Arsip untuk 2011

Hakikat Pendidikan

Hakikat pendidikan  merupakan suatu usaha memberdayakan potensi kemanusiaan (Human Capacity) secara optimal dan terintegrasi untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dengan ciptaan Tuhan lainnya dalam usaha meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan yang maha Esa.

Asumsi-asumsi Hakikat Manusia dalam Pendidikan

Hakikat manusia yakni adalah sebagai berikut:

1. Manusia pada hakikatnya adalah spiritual, setiap manusia memiliki tanggung jawab kekhalifahan dimuka bumi ini sebagai wakil Tuhan.

2. Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya dengan keridhaan Allah, dalam artian setiap yang dijalani oleh manusia bernilai ibadah.

3. Manusia merupakan makhluk sosial yang berbahasa.

4. Manusia mempunyai tenaga yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi semua kebutuhannya.

5. Merupakan individu yang rasional dan bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

6. Setiap manusia mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif serta mampu mengatur dan mengontrol dirinya.

7. Selalu mengalami proses perkembangan secara terus menerus selama hidupnya.

8. Merupakan individu yang selalu melibatkan dirinya dalam membantu orang lain dan membuat dunia lebih menyenangkan untuk ditempati.

9. Merupakan mahkluk Tuhan yang memungkinkan untuk dapat menjadi baik ataupun sebaliknya.

10. Merupakan individu yang sangat dipengaruhi lingkungan, terutama lingkungan sosial, serta dapat berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

Pengertian Sistem:

- Sistem suatu strategi menyeluruh atau rencana dikomposisi oleh satu set elemen, yang harmonis, merepresentasikan kesatuan unit, masing-masing elemen mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis. Made pidarta (Mc Ashan: 1983)

- Sementara itu Made Pidarta (Immegart: 1997) mengatakan esensi sistem merupakan suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya. Adapun komponen-komponen dalam pendidikan yakni:

1. Pesan, merupakan materi dari pelajaran.

2. Orang, yang menyampaikan pesan atau penerima pesan.

3. Bahan, untuk menyimpan pesan.

4. Alat, untuk menyampaikan pesan dari bahan.

5. Teknik, cara atau metode dalam penyampaian pesan.

6. Lingkungan.

Jadi sistem adalah suatu kesatuan komponen yang saling terkait untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu sistem pendidikan adalah suatu kesatuan komponen yang terdiri dari pesan, orang, bahan, alat, teknik, serta lingkungan yang saling terkait dalam rangka mencpai suatu tujuan pendidikan. Semua yang ada di dunia bisa dipandang sebagai suatu sistem, mulai dari yang besar seperti tata surya, bumi, Negara, orang, peredaran darah, sampai satu biji gigi dapat dipandang atau dipikir sebagai suatu sistem. Begitu pula pendidikan dapat dilaksanakan sebagai sistem, kalau suatu sekolah dipandang sebagai sistem, maka sistem-sistem lain yang ada di sekitarnya seperti perumahan, pasar, pertokoan, ladang, sungai, jalan, dan sebagainya disebut suprasistem. Antara sistem dengan suprasistemnya ada kalanya berhubungan dan ada kalanya tidak.

Bila sistem itu berhubungan dengan suprasistemnya, maka disebut sistem terbuka. Sebaliknya bila tidak, maka disebut sistem tertutup. Dalam hal ini pendidikan tergolong sistem terbuka. Untuk itu, pendidikan disebut sebagai sistem berada bersama, terikat, dan tertenun didalam suprasistemnya yang terdiri dari tujuh sistem tersebut di atas. Ini berarti untuk membangun suatu lembaga lembaga pendidikan lama, tidak dapat memisahkan diri dari suprasistem tersebut.

Ciri-ciri sistem terbuka adalah sebagai berikut: Made Pidarta (Tanner: 1981)

- Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar.

- Memiliki pemroses.

- Menghasilkan output atau mengekspor materi, energi, dan informasi.

- Merupakan kejadian yang berantai.

- Memiliki negativeentropy, yaitu suatu usaha untuk menahan kepunahan dengan cara membuat impor lebih besar daripada ekspor.

- Mempunyai alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri.

- Ada kestabilan yang dinamis.

- Memiliki deferensiasi, yaitu spesialisasi-spesialisasi.

- Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang sama.

Konsep-konsep Pendidikan

Pendidikan

Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pendidikan: pengertian disini mengacu kepada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi.

2. Teori Umum Pendidikan: konsep ini berawal dari pandangan John Dewey, seorang ahli pendidikan di abad-19 di Amerika serikat. Dia mengatakan pendidikan itu adalah The General Theory of education. Di bagian lain dia juga mengatakan Philosophy is the General Theory of Education. (TIM MKDK, 1990). Disini tampak bahwa John Dewey tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan, atau filsafat pendidikan disamakan dengan teori pendidikan. Sebab itu ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.

3. Ilmu Pendidikan: Pandangan ini berasal dari Eropa Barat, khususnya Belanda dengan ahli pendidikannya yang terkenal bernama Langeveld. Dia mengatakan bahwa pendidikan adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju arah kedewasaan dalam artian dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, (1991: 232) Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan latihan. Sedangkan dalam Bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata “pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” dan “agogos” artinya membimbing, sehingga “pedagogi” dapat di artikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak.

Kemudian, Wijaya (Susetyo, 2005 145) mendefinisikan pendidikan adalah proses awal usaha untuk menumbuhkan kesadaran sosial pada setiap manusia sebagai pelaku sejarah. Lalu, Gunawan (2000: 54) berpendapat bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Sementara itu dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses awal untuk menumbuhkan kesadaran pada setiap manusia, yaitu berupa sosialisasi yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam pembelajaran yang efektif dengan tujuan mengembangkan potensi anak didik yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Selain itu pendidikan juga harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang berada di tengah masyarakat.

Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pengajaran

Proses atau aktivitas yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan yang meliputi perancangan, pengelolaan, penyampaian, bimbingan dan penilaian.

Pelatihan

Pelatihan merupakan suatu pengajaran menuntut agar melakukan apa yang telah diajarkan.

Sedangkan menurut Amstrong (1991) “training is planned process to modify attitude, knowledge or skill behavior through learning experience to achieve effective performance in an activity or of activities”.

Pengasuhan

Pengasuh erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya.

Stimulasi Lingkungan

Rangsangan yang muncul karena pengaruh lingkungan. Rangsangan ini bisa bersifat baik dan juga tidak baik.

LANDASAN AGAMA DALAM PENDIDIKAN

PANDANGAN UMUM AGAMA TERHADAP PENDIDIKAN

Landasan Agama dalam pendidikan tersebut memberikan keterangan bahwa agama berasal dari wahyu berarti berasal dari tuhan (dalam hal ini agama bersifat residental). Dengan landasan ini diharapkan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku pada agama. Landasan agama dalam pendidikan juga dapat didefinisikan sebagai asumsi-asumsi yang bersumber dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Manusia sebagai subjek maupun objek dari pendidikan harus selalu mempertimbangan landasan fundamental ini dalam melakukan proses pendidikan.

Manusia adalah makhluk Tuhan YME. Hal ini jelas bagi kita atas dasar keimanan; dalam konteks filsafat, hal ini didasarkan pada argumen kosmologis; sedangkan secara faktual terbukti dengan adanya fenomena kemakhlukan yang dialami manusia.

Manusia adalah kesatuan badani-rohani. Sebagai kesatuan badani-rohani, manusia hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, insting, nafsu, serta tujuan hidup. Manusia memiliki potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbuat baik, cipta, rasa, karsa, dan berkarya. Dalam eksistensinya manusia memiliki dimensi individualitas, sosialitas, kultural, moralitas, dan religius. Adapun semua itu menunjukkan adanya dimensi interaksi atau komunikasi, historisitas, dan dimensi dinamika.

Idealnya manusia mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, hidup sehat, mampu mengendalikan insting dan hawa nafsunya, serta mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal; bebas, bertanggung jawab serta mampu mewujudkan peranan individualnya, mampu melaksanakan peranan-peranan sosialnya, berbudaya, bermoral serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Sehingga dengan demikian ia mampu berinteraksi atau berkomunikasi secara mono-multi dimensi, serta terus menerus secara sungguh-sungguh menyempurnakan diri sebagai manusia untuk mencapai tujuan hidupnya (dunia-akhirat).

Aliran filsafat yang bercorak keagamaan ikut pula mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan, baik pada permulaan filsafat yunani komo maupun/terutama pada era pengaruh filsafat yang dipengaruhi agama Hindu, Islam, Katolik, Protestan dan sebagainya. Meskipun seringkali terjadi pertentangan antara agama dan filsafat, namun terdapat beberapa tokoh besar yang mengemukakan pandangan filosofis yang berpijak pada filsafat agama, seperti Ibnu Sina (980-1037), Al-Ghazali (1058-1111) dan Ibnu Rusy (1126-1198) dari agama Islam, St. Thomas Aquinas (1225 – 1274) dari agama Khatolik yang dapat dianggap puncak skolastik Kristen dengan filsafat neothomisme, Laotse dari Tacis di China, Rabindranat Tagore di India, dan sebagainya. Pokok pendapat aliran ini yakni Tuhan adalah pencipta alam semesta termasuk manusia sebagai ciptaan tertinggi. Hakikat manusia ialah kesatuan tubuh dan jiwa, manusia dapat mencapai pengetahuan mutlak asalkan dengan menggunakan akal dan iman, dan sebagainya (Redja Mulyahardjo, 1992). Pendapat-pendapat tersebut mempengaruhi pendidikan, khususnya tentang hakikat manusia diupayakan perwujudannya melalui pendidikan.

Pandangan Masing-Masing Agama Terhadap Pendidikan

Pendidikan dalam Agama Hindu

Tujuan Agama Hindu

“Moksàrtham Jagadhitàya ca iti Dharma”

Moksartham: kebahagian setelah meninggal   (bersatunya jiwa dengan Tuhan)

Jagadhita: Kebahagiaan dan Kesejahteraan di dunia

Dharma: Kebenaran

Di Indonesia tujuan pendidikan mengantarkan anak menuju tingkat kedewasaan.

Kata dewasa berasal dari kata “devasya” (bahasa sansekerta) artinya anak diberikan pendidikan agar memiliki sifat-sifat dewa (sifat yang penuh kemuliaan). Diharapkan seorang anak selalu merenungi diri akan esensi kehidupannya.

Tri Kaya Parisudha

Tri: tiga, Kaya: perbuatan, Parisudha: amat disucikan, artinya “tiga perilaku dasar yang harus disucikan”, Terdiri dari: Manacika (pikiran), Wacika (perkataan), Kayika (perbuatan).

Unsur Trikāya Pariśudha Indikator
Mānacika Tidak menginginkan mendapatkan sesuatu dengan cara-cara yang melanggar aturan.Tidak menaruh prasangka, curiga dan berpikir buruk terhadap orang lain.

Yakin terhadap berlakunya hukum sebab akibat dalam kehidupan sosial dan pribadi.

Mengembangkan keingintahuan, berpikir ilmiah, kritis dan kreatif.

Menghargai pandangan orang lain dan siap melakukan sharing ide/gagasan.

Tangguh menghadapi cobaan dan tantangan hidup.

Wācika Tidak berkata kasar dan menyakiti hati orang lain.Tidak mengucapkan kata-kata fitnah dan bohong.

Berani dan santun dalam mengajukan pandangan, pertanyaan, dan argumentasi.

Kāyika Tidak melakukan kekerasan fisik dan psikis terhadap orang lain.Tidak mendapatkan sesuatu (harta benda dan kedudukan) dengan cara tidak halal.

Tidak melakukan perbuatan yang mengarah pada kebebasan seks dan zinah.

Menunjukkan prilaku hemat terhadap uang, waktu, dan energi.

Bekerja sama dalam memecahkan masalah.

Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial-alamiah yang baru.

Bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya.

Melakukan kegiatan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Tri Hita Karana

Tri: tiga, Hita: Kebahagiaan, Karana: penyebab

Artinya “ Tiga penyebab kebahagiaan manusia”, yaitu:

a.  Prahyangan (hubungan harmonis dengan Tuhan)

b. Palemahan (hubungan harmonis dengan lingkungan alam)

c. Pawongan (hubungan harmonis dengan sesama manusia)

Upacara Sarira Sayskara

Konsep Pendidikan melalui ”Upacara Penyucian Diri” yang disebut Upacara Sarira Sayskara. Upacara penyucian diri ini merupakan sebuah sarana sekaligus wadah untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan karena di dalamnya ada sebuah penyampaian pesan-pesan mulia dari keluarga maupun masyarakat kepada yang diberikan ataupun yang melakukan upacara tersebut.

