapun teknik yang dipakai dalam psikoterapi adalah sebagai berikut:

1. Asosiasi Bebas: Klien selama sesi terapi mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya, tidak peduli hal itu remeh, memalukan, tidak logis, dan atau kabur. Dari ungkapan kesadaran tanpa sensor ini terapis mencoba memahami masalah kliennya. Ada tiga asumsi yang menjadi dasar free association: 1). apa saja yang dikatakan dan dilakukan seseorang sekarang, mempunyai makna dan berhubungan dengan perkataan dan perbuatannya di masa lalu, 2). Materi taksadar berpengaruh penting terhadap tingkah laku, dan 3). Materi taksadar dapat dibawa ke kesadaran dengan mendorong ekspresi bebas setiap kali mereka ke dalam pikiran. Asumsi ini menganggap dengan teknik asosiasi bebas, terjadi asosiasi antara even nyata dengan gambaran mental (ingatan dan mimpi) yang dapat mengungkap materi yang direpres. Jadi asosiasi bebas tidak benar-benar bebas, tetapi secara khusus membuat hubungan-hubungan, dan alurnya ditentukan oleh proses taksadar yang aktif saat itu. Menurut Freud, walaupun pasien menghalangi topik tertentu dan berusaha menyembunyikannya, suatu ketika terbentuk rantai asosiasi yang membuat terapis dapat memahami konflik mental dan emosional pasien itu.

2. Analisis mimpi: Ketika tidur, kontrol kesadaran menurunn dan mimpi adalah ungkapan isi-isi taksadar karena turunnya kontrol kesadaran itu. Klien melaporkan apa yang dimimpikannya dalam asosiasi bebas, menjadi bahan yang kaya untuk dianalisis terapis.

3. Freudian slip, meliputi: salah ucap, salah membaca, salah dengar, salah meletakkan objek, dan tiba-tiba lupa. Semuanya itu menurut Freud bukan kejadian kebetulan, tetapi kejadian yang dipengaruhi oleh insting ketidaksadaran. Analisis akan dapat mengungkap gambaran mental yang ada dibalik slip itu.

4. Interpretasi: mengenalkan kepada klien makna yang tidak disadarinya dari pikiran, perasaan dan keinginannya.

5. Analisis resistensi: resistensi adalah mekanisme pertahanan klien, dan analisis akan mengungkap unsur yang penting dari masalah yang ingin disembunyikan klien.

6. Transference: pengungkapan isi-isi ketidak sadaran yang tersimpan sejak anak-anak, dengan memakai terapis sebagai medianya.

7. Working through: terus menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulang resistensi dan tranferensi, pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan.

Psikosomatis

Pada histeria, gangguan fisiknya adalah kelumpuhan, sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan tingkah laku. Psikosomatis adalah patologi organik yang diawali atau kemudian gejalanya diperberat oleh stimulasi lingkungan nonpatologik. Gangguan alergi, eksim, asma, diare yang psikosomatis, ketika diobati memakai mediko-kimia dapat sembuh, namun tidak sempurna atau mudah kambuh dengan sebab yang tidak berkaitan dengan penyakit itu, dan membantu pengobatan dengan psikoterapi agar kesembuhan menjadi permanen.

Pengasuhan anak

Perhatian terhadap pertumbuhan anak sampai usia balita, secara langsung atau tidak langsung merupakan sumbangan penting dari psikoanalisis. Konsep seksual infantil dan odipus kompleks memang banyak mendapat kritikan; namun bahwa perkembangan masa kecil merupakan pondasi kepribadian, umumnya diterima, dengan berbagai variasi. Paling tidak, psikoanalisis mendorong orang tua untuk menghindari kemungkinan terjadi frustasi, jangan ada konflik, agar terhindar dari patologi psikis. Lakukan toilet training secara lembut, lakukan penanaman moral secara bijak, lakukan pengenalan peran seksual pada saat yang tepat, agar kepribadian anak berkembang sempurna.

KESIMPULAN

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sasaran dari psikoanalisis adalah ”untuk memahami diri sendiri”. Kita adalah pemimpin, pemandu bagi diri sendiri untuk menjalani hidup di dunia ini, untuk membuat keputusan-keputusan, untuk mempunyai prioritas, untuk memiliki nilai. Jika diri ini memutuskan dan bertindak sesuatu yang tidak dipahami sebagaimana mestinya, maka tindakan dan keputusan ini akan terlaksana setengah membabi buta atau dalam kondisi setengah sadar.

Manusia merupakan bagian dari kosmos ini. Oleh karena itu, eksistensi dari aspek lahir manusia berpengaruh pada kestabilan dunia ini. Sedangkan aspek lahir itu sendiri dipengaruhi oleh kesadaran bathin yang tak terlihat. Ketika kita telah mencapai ranah yang tak terlihat, kita akan mendapati energi dalam kondisi termurninya. Karena kekuatan terhebat di alam adalah kekuatan yang tak terlihat.

DAFTAR PUSTAKA

Crain, Willliam, 2007. Teori Perkembangan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Hadis, F.A, 1996. Psikologi Perkembangan Anak. Depdikbud: Jakarta.

Santrock, J. W, 2007. Perkembangan Anak (edisi 11 Jilid 1). Erlangga: Jakarta

Gunarsa, Singgih, 1997. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. PT. BPK Gunung Mulia: Jakarta.

Fromm, Erich, 2002. The Art of Listening. Jendela: Yokyakarta.

Seefeldt C.& Wasik, B, 2008. Pendidikan Anak Usia Dini. Indeks: Jakarta.

Internet


[1] “Childhood and Society”, 1963, Erikson

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s