Pendidikan Dalam Agama Budha

Budha Dhamma

Ajaran Sang Budha dalam Buddha Dhamma ini terangkum dalam Empat Kesunyataan Mulia. Ini menjadi dasar yang sangat perlu dikuasai umat budha, yaitu :

1. Hidup penuh dengan ketidakpuasan.

2. Ketidakpuasan bersumber dari keinginan dan harapan kita sendiri.

3. Memiliki keseimbangan bathin untuk menemukan kebebasan menyatu dengan Sang Guru Agung (Nirwana).

4. Jalan mulia berunsur  delapan (pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, cara hidup benar, daya upaya benar, konsentrasi benar, dan samadhi benar).

Sila (Kemoralan)

Dasar kemoralan Buddhis adalah Pancasila, yaitu:

1. Tidak melakukan pembunuhan

2. Tidak melakukan pencurian

3. Tidak melakukan pelanggaran kesusilaan

4. Tidak berbohong

5. Tidak mabuk-mabukkan

Samadhi (Meditasi)

1. Mengatur keadaan pikiran dan dikendalikan sehingga keseimbangan terjadi antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

2. Latihan menyeimbangkan pikiran dengan memposisikan bidang pikiran pada kondisi positif

3. Merelaksasi tubuh

4. Menghindari gangguan psikologis

5. Merealisasikan harap

Pendidikan Dalam Agama Islam

Pokok-Pokok Ajaran Islam

Islam Sebagai Agama Tauhid

Suatu keyakinan bahwa Tuhan itu Esa segalanya. Allah Swt. tempat meminta makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang mampu menyamainya. Allah Esa dalam zatnya, artinya zat Allah itu satu, tidak terbilang dan tersusun oleh unsur-unsur yang berbeda.

Manusia adalah sama di sisi Allah

Semua manusia adalah sama di sisi Allah, yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya. Seseorang dikatakan iman dan taqwa apabila ia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Iman, Islam, Ihsan (3 pokok ajaran Islam)

Dasar dan Tujuan Pendidikan

Dasar pendidikan: Ajaran Islam

1. Tauhid

2. Iman, Islam, Ihsan

3. Keyakinan (termasuk rukun iman)

4. Melaksanakan syariat Islam

5. Amal sholeh

Tujuan pendidikan dalam Islam untuk meningkatkan pengabdian yang dilihat 2 aspek:

1. Hubungan manusia dengan Alloh

2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Yang keduanya bertujuan akhir untuk kebahagiaan dunia akhirat.

Tujuan Penciptaan Manusia

1. Sebagai Hamba/menghamba kepada Allah SWT.

2. Khalifah Allah di muka bumi.

Sumber-sumber  Pendidikan:

1. Al-Qur’an

2. Al-Hadist

3. Ijtihad

4. Ijma’

Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.

Pendidikan dalam Agama Kristen

Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan. Pemeluk agama Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah Tuhan dan Juru Selamat, dan memegang ajaran yang disampaikan Yesus Kristus.

Di dalam kitab Amsal dijelaskan “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan….”(Ams. 1:7). Pengetahuan di sini bukan sekedar berarti ilmu, melainkan mengetahui yang baik. Takut akan Tuhan yang dimaksud adalah bukanlah takut dalam arti ngeri atau gentar, melainkan dalam arti hormat atau taat. Menghormati Tuhan berarti mengindahkan dan menghargai petunjuk Tuhan.

Sejarah Nilai Kekristenan dalam Konteks Pendidikan

Adam diberi mandat untuk memberi nama pada hewan-hewan di taman Eden (Firdaus) à menguasai ilmu tata nama hewan (ilmu biologi)

Adam memetik dan memakan setiap buah yang ada di taman à menguasai teknologi.

Adam dididik oleh Allah untuk taat namun ia melanggarnya à proses pendidikan yang terjadi.

Anak–anak Adam sudah mengadakan korban persembahan bagi Allah à dapat bersyukur atas berkat yang diterima.

Pada zaman Nuh Allah menyuruh untuk membuat bahtera dengan ukuran yang telah ditentukan à  menerapkan ilmu matematika dan arsitek.

Raja Salomo berdoa meminta hikmat  dari Allah dan ia dikabulkan pada saat ia menghadapi suatu masalah à ilmu hukum.

Pada zaman Isa A.S (Yesus), Ia sangat menganjurkan bagi seorang guru agar tidak menyesatkan anak-anak. Intisari dari ajarannya adalah kasih. Semua yang kita lakukan termasuk didalamnya pendidikan, jika tanpa didasarkan kasih maka tiada artinya.

Hakikat Kasih

“ Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa makaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak berduka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Dasar pendidikan agama kristen diterapkan  pada jenjang-jenjang pendidikan agar anak didik dapat berinteraksi dengan makhluk hidup yang lain dalam konteks bahwa ia mengasihi sesama manusia seperti ia mengasihi dirinya sendiri.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya agama-agama yang ada sangat menekankan pentingnya pendidikan. Pendidikan yang dilakukan pun dengan berbagai bentuk. Namun benang merah yang perlu kita pahami bahwa setiap agama menekankan penghargaan terhadap seluruh ciptaan tuhan. Proses pendidikan merupakan bagian dari proses keimanan yang harus selalu diorientasikan sebagai usaha dalam mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Landasan Pengetahuan Ilmiah Terhadap Pendidikan

Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan (Sains)

Pengetahuan

Definisi pengetahuan itu sendiri adalah sebagai berikut, segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalam dari pengetahuan. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

Dari uraian di atas Pengetahuan dapat diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa batu, apa gunung, apa air, dan sebagainya. Pengetahuan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu obyek kajian, metoda pendekatan, dan bersifat universal.

Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya:

1. Pengetahuan langsung (immediate);

Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran. Kaum realis (penganut paham Realisme) mendefinisikan pengetahuan seperti itu.

2. Pengetahuan tak langsung (mediated);

Pengetahuan mediated adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita ketahui dari benda-benda eksternal banyak berhubungan dengan penafsiran dan pencerapan pikiran kita.

3. Pengetahuan indrawi (perceptual);

Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh, kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini yang masuk ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita. Pada pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya anggota-angota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adad istiadad). Dengan faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.

4. Pengetahuan konseptual (conceptual);

Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan indrawi. Pikiran manusia secara langsung tidak dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan alam eksternal. Alam luar dan konsepsi saling berpengaruh satu dengan lainnya dan pemisahan di antara keduanya merupakan aktivitas pikiran.

5. Pengetahuan partikular (particular);

Pengetahuan partikular berkaitan dengan satu individu, objek-objek tertentu, atau realitas-realitas khusus. Misalnya ketika kita membicarakan satu kitab atau individu tertentu, maka hal ini berhubungan dengan pengetahuan partikular itu sendiri.

6. Pengetahuan universal (universal).

Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang berbeda. Sebagai contoh, ketika kita membincangkan tentang manusia dimana meliputi seluruh individu (seperti Muhammad, Ali, hasan, husain, dan …), ilmuwan yang mencakup segala individunya (seperti ilmuwan fisika, kimia, atom, dan lain sebagainya), atau hewan yang meliputi semua indvidunya (seperti gajah, semut, kerbau, kambing, kelinci, burung, dan yang lainnya).

Pengetahuan memiliki sumber (source) diantaranya adalah:

Intuisi

Ketika kita berbicara mengenai intuisi yaitu sebuah maenstream yang terbangun dibenak kita adalah sebuah eksperimen, coba-coba, yang berawal dari sebuah pertanyaan dan keraguan maka lahirlah insting. Menurut Kamus Politik karangan B.N. Marbun mengatakan intuisi: daya atau kemampauan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa ada dipelajari terlebih dahulu.

Rasional
Pengetahuan rasional atau pengetahuan yang bersumber dari akal adalah suatu pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah. Hal ini berbeda dengan pengetahuan intuitif atau pengetahuan yang berasal dari hati. Pengetahuan ini tidak akan didapatkan dari suatu proses pengajaran dan pembelajaran resmi, akan tetapi, jenis pengetahuan ini akan terwujud dalam bentuk-bentuk “kehadiran” dan “penyingkapan” langsung terhadap hakikat-hakikat yang dicapai melalui penapakan mistikal, penitian jalan-jalan keagamaan, dan penelusuran tahapan-tahapan spiritual. Pengetahuan rasional merupakan sejenis pengetahuan konsepsional atau hushuli, sementara pengetahuan intuisi atau hati adalah semacam pengetahuan dengan “kehadiran” langsung objek-objeknya atau hudhuri.

Emperikal atau pemakalah lebih suka dengan membahasakannya dengan Indra.

Tak diragukan bahwa indra-indra lahiriah manusia merupakan alat dan sumber pengetahuan, dan manusia mengenal objek-objek fisik dengan perantaraanya. Setiap orang yang kehilangan salah satu dari indranya akan sirna kemampuannya dalam mengetahui suatu realitas secara partikular. Misalnya seorang yang kehilangan indra penglihatannya maka dia tidak akan dapat menggambarkan warna dan bentuk sesuatu yang fisikal, dan lebih jauh lagi orang itu tidak akan mempunyai suatu konsepsi universal tentang warna dan bentuk. Begitu pula orang yang tidak memiliki kekuatan mendengar maka dapat dipastikan bahwa dia tidak mampu mengkonstruksi suatu pemahaman tentang suara dan bunyi dalam pikirannya. Atas dasar inilah, Ibn Sina dengan mengutip ungkapan filosof terkenal Aristoteles menyatakan bahwa barang siapa yang kehilangan indra-indranya maka dia tidak mempunyai makrifat dan pengetahuan.

Dengan demikian bahwa indra merupakan sumber dan alat makrifat dan pengetahuan ialah hal yang sama sekali tidak disangsikan. Hal ini bertolak belakang dengan perspektif Plato yang berkeyakinan bahwa sumber pengetahuan hanyalah akal dan rasionalitas, indra-indra lahiriah dan objek-objek fisik sama sekali tidak bernilai dalam konteks pengetahuan. Dia menyatakan bahwa hal-hal fisikal hanya bernuansa lahiriah dan tidak menyentuh hakikat sesuatu. Benda-benda materi adalah realitas-realitas yang pasti sirna, punah, tidak hakiki, dan tidak abadi. Oleh karena itu, yang hakiki dan prinsipil hanyalah perkara-perkara kognitif dan yang menjadi sumber ilmu dan pengetahuan adalah daya akal dan argumen-argumen rasional.
Akan tetapi, filosof-filosof Islam beranggapan bahwa indra-indra lahiriah tetap bernilai sebagai sumber dan alat pengetahuan. Mereka memandang bahwa peran indra-indra itu hanyalah berkisar seputar konsep-konsep yang berhubungan dengan objek-objek fisik seperti manusia, pohon, warna, bentuk, dan kuantitas. Indra-indra tak berkaitan dengan semua konsep-konsep yang mungkin dimiliki dan diketahui oleh manusia, bahkan terdapat realitas-realitas yang sama sekali tidak terdeteksi dan terjangkau oleh indra-indra lahiriah dan hanya dapat dicapai oleh daya-daya pencerapan lain yang ada pada diri manusia. Konsep-konsep atas realitas-realitas fisikal dan material yang tercerap lewat indra-indra, yang walaupun secara tidak langsung, berada di alam pikiran, namun juga tidak terwujud dalam akal dan pikiran kita secara mandiri dan fitrawi. Melainkan setelah mendapatkan beberapa konsepsi-konsepsi indrawi maka secara bertahap akan memperoleh pemahaman-pemahaman yang lain. Awal mulanya pikiran manusia sama sekali tidak mempunyai konsep-konsep sesuatu, dia seperti kerta putih yang hanya memiliki potensi-potensi untuk menerima coretan, goresan, dan gambar. Dan aktivitas persepsi pikiran dimulai dari indra-indra lahiriah.
Mengapa jiwa yang tunggal itu sedemikian rupa mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam menyerap semua pengetahuan? Filosof Ilahi, Mulla Sadra, mengungkapkan bahwa keragaman pengetahuan dan makrifat yang dimiliki oleh manusia dikarenakan kejamakan indra-indra lahiriahnya. Mulla Sadra juga menambahkan bahwa aktivitas persepsi-persepsi manusia dimulai dari jalur indra-indra itu dan setiap pengetahuan dapat bersumber secara langsung dari indra-indra lahiriah atau setelah berkumpulnya konsepsi-konsepsi indrawi barulah pikiran itu dikondisikan untuk menggapai pengetahuan-pengetahuan lain. Jiwa itu secara esensial tak mampu menggambarkan objek-objek fisikal tanpa indra-indra tersebut.

Wahyu
Sebagai manusia yang beragama pasti meyakini bahwa wahyu merupakan sumber ilmu, karena diyakini bahwa wahyu itu bukanlah buatan manusia tetapi buatan Tuhan Yang Maha Esa.

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

Pendidikan

Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.

Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

Keterpaparan informasi

Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary, adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program komputer, databases . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.

Jenis-Jenis Pendidikan

Pendidikan Inklusif

Pendidikan Inklusif adalah penggabungan pendidikan reguler dan pendidikan khusus ke dalam satu sistem persekolahan yang dipersatukan untuk mempertemukan  perbedaan kebutuhan semua siswa. Pendidikan Inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidikan melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinnekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualias pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusif adalah suatu penggabungan pendidikan reguler dan khusus ke dalam suatu sistem persekolahan yang dipersatukan yang bertujuan untuk menemukan perbedaan kebutuhan siswa dengan bentuk implementasi filosofi yang mengakui keaneka ragaman manusia dengan misi membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan berkualitas.

Pendidikan Multikultural

Andersen dan Cusher berpendapat bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Sementara James Banks mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color, artinya pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan), dan bagaimana kita mampu mensikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleran dan semangat egaliter. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Muhaimin el Mahady berpendapat bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (glogal).

Kemudian Hilda Hernandes mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur  dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status social, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.  Dengan kata lain, pendidikan sebagai media transformasi ilmu pengetahuan hendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme kepada peserta didik untuk bekal mereka dalam menghadapi keragaman yang kelak mereka temui dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Dari uraian di atas dapat didefinisikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keberagaman kebudayaan yang bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan suatu anugerah Tuhan dan bagaimana setiap individu dapat mensikapi perbedaan tersebut dengan penuh semangat dan dapat dipertanggung jawabkan.

ARAH PENDIDIKAN NASIONAL

Realiatas Pendidikan

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, sejak Indonesia belum merdeka hingga pascakemerdekaan 17 Agustus 1945, banyak sekali persoalan yang menerpa dunia pendidikan negeri ini. Sebelum merdeka, ketika bangsa ini dijajah oleh pihak asing, baik Belanda maupun Jepang, konsep pendidikan terus mengalami perubahan karena mengikuti kepentingan para penjajah. Bangsa ini dididik untuk mengabdi kepada penjajah dan menjadi sekrup kepentingan mereka, pendidikan yang diberikan bukan membuat bangsa ini menjadi cerdas, kritis, dan peka terhadap persoalan yang dihadapi, tetapi menjadikan bangsa ini tetap bodoh dan dan terus bertekuk lutut dibawah ketiak para kolonialis.

Mengutip pendapat Kartini Kartono (1997), tujuan pendidikan kolonial tidak terarah pada pembentukan dan pendidikan orang muda untuk mengabdi pada bangsa dan tanah air sendiri. Akan tetapi, pendidikan kolonial dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat penjajah agar dioper oleh penduduk pribumi menjadi budak dari pemerintah kolonial. Bangsa ini selalu menjadi alat kepentingan kolonial pada saat itu, dan ini berimbas pada kondisi pendidikan pascakemerdekaan.

Pada masa pascakemerdekaan, masih mengutip Kartini Kartono berpendapat ada beberapa hal yang kemudian terjadi akibat perkembangan politik dan demokrasi yang belum mapan di tanah air. Birokrasi yang terlalu ketat dan kaku di sektor pendidikan pun menjadi sebuah kenyataan yang harus dihadapi, adanya perembasan kekuasaan-kekuasaan politik yang terlalu banyak pada sistem pendidikan nasional kita (ada intervensi politik yang sangat ketat).

Dengan dampak yang terjadi demikian, maka dalam lembaga-lembaga pendidikan pun tidak terjadi perubahan dan pembahuruan karena orang harus patuh pada ketentuan-ketentuan dan peraturan formal serta kepentingan-kepentingan politik. Sedangkan di kalangan rakyat pada umumnya, orang lebih bersikap apatis atau menyerah pada keadaan pendidikan yang sudah ada tersebut, tidak ada perlawanan maupun penolakan sama sekali, mereka menerima segala bentuk kebijakan pendidikan secara taken for granted, akhirnya, ketika sistem pendidikan sudah terlalu ketat, maka sebenarnya kembali lagi pada sistem pendidikan lama (era kolonial), hanya konteksnya saja yang berbeda. (Moh. Yamin: 2009).

Pendidikan Orde Lama

Pendidikan orde lama pada masa kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Karena konsep pemerintahan Soekarno yang berasaskan sosialisme menjadi rujukan dasar bagaimana pendidikan akan dibentuk, dijalankan, dan dilakoni dengan sedemikian rupa demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Sosialisme memberikan penghargaan setinggi-tingginya terkait derajat yang sama di depan hukum dan kemanusiaan sehingga tidak ada yang dibedakan karena faktor suku, agama, dan ras. (Moh. Yamin: 2009).

Menurut Willy Aditya (2005), Indonesia di era Soekarno (orde lama), merupakan Negara sarat dengan cita-cita sosialisme, dan sangat mendukung pendidikan sebagai satu alat akselerasi masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita UUD 1945. Bahkan Indonesia mampu mengekspor guru ke Negara tetangga, menyekolahkan ribuan mahasiswa keluar negeri, dan menyebarkan mahasiswa-mahasiswa ke seluruh penjuru untuk mengatasi buta huruf. Dan puncaknya tahun 1960-an, terjadi peningkatan yang luar biasa karena banyaknya perguruan tinggi dan sekaligus mengindikasikan peningkatan jumlah mahasiswa dan pelajar di seluruh negeri.

Masih menurut Willy Aditya, orde lama merupakan satu fase yang mirip dengan fase pascarevolusi demokratik di Prancis. Saat itu, di mana-mana muncul semangat egalitarianisme yang mengejawantah dalam masyarakat. Panggilan terhadap orang, baik yang sudah berumur maupun belum, disamaratakan dengan sebutan “Bung”, yang merupakan pengganti sebutan orang yang tidak mengenal strata kelas, status, dan umur. Selain itu juga mahasiswa bebas berorganisasi dan berpendapat sesuai dengan keinginannya, oleh sebab itu di era orde lama cukup memberikan angin segar bagi arah perjalanan bangsa.

Pendidikan Orde Baru

Setelah Soekarno lengser dari tampuk kekuasaan dan Soeharto naik menjadi Presiden, maka di situlah Orde Baru mulai melahirkan dan menggelar kebijakan-kebijakannya, termasuk pula dalam dunia pendidikan. Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Dalam era ini, dikenal sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Intruksi Presiden Pendidikan Dasar. Tetapi sangat disayangkan Inpres Pendidikan Dasar belum ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas, hanya pada kuantitas saja.

Selain itu juga, sistem ujian Negara yang dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTANAS) telah berubah menjadi bumerang, yaitu penentuan kelulusan siswa menurut rumus-rumus tertentu, sehingga di tiap-tiap lembaga pendidikan sekolah berusaha untuk meluluskan siswanya 100 persen. Pada era ini pendidikan telah dijadikan sebagai indikator palsu mengenai keberhasilan pemerintah dalam pembangunan. Di sinilah mulai terjadi kemerosotan pada pendidikan Nasional, dimulai dari manipulasi ujian nasional sekolah dasar, kemudian meningkat kesekolah menengah pertama, kemudian meningkat lagi kesekolah menengah tingkat atas, yang kemudian berpengaruh pada mutu pendidikan tinggi.

Lebih jauh Darmaningtyas (2006), menjelaskan pendidikan pada masa orde baru ibarat pendidikan militer, Yaitu jiwa yang dikembangkan di sekolah umum sama halnya dengan jiwa yang dikembangkan di sekolah militer, bedanya yaitu, yang satu di bawah Departemen Pertahanan Keamanan, satunya lagi di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta yang satunya dilaksanakan dalam suatu isolasi yang ketat, sedangkan yang lain berada di suatu lingkungan masyarakat yang terbuka. Ini berarti tidak ada sedikit pun bagi berkembangnya keragaman pikiran, ideologi, budaya, suara, hingga tindakan selama masa orde baru berkuasa selama 32 tahun.

Pendidikan Orde Reformasi

Salah satu gerbang utama yang telah memaksa Soeharto yang disebut penguasa orde baru lengser dari tampuk kekuasaan selama 32 tahun adalah peristiwa reformasi, yang digelar oleh mahasiswa tanggal 21 Mei 1998. (Moh. Yamin: 2008). Hal ini pun, diakui atau tidak, berpengaruh dan mempengaruhi segala sendi kehidupan berbangsa di negeri ini, termasuk juga dalam pendidikan. Romo  benny Susetyo (2005), mengatakan bahwa Era Reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Jika pendidikan di prareformasi lebih sentralistik, maka pascareformasi pendidikan berubah menjadi desentralistik.

Merujuk dari hal tersebut memicu munculnya Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang diperkuat oleh Undang-Undang No. 25 tahun 1999 mengenai perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan sebuah kabar gembira bahwa segala kebijakan termasuk pendidikan tidak lagi berada di tangan pusat, melainkan berada di tangan daerah sebagai eksekutor kebijakan di tingkat lokal.

Menurut ketentuan pasal 11 UU No. 22 tahun 1999, pendidikan termasuk salah satu bidang pemerintahan yang didesentralisasikan. Dengan demikian, maslah pendidikan yang semula serba ditangani pemerintah pusat, maka tanggung jawab masalah ini bergeser ke pemerintah daerah, dalam hal ini adalah daerah kabupaten maupun kota. Karena selama ini manajemen pendidikan nasional selama ini secara holistik sangat sentralistik sehingga menutup dinamika demokratisasi pendidikan serta mematikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan serta mendorong terjadinya pemborosan dan kebocoran alokasi anggaran pendidikan.

Oleh karenanya, penguasa reformasi pun berupaya memformulasi arah kebijakan pembangunan pendidikan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 dan kemudian dipertegas dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (4), yang berbunyi, “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan belanja Negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.” Maka inilah sesungguhnya yang ingin dicapai oleh pendidikan di era reformasi ini. (Moh. Yamin: 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Ali Maksum, 2008. Pengantar Filsafat: “Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.

Drs. Surajiyo, 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannyadi Indonesia.Suatu pengantar. JakartA: Bumi Aksara

Hakim Nasution, Andi. 1988. Pengantar ke Filasafat Sains. Jakarta : Litera Antar Nusa

Harold, Marilyn, Richard. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat (alihbasa oleh : HM Rasjidi). Jakarta: PT. Bulan Bintang

Jumali, M dkk. 2008. Landasan pendidikan. Surakarta:  Muhammadiyah University Press

Jujun S Sumantri, 2005. Filsafat Ilmu “ Sebuah Pengantar Populer”. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Prof. Dr. Made Pidarta, 2007. Landasan Kependidikan: “Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak    Indonesia”. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

http://www.anneahira.com/ilmu/index.htm

http://www.anneahira.com/ilmu/jenis-jenis-ilmu.htm

http://dikdas.blogspot.com/2008/09/hakekat-manusia.html

Tirtarahardja, Umar & la Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Abdurrahman. 2009. Pengantar pendidikan.

http://pernikmagazine.wordpress.com. 5/10/09

Posted Sab, 10/01/2009 – 04:58 by akhmadsudrajat

http://www.psb-psma.org/content/blog/pendekatan-pendekatan-dalam-teori-pendidikan

Mulyahardjo, Redja. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

http://id.wikipedia.org/wiki/kekristenan

http://media.isnet.org/kristen/sejarah/asal-usul.html

http://www.carelinks.net/doc/bbintro-id/1

http://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Amsal

www.id.wikipedia.org

Ismail, Andar. 1997. Selamat Menabur. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Ellis, Arthur K, dkk. Introduction to the Foundation of Education. (New Jersey: Prentice Hall, 1991).

Okvina, 18 februari 2009. konsep pengasuhan. http :www.wordpress.com, diakses pada tanggal 8 oktober 2009.

Setiap orang menginginkan untuk menjadi yang kreatif, dan setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk keratif, hanya saja permasalahannya sejauh mana potensi tersebut dapat diasah pada diri manusia sehingga mereka dapat menghasilkan karya dan gagasan yang spektakuler dengan idenya yang “lain daripada yang lain”. Untuk megasah kreativitas maka dapat dimulai sejak anak usia dini. Tentunya  sebagai orangtua yang ingin anaknya kreatif maka harus memahami bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kreativitas pada anak.  Dalam hal ini, maka orang tua menjadi penting mengetahui faktor apa saja yang mendukung berkembangnya kreativitas anak dan aktivitas apa saja yang dapat meningkatkan kreativitas anak.

Faktor potensial yang mendukung berkembangnya kreatifitas anak:

Rangsangan mental

Suatu karya kreatif dapat muncul jika anak mendapatkan rangsangan mental yang mendukung. Pada aspek kognitif anak distimulasi agar mampu diberikan berbagai alternative pada setiap stimulant yang muncul. Pada aspek kepribadian anak distimulasi untuk mengembnagkan berbagai macam potensi pribadi kreatif seperti percaya diri, keberanian, ketahanan diri, dan lain sebgainya. Pada aspek suasana psikologis (psychological Athmosphere) distimulasi agar anak memiliki rasa aman, kasih sayang dan penerimaan. Menerima anak dengan segala kekurangan dan kelebihannya akan membuat anak berani mencoba, berinisiatif, dan berbuat sesuatu secara spontan.

Kondisi Lingkungan

Kondisi lingkungan  di sekitar sangat berpengaruh besar dalam menumbuhkembangkan kreativitas. Kreativitas akan mati dan tidak berkembang dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Ayan (1997) menemukakan beberapa kondisi lingkungan yang harus diciptakan untuk menumbuhkan jiwa kreatif, antara lain:

Pencahayaan

Cahaya merupakan salah satu sumber energy kreatif paling ampuh, bahkan cahaya matahari yang terang langsung memiliki kaitan biologis dengan tubuh dan pikiran.

Sentuhan warna

Warna memiliki aspek tertentu terhadap lingkungannya, dapat membuat kita merasa penuh energy. Sementara warna lain mempunyai efek menenangkan. Ada beberapa cara dasar penggunaan warna untuk menciptakan lingkungan kreatif. Pertama, mewarnai ruangan untuk mendapatkan perasaan yang diinginkan. Kedua, buat variasi warna sesuai dengan suasana hati dan kebutuhan yang berbeda. Ketiga, banyaknya warna dapat merangsang berbagai pikiran dan perasaan.

Seni dan Lingkungn

Istilah seni dan lingkungan berarti segala sesuatu yang terdapat didinding, rak, dan semua permukaan sekitar ruangan. Ini meliputi mulai dari poster, hiasan dinding, ukiran, foto, benda seni dan lain-lain.

Bunyi dan Musik

Musik dan bunyi memiliki dua fungsi:

- Jenis music tertentu dapat meningkatkan fungsi otak dan membantu kecepatan belajar dan daya ingat

- Mempengaruhi penataan dan suasana hati

Musik dapat membuat zona kenyamanan menuju pikiran dan perasaan baru, tepat pada bidang yang dibutuhkan agar menjadi kreatif.

Aroma

Menurut berbagai sumber bebauan atau aroma diketahui secara langsung merangsang bagian otak-sistem limbic-yang bekerja atas emosi dan ingatan prmitif.

Sentuhan

Sentuhan dapat menghadirkan kenyamanan fisik dan relaksasi, dapat mencapai ketenangan, dan untuk mendapatkan rangsangan.

Cita Rasa

Ada tiga prinsip penting dalam hal masalah gizi,

- Karbohdrat menyebabkan kantuk, dan akan mengurangi energy kreatif

- Protein meningkatkan kesiagaan, sedangkan lemak menumpulkan ketajaman mental

- Pola makan terbaik adalah yang mementingkan buah-buahan segar dan sayuran, hindari makanan yang diproses bahan sintesis, gula, tepung, kafein dan alcohol.

Ketujuh aspek lingkungan tersebut memberikan dampak diperlukannya kondisi bersih dan sehat dalam lingkungan. Penataan ruangan yang apik, tidak penuh dengan barang, dan ventilasi yang cukup, dapat mengembangkan kreativitas anak.

Peran Orang Tua

Utami Minandar (1999) menjelaskan beberapa sikap orang tua yang menunjang tumbuhnya kreativitas, antara lain :

1. Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkan

2. Memberi waktu kepada anak untuk berfikir, merenung dan berkhayal

3. Membolehkan anak untuk mengambil keputusan sendiri

4. Mendorong anak untuk menjajaki dan mempertanyakan hal-hal

5. Meyakinkan anak bahwa orangtua menghargai apa yang ingin dicoba, dilakukan dan apa yang dihasilkan

6. Menunjang dan mendorong kegiatan anak

7. Menikmati keberadaannya bersama anak

8. Memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak

9. Mendorong kemandirian anak dalam bekerja

10.  Menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan anak.

Untuk membuat kreatif maka orangtuapun harus kreatif, Menurut Melly Kiong, sebagai penerima penghargaan MURI untuk ibu rumah tangga penulis buku pedoman parenting, menjelaskan cara kreatif mendidik anak agar anak memiliki inisiatif dalam melakukan sesuatu, pengalaman Melly Kiong sebagai orang tua dapat ditiru dalam melakukan pendidikan pada anak, antara lain:

Membangun mental berusaha

Dalam membangun mental usaha anak, dapat dicontohkan dengan beberapa kasus dibawah ini,

Contoh 1 : Anak minta dibukakan bungkus peremen

yang harus dilakukan:

- Sebagai orangtua harus mengakui jika anak belum bisa membukakan permen karena memang belum diajari

- Berikan contoh membukakan permennya sampai anak mengerti

- Setelah itu, minta anak untuk mengulangi kembali. Jangan lupa berikan pujian serta pesan bahwa setelah ini harus berusaha sendiri sebelum mereka meminta tolong kepada orang lain.

Contoh 2: Anak minta dibukakan botol minuman air mineral

Jika anak belum bisa maka sebagai orang tua mengajari dengan cara menjelaskan misalnya, “Dibagian tutup yang tertutup plastik, Dede lihat dulu ada bagian tertentu yang diberi bintik-bintik, fungsi bintik-bintik adalah untuk memudahkan kita merobeknya, sehingga kita gampang membuka plastiknya”

Nilai yang diperoleh:

- Lewat pembelajaran permen, ada pelajaran pentingnya nilai “usaha” dan tidak bergantung, dan sebagai orangtua perlu mengakui kekurangan walaupun dihadapan anak-anak, dan memposisikan situasi senyaman mungkin sehingga tercipta rasa percaya diri si anak, karena tidak selamanya anak dapat disalahkan, (orangtua tidak mengajari).

- Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk belajar mandiri dari hal yang ada disekitar, dan efeknya akan membangun mental juang anak.

Membangun mental peduli

Peduli adalah salah satu sikap mental yang wajib dimiliki oleh setiap manusia sebagai syarat untuk bisa membina hubungan yang lebih baik dengan orang sekitar, sebagia hasilnya seseorang akan lebih mudah diterima oleh lingkungannya. Kalau anak itu peduli maka dia akan berbuat baik, dan ketika seseorang baik, dimanapun dia berada akan dihargai dan akan diterima dengan baik.

Contoh : Isi Staples kecil yang berbahaya

Tempelkan ujung staples kejari, “Aduh!” Jelaskan kepada anak bahwa isi staples itu amat berbahaya, sebisa mungkin ajak anak untuk menyimpannya ditempat yang sudah disediakan atau jika ditemukan ditempat lain, bungkuslah dengan tisu atau kertas supaya tidak melukai orang.

Nilai yang diperoleh:

- Anak akan membiasakan membuang benda-benda tajam yang berbahaya kedalam kotak yang sudah tersedia

- Sesuatu yang membahayakan diri kita tentu bisa membahayakan orang lain juga, dari hal kecil oarngtua menyadarkan anak-anak untuk peduli dan berbuat baik

Contoh 2: Sisa kertas Koran

Sediakan sebuah kotak bekas (kardus) yang bertuliskan “Betapa sisa kertas ini berguna untuk orang lain”

Anak-anak akan membuang kertas yang sudah tidak terpakai kedalam kotak yang sudah disediakan, jika sudah penuh maka mereka akan memberikan kepada pemulung yang lewat didepan rumah.

Nilai yang diperoleh:

Anak-anak lebih baik diajak mempraktekkan langsung apa yang ingin diajarkan, tidak hanya sekedar orang tua katakana bahwa mereka harus berbuat baik. Dengan memberikan sisa kertas yang sudah tidak terpakaipun, anak-anak bisa merasakan bahagianya kekuatan memberi dan peduli.

Dari contoh Melly Kiong dapat diperoleh bagaimana orangtua kreatif mendidik anak, maka  dapat memunculkan inisiatif anak dan muncul gagasan-gagasan kreatif anak, yang tanpa orangtua sadari, betapa hebatnya anak-anak mereka.

Kreativitas dapat diperkuat bila:

- Anak-anak didorong untuk merasa bebas mengekspresikan perasaaanya atau opininya. Keluarga terbuka untuk pengalaman baru dan opini yang berbeda

- Anak-anak didorong untuk memanipulasi dan mengevaluasi gagasan. Misalnya dengan pertanyaan “ mengapa kamu berpendapat bahwa……..”

- Anak-anak dibiarkan menjadi asli dirinya, dan ketika tumbuh mereka didorong untuk mempertimbangkan lebih dari satu penyelesaian untuk setiap masalah.

- Disipiln tegas tanpa menghukum dan dengan batas-batas yang jelas

- Orang tua percaya anaknya akan berlaku baik dan melakukan sebaik-baiknya.

- Orang tua menerima atau toleran terhadap gagasan kreatif  anak tanpa mengingkari atau mengecilkan hasil yang dicapai.

- Orang tua percaya pada kemampuan  anak mereka. Jangan berkata kalau itu terlalu “Sulit”. Jika memang sulit, orang tua harus berkata bahwa ia bangga anaknya telah mencoba.

- Orang tua siap untuk membiarkan anak mereka melakukan aktivitas jika anak menikmati kegiatan tersebut.

- Orang tua menyediakan arah dalam menemukan masalah dan menyelesaikannya. Pertanyaan kuncinya adalah “ mengapa kamu berpendapat bahwa…..”

- Orang tua memperbolehkan ekspresi bebas di samping pelatihan spesifik dan banyak peluang untuk berlatih. Ingat bahwa pelukis besar juga belajar melukis.

- Orangtua sendiri kreatif, anak meniru mereka.

- Anak-anak mempunyai kontak dengan pemikir kreatif lain melalui TV, buku dan diskusi dengan orang dewasa dan anak yang lebih besar.

- Kesesuaian digantikan oleh keterbukaan. Putuskan nilai-nilai mana yang penting dalam keluarga anda dan bersikaplah fleksibel pada hal-hal lain.

- Orang tua mendorong bermain pura-pura dan imajinatif

- Anak-anak diperkenalkan dengan cerita, musik, dan seni. Dan juga gagasan dan aktivitas fisik, termasuk menari dan olah raga

Peran Guru

Untuk membantu anak tetap memiliki dan mengembangkan potensi kreatifnya, menurut Rachmawati (2010) dibutuhkan seorang guru yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

Kreatif dan menyukai tantangan

Syarat pertama seorang guru yang dapat mengembangkan kreativitas anak adalah guru tersebut juga merupakan individu yang kreatif. Tanpa sifat ini sulit sekali seorang guru dapat memahami keunikan karya dan kreativitas anak. Guru juga harus menyukai tantangan dan hal-hal baru sehingga ia tidak akan terpaku pada rutinitas ataupun mengandalkan program yang ada, namun ia akan senantiasa mengembangkan, memperbaharui dan memperkarya aktivitas belajarnya dari waktu kewaktu

Menghargai karya anak

Menghargai karya anak apapun bentuknya adalah prinsipil sifatnya. Tanpa sikap ini mustahil anak akan bersedia mengekspresikan dirinya secara bebas dan mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Penghargaan dapat berupa pujian, ataupun pengakuan dari guru bahwa anak tersebut telah dengan baik membuat suatu karya yang membanggakan dirinya.

Menerima anak apa adanya

Setiap anak adalah unik dan khas, mereka berbeda satu sama lain. Seorang guru dituntut untuk memahami keunikan tiap anak dan menerimanya dengan baik serta menghindari sikap diskriminatif. Penerimaan terhadap anak , erat kaitannya dengan rasa aman. Jika anak merasa diabaikan dan tidak diterima oleh gurunya , maka ia akan kehilangan rasa amannya ketika berdekatan dengan gurunya.

Motivator

Seorang pengembang kreativitas adalah seorang motivator/ pendorong bagi peserta didik.

Ekspresif, penuh penghayatan, dan peka pada perasaan

Kematangan emosional para pengembang kreativitas adalah hal penting untuk dapat menyelami hasil kreativitas anak. Sikap yang ekspresif dan luwes dalam menunjukkan penghargaan dan bimbingan terhadap peserta didik, dapat menjadi modal berkembangnya kreativitas pada anak.

Pecinta seni dan keindahan

Banyak hasil karya kreativitas berbentuk karya seni, jika guru pengembnag kreativitasbtidak memahami atau bahkan tidak menyukai seni dan keindahan bagaimana mereka dapat mengetahui kalau karya tersebut memiliki arti penting baik bagi pembuat maupun bagi orang lain. Konsep=konsep dasar mengenai estetika sebaiknya dimiliki oleh guru pengembang kreativitas.

Memiliki kecintaan yang tulus terhadap anak

Anak memiiki perasaan dan mampu membedakan orang yang tulus atau tidak menyayangi mereka. Kecintaan terhadap anak akan memberikan kenyamanan secara psikologis bagi anaka untuk dapat dengan tenang dan senang melakukan eksplorasi terhadap potensi dirinya.

Memiliki ketertarikan terhadap perkembangan anak

Masa the golden age yang dimiliki oleh anak, memerlukan suatu pendekatan yang tepat untuk dapat memfasilitasi optimalnya aspek-aspek perkembangan yang mereka miliki. Guru pengembang kreativitas anak hendaknya memiliki kepedulian aspek-aspek perkembangan anak. Dengan hal tersebut guru dapat mewujudkan dalam bentuk pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya dimiliki oleh anak. Dan guru dapat memberikan penanganan yang tepat bagi anak dengan potensi yang mereka miliki.

Bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki anak

Setelah guru mengetahui potensi yang dimiliki anak, maka selanjutnya adalah berpikir dan bertindak bagaimana seharusnya potensi tersebut dapat dikembangkan.

Hangat dalam bersikap

Kenyamanan secara psikologis dapat menciptakan suatu iklim yang kondusif, ini diperlukan bagi pengembangan kreativitas. Kasih saying, sentuhan (touch), dan kehangatan dalam bersikap akan dapat menunjang bagi terciptanya suatu psychological athmosphere yang baik bagi anak. Anak tidak akan tegang dan takut dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya dengan potensi yang mereka miliki.

Dinamis

Salah satu hal yang merupakan cirri dari kreativitas adalah menyukai perubahan (change). Perubahan tersebut tidak hanya terletak pada produknya saja tetapi pada proses, person dan pres yang tercipta dalam situasi yang lebih dinamis, sehingga mereka dapat membuat sesuatu yang baru, yang lain daripada yang lain.

Bersedia bermain dengan anak

Bermain adalah metode efektif untuk mengembnagkan kreativitas anak. Strategi dan pendekatan apa pun yang digunakan untuk mengembnagkan kreativitas dapat dilakukan dalam bentuk permainan.

Luwes dan lincah dalam menghadapi kebutuhan, minat dan kemampuan anak

Sikap dan kepribadian yang menarik oleh guru pengembang keativitas akan dapat tercermin dari pribadi yang luwes (fleksibel) dan lincah dalam menghadapi segala macam kebutuhan, minat dan kemampuan anak. Kedekatan dan pendekatan yang dilakukan guru diupayakan agar anak merasa senang dalam melakukan kegiatan, merasa diterima, dipahami, dan diperlakukan dengan penuh perhatian.

Memberi kesempatan

Berilah kesempatan pada anak untuk menjelajahi lingkungan, karena ini dapat merangsang anak  untuk mengeksplorasi segala sesuatu yang ada disekitar mereka, ini juga akan memicu mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya.

Aktivitas  untuk meningkatkan kreatifitas anak usia dini

Selain lingkungan kreatif, anak juga membutuhkan stimulus-stimulus lewat aktivitas yang bisa meningkatkan kreativitasnya. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan peralatan sederhana yang ada di rumah/ sekolah, atau dengan persiapan yang lebih matang lagi. Aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan anak-anak, seperti:

Menggambar dan melukis

Menggambar dan melukis adalah salah satu aktivitas yang sangat disukai anak. Seorang anak mulai menggambar dengan membuat lingkaran besar tanpa mengangkat krayon atau pensilnya dari atas kertas. Dan kemudian berkembang  dengan menggambar garis dan titik hingga akhirnya mampu membuat gambar yang “mempunyai arti”. Melukis dan menggambar membuat anak belajar koordinasi tangan-mata, mengembangkan imajinasinya, dan menyalurkan emosinya. Selain itu menggambar&melukis juga merupakan latihan yang baik dalam menghasilkan tanda di kertas, sesuatu yang diperlukan anak ketika belajar menulis.

Untuk mendukung aktivitas anak dalam melukis dan menggambar, orang tua dan guru dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:

- Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Seperti cat air/minyak, kuas, pensil, krayon, kertas dll. jangan lupa, alat yang disiapkan harus aman untuk mereka.

- Biarkan mereka menggambar yang mereka mau, jangan contohkan gambar pada anak.

- Beri ruang untuk menggambar dan melukis. Jangan marahi anak jika ruangan menjadi berantakan ketika menjadi studionya.

- Beri pujian untuk semua gambarnya.

- Ajak anak untuk bercerita tentang gambarnya.

- Buat  variasi aktivitas agar anak tak bosan, misalnya menggambar dengan jari, dengan ditiup, cetakan dll.

- Setelah melakukan aktivitas, ajak anak merapikan kembali peralatannya

Kerajinan tangan

Kerajinan tangan melibatkan aktifitas yang lebih rumit dari melukis Karena melibatkan beberapa aktifitas seperti merencanakan, merangkai, merobek, memotong, dan  merekat. Dari aktifitas ini anak belajar merancang sesuatu, merangkaikan sesuatu, mengembangkan imajinasinya, konsentrasi, dan menjalani proses. Kegiatan ini juga akan membantu anak belajar mengelola emosinya.

Untuk mendukung aktivitas anak dalam kerajinan tangan, orang tua dan guru dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:

- Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, seperti kertas warna, gunting, penggaris, lem dll. Jangan lupa, alat yang disiapkan harus aman untuk mereka.

- Kondisikan ruangan, jangan sampai anak-anak mengambil material dari barang-barang yang bukan seharusnya. Misalnya : mengambil kain dari taplak meja bunda, atau mengambil kertas dari berkas kerja ayah.

- Temani mereka dalam melakukan aktivitas ini.

- Diawal, kita harus memberikan contoh dalam beberapa aktivitas. Misal bagaimana menggunting yang benar, merekatkan dll. Setelah itu kita bisa “melepas” mereka melakukannya sendiri.

- Biasanya anak akan menggunakan hasil kerajinan yang dibuat, puji hasilnya.

- Jika ia memberikan hadiah itu ke kita, segera gunakan. Berikan ucapan terima kasih dan pujian.

- Setelah melakukan aktivitas, ajak anak merapikan kembali peralatannya

Musik dan lagu

Anak menyenangi musik dengan mendengarkannya, bergerak mengikuti alunan musik, mengikuti lagu dan memainkan alat musik sederhana (perkusi dll). Aktivitas ini termauk ketika anak melakukan ketukan pada benda-benda di sekitarnya. Dari musik anak belajar untuk menikmati musik sederhana dan mendengarkan, menyesuaikan pola bernapas dengan suatu aktivitas, mengekspresikan emosi atau perasaan dengan musik, memahami bahwa musik adalah aktivita sosial yang membuat kita merasa dekat dan masuk kedalam kelompok social, memainkan perkusi membuat anak dalam kendali, dan menghargai dan memberi tanggapan pada irama.

Untuk mendukung pengembangan kreativitas anak lewat musik, orang tua dapat melakukan:

- Memperdengarkan musik pada anak-anak sejak dini

- Biarkan mereka tahu jika anda juga suka musik

- Mengetuk jari di meja atau bertepuk tangan mengikuti irama lagu

- Jika kita bisa bermain musik, ajak anak bermain bersama kita.

- Ajak anak bernyanyi lagu-lagu dengan dengan irama sederhana, gerakan akan membantu anak mengingat lagunya.

- Ajak anak membuat alat musik sederhana dari daun,gelas, toples dan benda-benda lain di rumah

Menari

Perdengarkan lagu pada anak, maka ia akan bergerak mengikuti irama lagu. Anggukan kepala, badan yang meliuk ke kanan dan ke kiri atau melompat merupakan ekspresi yang biasa muncul ketika anak mendengarkan musik. Dengan menari, anak akan belajar menggunakan badannya untuk mengintrepretasikan musik dan mengekspresikan dirinya,memikirkan berbagai jenis musik berbeda, belajar bahwa musik terdiri not yang tinggi dan rendah, mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan rincian, mengenali irama, dan bergerak serta bernapas siring dengan irama.

Orang tua dapat melakukan beberapa hal untuk mendorong kreativitas anak dalam menari :

- Ajak anak menari bersama

- Biarkan anak mengekspresikan tariannya, jangan komentari dengan komentar negatif.

- Ajak anak menari dengan lagu-lagu yang berbeda-beda, dari rock hingga lagu yang “sendu”.

- Beri “alat musik” untuk anak mainkan sambil menari

Bermain peran

Selain imajinatif, anak adalah peniru yang baik. Ia akan menirukan banyak hal yang ia lihat, dengar dan alami. Tak heran, anak akan memerankan peran-peran tersebut ketika bermain. Dengan  imajinasi dan pengalamannya ia akan menciptakan dunianya sendiri. Ia bisa bermain peran dengan menirukan pekerjaan orang dewasa (dokter, polisi, dll), menirukan pengalamannya (liburan,sekolah dll), tokoh idolanya (superman, batman dll) atau kejadian sehari-hari (memasak, mencuci dll). Biasanya anak laki-laki akan bermain di dunia tradisionalnya seperti bermain mobil-mobilan, sebagai pemadam kebakaran atau pembalap. Sedangkan anak perempuan sering bermain dengan yang lebih “halus”, seperti menjadi ibu, guru, perawat atau dokter.

Dari aktivitas ini, anak akan belajar menuturkan cerita, memahami berbagai peran yang ada, memahami berbagai konsep yang ada (misal tentang uang dll), mengatasi masalah emosinya, dan juga mengajarkan anak untuk bekerjasama.

Dalam mengembangkan kreatifitas dalam bermain peran, anak akan membutuhkan peran orang tua, seperti:

- Menyediakan peralatan yang dibutuhkan, seperti boneka, mobil-mobilan atau kostum.

- Membantu anak membuat peralatan bermainnya, misal membuat ninja dari sarung atau membuat mahkota untuk tuan putri.

- Ikut bermain, misalnya orang tua berperan menjadi murid ketika anak berperan sebagai guru.

- Perkaya pengetahuan anak, lewat cerita, video atau pengalaman lapangan

Bercerita

Bangsa kita adalah bangsa penutur, kita terbiasa menuturkan sesuatu yang kita alami pada orang lain. Begitupun anak-anak, mereka suka sekali bercerita tentang apapun. Apa yang mereka lihat, rasakan, dengar dan alami akan mereka ceritakan. Dari aktivitas bercerita anak akan belajar mendengar dan menyerap informasi, merangkai kata, belajar membuat cerita dan menceritakannya, selain itu anak juga belajar mengekspresikan apa yang ia rasakan dan yang ia inginkan.

Apa yang orang tua dapat lakukan?

- Bercerita pada anak. baik dongeng atau kejadian sehari-hari. Medianya bisa lewat buku, album keluarga, boneka atau hanya cerita saja.

- Perkaya cerita anak dengan buku, video dan pengalaman.

- Sediakan media untuk anak bercerita. Bisa berbentuk mainan, boneka atau buku.

- Pancing anak bercerita dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bukan ya atau tidak.

- Jangan potong cerita anak

- Biarkan anak mencampurkan imajinasinya dengan kejadian sebenarnya.

Tips untuk orang tua ketika bercerita pada anak:

- Selektif ketika memilih cerita!, banyak cerita yang tidak cocok untuk anak. Seperti sangkuriang atau kancil pencuri.

- Ketika bercerita, tempatkan anak dalam posisi “aman”. Seperti di pangkuan, pelukan atau di sebelah anak.

- Ketika melakukan “read aloud”, biarkan anak ikut “membaca” buku tersebut. Kita membantunya dengan menunjuk bacaan.

- Perubahan intonasi, ekspresi wajah dan suara akan membuat cerita semakin menarik

- Penggunaan media seperti boneka dan buku akan membuat anak lebih mudah mencerna cerita.

- Bahas nilai-nilai yang ada dalam cerita

Percobaan “ilmiah”

Anak-anak mungkin belum mampu berpikir secara logis atau mengevaluasi sesuatu. Namun mereka telah memenuhi standar sebagai seorang ilmuwan hebat, mereka adalah pengamat yang baik dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

Dari percobaan ilmiah, anak akan belajar mengamati sesuatu dengan seksama,  membedakan perbedan-perbedaan kecil, mengklasifikasikan dan mengelompokkan. Percobaan ilmiah akan mengajarkan pada anak untuk menyelidiki sebuah pertanyaan “mengapa” hingga menemukan jawabannya.

Untuk mengembangkan kreativitas anak dalam percobaan ilmiah, orang tua dan guru dapat melakukan:

- Mulai dari kejadian dan fenomena yang terdapat di sekitar anak. Misal serangga di kebun atau air di gelas.

- Pastikan peralatan yang digunakan aman untuk anak.

- Dorong anak untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya dengan menJawab pertanyaan anak dengan pertanyaan kembali.

- Orang tua dan guru harus punya banyak referensi untuk menjelaskan fenomena yang ada.

Bertualang

Anak-anak suka dengan sesuatu yang baru. Bertualang keluar dari “zona amannya” merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Bertualang bisa dengan berkemah, jalan-jalan ke alam atau hanya mengajak anak naik kereta atau bus. Dengan bertualang, anak akan belajar memahami perbedaan, mengetahui dunia di sekitarnya, dan mengamati sesuatu dengan seksama. Anak juga akan belajar untuk bertanya pada orang lain dan mencari sumber-sumber informasi dari berbagai sumber.

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua dan guru dalam mengajak anak bertualang ialah;

- Rancang petualangan agar seru dan menyenangkan. Membuat cerita akan membuat petualangan lebih menyenangkan.

- Dorong anak untuk bertanya dan berinteraksi dengan orang lain, misal bertanya pada masinis kereta api.

- Ajak anak mencari informasi dari sumber-sumber yang ada di sekitarnya, misalnya rambu jalan atau gambar-gambar.

- Ajak anak untuk mengamati fenomena yang terjadi selama petualangan

- Ajak anak untuk bercerita pengalamannya dalam bertualang.

Memasak

Selama ini, masyarakat beranggapan bahwa memasak hanya untuk wanita. Selain itu masyarakat masih beranggapan bahwa dapur adalah daerah berbahaya untuk anak-anak. Padahal memasak adalah salah satu aktivitas yang menarik dan menyenangkan untuk mengembangkan kreativitas  anak. Aktivitas Memasak termasuk mengaduk, menakar bahan, membuat adonan, hingga menghias dan menyajikan makanan. Memasak akan membuat anak belajar berkreasi dengan makanan, mengikuti perintah sederhana, belajar mengukur dan menakar, membantu orang lain, bekerjasama dengan orang lain, melakukan sebuah proses,dan mengamati serta memperhatikan rincian. Memasak juga akan membuat anak bangga akan hasil pekerjaannya.

Untuk mengembangkan kreativitas anak dalam memasak, Orang tua dan guru dapat melakukan:

- Jelaskan dulu proses yang akan dikerjakan.

- Jelaskan apa yang boleh anak-anak kerjakan.

- Pastikan anak-anak tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti pisau tajam atau panci panas.

- Perkaya menu yang ada

- Mulai dari kegiatan sederhana, misalnya menyiapkan salad.

- Ajak anak merapikan kembali barang-barang yang telah digunakan

Berkebun

Kebun, merupakan tempat favorit untuk anak-anak. Di kebun anak bisa belajar, bermain dan melakukan hal-hal kotor (bermain tanah, air dll). Berkebun juga bukan berarti sekolah atau rumah harus mempunyai halaman yang luas, berkebun bisa dilakukan di pot di sudut rumah. Dengan  berkebun akan belajar mengamati dengan seksama, belajar proses dan mencoba hal-hal baru.

Untuk mengembangkan kreativitas anak dengan berkebun, Orang tua dan guru dapat melakukan:

- Biarkan anak ketika kotor, namun jangan lupa untuk mengajaknya membersihkan diri setelah aktivitasnya selesai.

- Ajak anak mengamati proses yang ada, misal pertumbuhan tanaman.

- Ajak anak mengamati apa yang terdapat di kebun. Misalnya tanaman apa saja, dan hewan yang ada

- Beri anak tanggung jawab dalam mengelola kebunnya.

Selain aktivitas-aktivitas diatas, Masih banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas anak. Aktivitas-aktivitas yang telah disebut diatas juga bisa saling melengkapi satu sama lain, tergantung pada kreasi  orang tua dan guru dalam mengembangkannya. Selain itu yang perlu diperhatrikan oleh orang tua dan guru adalah membuat perencanaan aktivtas apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan kreatiivitas anak.

DAFTAR PUSTAKA

Ayan, Jordan E. 1997. Bengkel Kreativitas. Bandung : Kaifa

Einon, Dorothy. 2002. Creative Child. Jakarta: Karisma

Herr, Judy. 2007. Creative Resources for The Early Childhood Classroom. New York: Thomson

Kiong, Melly. 2010. Cara Kreatif Mendidik anak ala melly Kiong. Jakarta: Progressio Publishing

Munandar, S.C.Utami. 1999. Kreativitas dan keberbakatan (strategi mewujudkan potensi dan bakat). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Rachmawati, Yeni & Euis Kurniati. 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak. Jakarta : Kencana Prenada Media Group

Schmidt, Laurel. 2002. Jalan Pintas Menjadi 7 Kali Lebih Cerdas. Bandung: Kaifa

Treelese, Jim. 2006. Read Aloud Hand Book. Bandung: Hikmah

Mahayattika, Idzma dkk. 2009. Modul pelatihan guru kreatif. Bandung: KIDZSMILE

Pemerolehan Bahasa AUD

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan suatu permasalahan yang rentan dan cukup menakjubkan bagi para peneliti dalam bidang psikoliguistik. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan suatu isu yang amat mengagumkan dan sulit untuk dibuktikan. berbagai teori dari beberapa disiplin ilmu yang berbeda telah dikemukakan oleh para peneliti untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Disadari ataupun tidaknya sistem-sistem linguistik yang dikuasai oleh individu anak-anak pada umumnya tidak melalui pengajaran formal.

Dan telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia, tidak terdapat pada makhluk hidup lainnya. Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.. Lebih rumit dan luas mengingat ada lebih dari seribu bahasa yang ada di seluruh dunia.

Anak adalah makhluk yang sangat unik, tidak pernah ada satu anakpun yang benar-benar sama dengan anak yang lainnya, sekalipun mereka kembar. Sejak dilahirkan, anak sebagai makhluk individu telah membawa sejumlah potensi yang terdapat dalam dirinya. Potensi tersebut dapat berkembang secara optimal apabila potensi itu dirangsang kemunculannya, dalam artian stimulasi dari lingkungan di saat masa peka datang. Sebaliknya apabila potensi tersebut tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada rangsangan maka potensi tersebut tidak akan berkembang dan bahkan akan hilang atau mati.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidaklah sama antara satu dengan anak yang lainnya, hal ini disebabkan karena anak adalah makhluk unik yang memiliki tempo dan irama perkembangan  tubuhnya masing-masing. Proses perkembangan anak berjalan secara alamiah dan ditandai dengan pola karakteristik yang sedikit banyak dapat diramalkan. Masa bayi usia 7-12 bulan merupakan usia yang penting karena merupakan dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. (Yuliani & Bambang Sujiono: 2005). Karena dimasa-masa ini anak mengalami perkembangan yang sangat signifikan pada dirinya, baik itu perkembangan fisik maupun perkembangan dalam proses pemerolehan bahasa.

Rangsangan bahasa yang diterima oleh anak-anak tidaklah teratur. Namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertama sebelum menginjak usia lima tahun. Fenomena yang kelihatan menakjubkan ini terus berlaku dalam kalangan semua masyarakat dan budaya pada setiap masa. Jika mengikuti penelitian secara empirikal, terdapat dua teori utama yang membicarakan bagaimana manusia memperoleh bahasa. Teori pertama mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara alamiah atau dinuranikan. Teori ini juga dikenal sebagai Hipotesis Nurani dalam linguistik. Teori yang kedua mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara dipelajari.

Pemerolehan bahasa merupakan suatu proses perkembangan bahasa manusia. Lazimnya pemerolehan bahasa pertama dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak-anak manakala pemerolehan bahasa kedua bertumpu pada perkembangan bahasa orang dewasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Namun para ahli bahasa dan linguistik tidak menolak kepentingan tentang pengaruh faktor-faktor seperti biologi dan lingkungan.

Dalam makalah ini penulis mengamati proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada keponakan penulis sendiri. Di sini penulis mengamati secara langsung dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ditambah informasi-informasi dari orang tua dan pengasuh serta orang-orang yang pernah terlibat langsung dengan anak ini. Ketertarikan penulis untuk mengamati anak ini disamping sering bertemu dan penulis juga sering bermain langsung dengannya serta rumahnya yang berdekatan, penulis juga melihat anak ini proses pemerolehan bahasanya begitu pesat ketimbang keponakan yang lainnya. Untuk itu penulis ingin mengamati lebih jauh lagi proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada anak tersebut.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemerolehan Bahasa

Istilah pemerolehan merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir (Darmojuwono dan Kushartanti, 2005: 24). Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (native language).

Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.

Menurut Brookes (dalam Yusoff & Mohamed, 1995), pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berusia lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berusia lebih kurang empat tahun. lalu Simanjuntak (1982) mengemukakan bahwa pemerolehan bahasa adalah penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif apabila di kalangan anak-anak dalam lingkungan usia 2-6 tahun. Hal ini tidaklah sama dengan orang dewasa dalam memperoleh bahasa yang kadarnya tidak sehebat anak-anak.

Sebelum bayi dapat menggunakan kata, mereka mengungkapkan kebutuhan dan perasaan mereka melalui suara, yang dimulai dari tangisan, sergahan, dan mengoceh kemudian imitasi tanpa sengaja, dan tanpa mengetahui maknanya, dan akhirnya meniru dengan maksud, yang bisa dikenal dengan prelinguistc speech (bahasa pralinguistik). Dan biasanya bayi mulai berbicara di akhir tahun pertama, dan mulai berbicara dalam kalimat pada bulan pertama atau sebelum delapan bulan hingga satu tahun kemudian. (Diane E, S. W, & Papalia: 2008). Menurut Lester & Boukydis dalam D. E, S. W, & Papalia, menangis adalah satu-satunya cara bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi, berbagai nada, pola, dan intensitas memberikan sinyal rasa lapar, mengatur, atau marah.

Bayi memahami banyak bahasa sebelum mereka dapat menggunakannya. Kata pertama yang paling dipahami oleh bayi adalah yang paling sering mereka dengar: nama mereka dan kata “jangan” serta kata yang memiliki arti khusus bagi mereka. (Diane E, Sally W, dan Papalia: 2008). Pada usia 13 bulan, sebagian besar anak-anak memahami kata-kata yang diperuntukan bagi sesuatu atau peristiwa tertentu, dan mereka dapat dengan cepat mempelajari makna dan kata baru (Woodward, Markman, dan Fitzsimmons: 1994). Lanjut Slobinae dalam D. E, S. W & Papalia, (2008) bahasa awal anak memiliki karakter khusus, terlepas dari bahasa yang diucapkan oleh si anak. Dengan kata lain, setiap kata yang sering didengar oleh anak, ini akan selalu diingat oleh anak, begitu kata itu disebutkan kembali akan direspon oleh anak tersebut, misalkan pada saat memanggil namanya, anak biasanya akan menoleh dan memberi respon positif terhadap orang yang memanggilnya.

Disamping itu anak juga dapat melakukan simbolik, seperti meniup untuk menandakan panas, mengangkat kedua tangannya untuk menandakan bahwa ia ingin digendong, dan ini muncul pada saat anak mengatakan kata pertama mereka, anak menunjukkan pemahaman bahwa symbol tersebut dapat merujuk kepada objek, peristiwa, hasrat, dan kondisi tertentu. Gerak isyarat muncul sebelum anak menguasai 25 kosakata dan menghilang ketika anak belajar kata untuk sesuatu yang diisyaratkannya dan mengucapkannya sebagai ganti isyarat tersebut. (Lock, Young, Sevice, & Chandler: 1990)

Sedangkan Freud dalam Yuliani dan Bambang sujiono (2005) menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan. Pendapat diatas sangatlah beralasan karena pada masa ini mulut memainkan peranan terpenting dalam kehidupan individu. Disamping mulut sebagai sumber kenikmatan alami, mulut juga merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar. Karena dengan mulut sering melakukan pergerakan maka anak itu akan cepat berbicara dan dapat berkembang kemampuan bahasanya.

Selanjutnya J.H. Pestalozzi dalam Ag Soejono (1979) menambahkan yang terkenal dengan pembelajaran suara, bentuk dan  bilangan meyakini bahwa stimulasi yang diberikan pada bayi haruslah berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Agar anak tersebut perkembangan bahasanya dapat diperoleh sesuai dengan usia dan kemampuan secara alamiah.

Perkembangan terus berlanjut dengan imitasi suara bahasa aksidental yang didengar oleh bayi dan kemudian mengimitasi diri sendiri untuk membuat suara ini. Dan setelah menyimpan suara tersebut, mereka menghubungkannya dalam pola yang mirip bhasa tapi tanpa makna. (D. E, S. W & Papalia: 2008). Ini berarti setiap perkataan yang keluar dari mulut anak itu sama sekali tidak mereka ketahui maknanya, mereka hanya dapat menyebutkannya saja. Hanya kata-kata yang sering mereka dengar saja yang dapat mereka pahami, misalkan nama mereka dan kata “jangan”.

Lebih jauh skinner dalam D. E, S. W, & Papalia (2008) menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa, seperti pembelajaran lainnya, didasarkan pada pengalamannya. Ini berarti semakin banyak kata yang didengar oleh anak, maka akan baik pula perkembangan bahasa anak tersebut, dan ini dapat terjadi apabila anak tersebut banyak mendengar kata-kata yang didengar dari lingkungan tempat anak tersebut tinggal.

Lain halnya dengan pendapat Chomsky dalam Papalia, S. W, D. E & Old,  (1972) yang menyatakan bahwa otak manusia memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa, maka proses seorang bayi belajar bicara sama alamiahnya dengan proses belajar berjalan, dia menyatakan bahwa alat untuk menguasai bahasa bawaan inborn language acquisition device (LAD) memprogram otak anak untuk menganalisis bahasa yang mereka dengar dan menemukan aturannya, lanjut Chomsky (1995) berusaha mengidentifikasi rangkaian prinsip universal sederhana yang melandasi semua bahasa dan sebuah mekanisme multitujuan yang berfungsi menghubungkan suara dengan makna. Merujuk dari pendapat Comsky diatas otak memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa anak, karena dengan otak manusia dapat merangkai suara menjadi sebuah makna. Kajian-kajian yang telah dilakukan untuk melihat bahwa manusia memang sudah dilengkapi dengan alat biologi untuk kemampuan berbahasa seperti yang dikatakan oleh ahli linguistik Chomsky di atas  bahwa kemampuan berbahasa ialah hasil dari pada kemampuan kognisi umum dan interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sejalan dengan yang dikatakan Piaget, bahwa semua anak-anak sejak dilahirkan telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kemampuan manusia termasuk juga kemampuan berbahasa.

Dari pendapat yang berbeda ini sebagian pakar perkembangan saat ini percaya bahwa penguasaan bahasa, seperti sebagian besar aspek perkembangan lain, bergantung pada keterjalinan antara yang bersifat bawaan dan yang bersifat pengajaran (nature dan nurture). Anak-anak sangat mungkin memiliki kemampuan menguasai bahasa, yang dapat diaktifkan atau dibangkitkan melalui pengalaman terlepas dari apakah mereka dapat atau tidak mendengar.

Maka dapat disimpulkan dari apa yang telah dipaparkan diatas, bahwa proses pemerolehan bahasa atau aspek perkembangan lainnya itu tergantung pada keterjalinan antara yang bersifat bawaan dan yang bersifat pengajaran.

B. Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa

Perlu untuk diketahui bahwa seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa B1 dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. B1 diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia. Pengetahuan mengenai pemerolehan bahasa dan tahapnya yang paling pertama di dapat dari buku-buku harian yang disimpan oleh orang tua yang juga peneliti ilmu psikolinguistik. Dalam studi-studi yang lebih mutakhir, pengetahuan ini diperoleh melalui rekaman-rekaman dalam pita rekaman, rekaman video, dan eksperimen-eksperimen yang direncanakan. Ada sementara ahli bahasa yang membagi tahap pemerolehan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan linguistik. Akan tetapi, pendirian ini disanggah oleh banyak orang yang berkata bahwa tahap pralinguistik itu tidak dapat dianggap bahasa yang permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata-mata, yaitu respons otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan perasaan senang. Oleh karena itu, tahap-tahap pemerolehan bahasa yang dibahas dalam makalah ini adalah tahap linguistik yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis); (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).

1. Vokalisasi Bunyi

Pada umur sekitar 6 minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dekur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bayi mirip dengan bunyi konsonan atau vokal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang belum terdengar dengan jelas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bunyi-bunyi yang dihasilkan tadi merupakan bahasa? Fromkin dan Rodman (1993:395) menyebutkan bahwa bunyi tersebut tidak dapat dianggap sebagai bahasa. Sebagian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi prabahasa/dekur/vokalisasi bahasa/tahap cooing.

Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celoteh merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da. Adapun umur si bayi mengoceh tak dapat ditentukan dengan pasti. Mar’at (2005:43) menyebutkan bahwa tahap ocehan ini terjadi pada usia antara 5 dan 6 bulan. Dardjowidjojo (2005: 244) menyebutkan bahwa tahap celoteh terjadi sekitar umur 6 bulan. Tidak hanya itu. ada juga sebagian ahli menyebutkan bahwa celoteh terjadi pada umur 8 sampai dengan 10 bulan. Perbedaan pendapat seperti ini dapat saja. Yang perlu diingat bahwa kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.

Pada tahap celoteh ini, anak sudah menghasilkan vokal dan konsonan yang berbeda seperti frikatif dan nasal. Mereka juga mulai mencampur konsonan dengan vokal. Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/. dengan demikian, strukturnya adalah K-V. Ciri lain dari celotehan adalah pada usia sekitar 8 bulan, stuktur silabel K-V ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur seperti:

K1 V1 K1 V1 K1 V1…papapa mamama bababa…

Orang tua mengaitkan kata papa dengan ayah dan mama dengan ibu meskipun apa yang ada di benak tidaklah kita ketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulatori belaka (Djardjowidjojo, 2005:245).

Begitu anak melewati periode mengoceh, mereka mulai menguasai segmen-segmen fonetik yang merupakan balok bangunan yang dipergunakan untuk mengucapkan perkataan. Mereka belajar bagaimana mengucapkan sequence of segmen, yaitu silabe-silabe dan kata-kata. Cara anak-anak mencoba menguasai segmen fonetik ini adalah dengan menggunakan teori hypothesis-testing (Clark & Clark dalam Mar’at 2005:43). Menurut teori ini anak-anak menguji coba berbagai hipotesis tentang bagaimana mencoba memproduksi bunyi yang benar.

Pada tahap-tahap permulaan pemerolehan bahasa, biasanya anak-anak memproduksi perkataan orang dewasa yang disederhanakan sebagai berikut:

(1)  menghilangkan konsonan akhir. Contoh: blumen=bu, boot=bu

(2) mengurangi kelompok konsonan menjadi segmen tunggal. Contoh: batre=bate, bring=bin

(3) menghilangkan silabel yang tidak diberi tekanan. Contoh: kunci=ti, semut=emut

(4) reduplikasi silabel yang sederhana. Contoh: pergi=gigi, nakal=kakal

Menurut beberapa hipotesis, penyederhanaan ini disebabkan oleh memory span yang terbatas, kemampuan representasi yang terbatas, kepandaian artikulasi yang terbatas (Mar’at 2005:46-47).

Apakah tahap celoteh ini penting bagi si anak. Jawabannya tentu saja penting. Tahap celoteh ini penting artinya karena anak mulai belajar menggunakan bunyi-bunyi ujaran yang benar dan membuang bunyi ujaran yang salah. Dalam tahap ini anak mulai menirukan pola-pola intonasi kalimat yang diucapkan oleh orang dewasa.

2. Tahap Satu-Kata atau Holofrastis

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Pada tahap ini pula seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. pada usia ini pula, sang anak sudah mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa ada di sini), “Ma” (Saya mau mama ada di sini). Mula-mula, kata-kata itu diucapkan anak itu kalau rangsangan ada di situ, tetapi sesudah lebih dari satu tahun, “pa” berarti juga “Di mana papa?” dan “Ma” dapat juga berarti “Gambar seorang wanita di majalah itu adalah mama”.

Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam tahap ini mempunyai tiga fungsi, yaitu kata-kata itu dihubungkan dengan perilaku anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk suatu perilaku, untuk mengungkapkan suatu perasaan, untuk memberi nama kepada suatu benda. Dalam bentuknya, kata-kata yang diucapkan itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafalkan seperti m,p,s,k dan vokal-vokal seperti a,i,u,e.

3. Tahap Dua-Kata, Satu Frase

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada tahap holofrastis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Ani mainan” yang berarti “Ani sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “Sepatu ini kotor” dan sebagainya.

4. Ujaran Telegrafis

Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman.

“Cat stand up table” (Kucing berdiri di atas meja);

What that?” (Apa itu?);

He play little tune” (dia memainkan lagu pendek);

Andrew want that” (Saya, yang bernama Andrew, menginginkan itu);

No sit here” (Jangan duduk di sini!)

Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar B1-nya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dengan cara menirukan. Namun, Fromkin dan Rodman (1993:403) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan (reinforcement), artinya kalau seorang anak belajar ujaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dsb. Akan tetapi, jika ujaran-ujarannya salah, ia mendapat “penguatan negatif”, misalnya lagi, salah, tidak baik. Pandangan ini berasumsi bahwa anak itu harus terus menerus diperbaiki bahasanya kalau salah dan dipuji jika ujarannya itu benar.

Teori ini tampaknya belum dapat diterima seratus persen oleh para ahli psikologi dan ahli psikolinguistik. Yang benar ialah seorang anak membentuk aturan-aturan dan menyusun tata bahasa sendiri. Tidak semua anak menunjukkan kemajuan-kemajuan yang sama meskipun semuanya menunjukkan kemajuan-kemajuan yang reguler.

Selain tahap pemerolehan bahasa yang disebutkan di atas, ada juga para ahli bahasa seperti Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak yaitu:

Tahap 1: Mendengkur

Tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. Bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa.

Tahap 2: Meraban

Tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. Tahap meraban merupakan pelatihan bagi alat-alat ucap. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak.

Tahap 3: Pola intonasi

Anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan ibunya.

Tahap 4: Tuturan satu kata

Pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang, binatang, dan lain-lain.

Tahap 5: Tuturan dua kata

Umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. Tuturan hanya terdiri atas dua kata.

Tahap 6: Infleksi kata

Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. Dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal istilah infleksi, mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi, misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.

Tahap 7: Bentuk Tanya dan bentuk ingkar

Anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa, siapa, kapan, dan sebagainya. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar.

Tahap 8: Konstruksi yang jarang atau kompleks

Anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. Anak juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit, seperti pemerolehan kalimat majemuk.

Tahap 9: Tuturan yang matang

Pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimat-kalimat seperti orang dewasa.

C. Proses Perkembangan Bahasa Anak

1. Fonologi

Anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari, misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. Pada akhir periode berceloteh, anak sudah mampu mengendalikan intonasi, modulasi nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya.

2. Morfologi

Pada usia 3 tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatika sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak terus memperbaiki bahasanya sampai usia sepuluh tahun.

3. Sintaksis

Alamsyah (2007:21) menyebutkan bahwa anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap, yaitu melalui peniruan, melalui penggolongan morfem, dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat.

4. Semantik

Anak menggunakan kata-kata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya, anak sudah mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya, namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.

D. Proses Pemerolehan Bahasa Pada Khansa

Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa (Tarigan, dalam Prastyaningsih, 2001:9). Lebih jelasnya pemerolehan bahasa diartikan sebagai suatu proses yang pertama kali dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan bahasa sesuai dengan potensi kognitif yang dimiliki dengan didasarkan atas ujaran yang diterima secara alamiah. Bahasa yang pertama kali dikenal dan diperoleh anak-anak dalam kehidupannya adalah bahasa Ibu (mother language) atau sering disebut dengan bahasa pertama (first language). Bahasa inilah yang mula-mula dikenal oleh anak kecil dan dipergunakan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai bahasa komunikasi. Pada saat ini, maka telah mempunyaai kemampuan bawaan memperoleh pengetahuan tentang bahasa yang dipelajari melalui pembentukan hipotesis karena adanya struktur internal pada mental mereka.

Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318).

1.  Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam
sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus
yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.

  1. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum
    pernah mereka hasilkan sebelumnya.
  2. Anak-anak   belajar   memahami   kalimat   yang   belum   pernah   mereka   dengar
    sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang
    didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka.

Penulis mempunyai empat keponakan yang sangat lucu-lucu dan cantik-cantik, tiga diantaranya adalah perempuan, seorang lagi adalah laki-laki, namanya adalah Zahira, Khansa, Safina dan Riandra, jarak usianya tidak terpaut jauh satu sama lain, hanya dengan yang laki-laki ini saja yang agak begitu jauh selisih usianya, masing-masing mempunyai keunikan dan karakter yang berbeda-beda, ada yang pendiam, aktif dan lincah. Dan di sini penulis hanya menceritakan seorang saja, yaitu khansa, karena penulis lihat dia lebih aktif dan lincah dalam kesehariannya ketimbang yang lainnya. Sehari-sehari khansa dititipkan kepada pengasuhnya sampai jam 12 siang, selanjutnya nenek dan kakeknya yang mengasuh sampai kedua orang tuanya pulang bekerja. Penulis sendiri pun lebih cenderung dekat dengan khansa dibandingkan dengan keponakan yang lainnya, mungkin karena letak rumahnya yang bersebelahan dan khansa pun kalau siangnya diasuh oleh ibu dan ayah saya, untuk itu penulis sering mengamati dan melihat perkembangannya, baik itu perkembangan fisik maupun proses pemerolehan bahasanya. Khansa termasuk anak yang mempunyai perkembangan kemampuan bahasa yang cukup pesat dan luar biasa, setiap apa yang penulis tanyakan pasti dia bisa menunjukkan itu semua dengan benar, misalnya mana ayah? pasti dia tunjuk, mana ayahnya, terus mana nenek? padahal pada saat itu neneknya lagi dalam kamar, dan dia cari neneknya dan ditunjukkan sama semua orang bahwa itu neneknya. Bukan itu saja dia juga sudah bisa membedakan pada saat ditanya mana yang namanya zahira dan safina, dan dia selalu benar dalam menunjuk mana yang namanya zahira dan safina tersebut. Penulis sering berfikir bahwa anak seusia itu memiliki daya ingat yang sangat tajam dan luar biasa. Serta proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada khansa itu sendiri banyak diperoleh dari orang-orang yang ada di sekitar dan terlibat langsung dengannya. Setiap kata-kata yang diucapkan kepadanya langsung tersimpan dan terserap ke dalam memori otaknya. Terkadang juga didapat melalui media televisi.

Sejalan dengan pendapat Yuliani nurani dan Bambang sujiono (2005) bahwa pada tahun pertama ini perkembangan kritis bagi anak, setelah melewati masa pra-linguistik anak memasuki masa linguistik, pada masa inilah anak mulai mengucapkan kata-katanya yang pertama dan tertuju pada objek yang jelas. Selanjutnya Yuliani dan Bambang Sujiono menambahkan bahwa pada usia 12 bulan, anak sudah mampu melakukan gerakan yang bersifat “conventional social gesture” seperti melambaikan tangan (dadah…/ bye..bye…), mengangguk yang berarti “iya” dan menggeleng berarti “tidak” .

Pada saat khansa sakit, hari-harinya dihabiskan di dalam kamar saja, badannya lemas dan sangat rewel, menjelang malam dia gak bisa tidur,  tidurnya hanya sebentar-sebentar saja dan kedua orang tuanya selalu terjaga apabila dia terbangun dan menangis sangat keras, sulit untuk dapat membujuknya supaya diam, dan ini semua membuat panik kedua orang tuanya, segala usaha dilakukan kedua orang tuanya untuk membuatnya berhenti menangis, dengan memberikan susu sampai menimang-nimangya sambil dibacakan shalawat Nabi, dan tidak lama dari itu dia pun diam dan langsung tertidur. Keesokan harinya dia hanya mau digendong dengan orang-orang terdekatnya saja atau orang yang mengasuhnya, selain dari itu dia tidak akan mau, walaupun dipaksa dia akan berontak dan menangis sekeras-kerasnya. Sedih rasanya kalau lihat dia sedang sakit, keceriaannya hilang begitu saja, dipanggil pun tidak akan menjawab, apalagi ditanya.

Sepadan dengan pendapat Yuliani Nurani dan bambang sujiono (2005), sudah sejak lahir emosi bayi berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang tua dan kemudian dengan orang-orang terdekat yang ada di lingkungannya. Selanjutnya Hurlock (1999) menambahkan bahwa mulai usia 12 bulan anak sudah dapat menahan diri untuk tidak melakukan sebagai reaksi dari tingkah laku orang dewasa atau kata-kata “jangan…! “atau “tidak…!”. Mereka juga akan memperlihatkan ketakutan dan ketidaksukaan kepada orang yang tidak dikenal dengan menghindari dan menangis, jika ada orang lain yang tidak dikenalinya.

Setelah sembuh dari sakitnya khansa pun mengalami kemajuan yang signifikan pada dirinya, kemampuan berbahasanya semakin mengalami peningkatan, baik dari segi perbendaharaan kata maupun dari pengucapannya, kemampuan mengingatnya pun semakin bertambah, disamping itu juga dia memiliki rasa cemburu dan bisa ngambek apabila dia melihat ayah atau ibunya sedang menggendong keponakan yang lainnya. disamping itu juga pengucapan dan artikulasinya sudah semakin baik dan lancar, serta terjadi melalui proses yang alami. mengutip pendapat Lovitt, dalam Martini Jamaris, (2009), perkembangan kosakata dimulai sejak anak usia satu tahun. Melalui interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya secara perlahan anak mengembangkan kemampuannya dalam memahami kosakata yang berkaitan dengan objek dan peristiwa di sekitarnya. Jadi di sini banyak kosakata yang didapat oleh anak banyak diperoleh dari orang yang terlibat langsung dengan anak tersebut dalam kesehariannya. dalam artian orang-orang yang sering bermain dan berkomunikasi langsung seperti keluarga, orang tua, pengasuh serta teman-teman sepermainan.

Melihat fenomena yang terjadi diatas penulis teringat dengan suatu kisah anak yang sangat mengharukan orang tuanya. Pada suatu ketika dikisahkan ada seorang tua renta yang tinggal dengan anak dan menantunya yang mempunyai putra berumur enam tahun. Sang kakek sudah mengalami kesulitan saat berjalan ataupun menggerakkan tangannya, karena stroke yang pernah diderita sebelumnya. Seperti biasa saat makan malam seluruh anggota keluarga berkumpul dimeja makan diruang tengah, seperti biasa pula karena ketidakseimbangan tangannya ada saja alat makan yang terjatuh, sup atau air tumpah dan membasahi taplak meja makan. Melihat itu semua gusarlah pasangan suami istri tersebut. “Kalau begini terus, hilang selera makanku.!!! ” begitu keluh sang menantu. akhirnya dengan kesepakatan bersama suami istri tersebut membuat meja kecil lalu diletakkan disudut ruangan, tidak lupa pula mereka membeli peralatan makan dari plastik untuk sang kakek. Sejak itu anak dan menantunya dapat menikmati makan malam tanpa merasa terganggu ulah sang kakek. Sementara dari sudut ruangan kerap terdengar isak tangis sedih sang kakek yang makan sendirian dimeja kecilnya. Tak jarang bubur yang berhasil masuk kemulutnya sudah bercampur dengan tetesan air matanya. Tak jarang sang kakek tidak makan karena sup atau buburnya tumpah ke lantai. Hal itu makin membuat anak dan menantunya geram dan mengomel pada sang kakek. Melihat semua itu sang cucu yang baru berusia enam tahun, hanya bisa diam dan tidak satu patah kata pun terlontar dari bibirnya yang mungil. Suatu malam sebelum tidur, seperti biasa pasangan suami istri tersebut masuk kekamar anaknya untuk mengucapkan selamat tidur. Tapi malam itu putranya masih terlihat asyik dengan mainan kayunya. Sang ayah bertanya : ” Apa yang sedang kamu buat nak., sampai malam begini kamu belum tidur juga? ” dengan penuh semangat sang putra menjawab : ” aku sedang membuat meja makan untuk ayah dan ibu kalau aku sudah besar nanti, akan kuletakkan disudut ruangan tempat kakek makan, “bagus kan yah…? mendengar jawaban putranya, suami istri tersebut merasa amat sedih dan terpukul. Malam itu mereka sadar harus ada yang dibenahi. Sejak malam itu suasana diruang makan kembali seperti semula, semua berkumpul dalam satu meja makan, bedanya tak ada lagi terdengar suara omelan meski selalu ada saja alat makan yang jatuh atau sup tumpah mengotori taplak meja. Tidak ada lagi meja kecil disudut ruangan dengan suara isak tangis sang kakek yang membuat sang cucu berhenti makan. Anak-anak adalah persepsi sebuah keluarga, mata mereka akan selalu mengamati, Telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang orang tua lakukan. Mereka adalah peniru ulung. Orang tua yang bijak akan selalu menyadari setiap “Bangunan Jiwa” yang disusun adalah pondasi yang kekal untuk masa depan anak-anak. Dari merekalah orang tua akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain sama artinya dengan tabungan untuk masa depan.

Jika bercermin dari pristiwa di atas maka dapat di simpulkan bahwa seorang anak memiliki suatu perasaan yang peka dalam menyikapi sebuah fenomena yang terjadi di dalam suatu permasalahan di lingkungan keluarganya. Serta tidak pernah terbayangkan dan sulit dipercaya bahwa seorang anak mampu berbuat sesuatu yang begitu mulia dan mengaharukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Padahal orang dewasa pun belum tentu dapat berbuat seperti apa yang dilakukan anak tersebut. Jadi setiap kejadian yang terjadi di sekeliling anak, maka seorang anak akan cepat dalam merespon hal tersebut, karena pada masa-masa itu daya ingat dan penyerapan kata-kata yang terjadi pada seorang anak berkembang sangat pesat dan signifikan.

Ibu khansa selama proses kehamilan tidak pernah mengalami masalah atau hambatan yang berarti, karena ibunya sangat menjaga kehamilannya dengan sebaik-baiknya karena merupakan kehamilan pertama dalam hidupnya, dia sering bertanya kepada teman-temannya yang sudah berpengalaman dalam proses kehamilan, walaupun pada usia kandungan yang semakin tua ibunya juga masih tetap mengajar dan beraktivitas, karena dengan begitu akan mempermudah dalam proses melahirkan. Dan itu semua terbukti, karena pada saat melahirkan semuanya dapat berjalan lancar dan normal, dan khansa pun lahir dengan berat 48 kg dan panjang 49 cm.

Seiring waktu berjalan khansa pun tumbuh menjadi anak yang periang, aktif, dan sangat cerdas, setiap orang yang melihatnya pasti akan suka dan gemes untuk mencubit pipinya yang gempal. Teman-teman sebayanya pun sangat suka bermain dengannya, karena sifatnya yang ramah dan mudah bergaul dengan orang lain, tidak heran lagi kalau dia memiliki teman yang banyak, oleh karena itu proses pemerolehan bahasa pada khansa sangat baik dan berjalan secara alami. Pada saat khansa merayakan ulang tahunnya yang pertama, semua teman yang diundang, hampir semuanya datang, neneknya pun sangat heran melihat undangan begitu banyak untuk acara yang sangat sederhana tersebut. Kelihatan diwajah khansa pada waktu itu sangat bahagia, hampir disepanjang acara dia selalu tertawa layaknya anak yang sudah dewasa. Ada peristiwa yang sangat unik pada waktu itu, pada saat acara selesai dia tidak memperbolehkan temannya untuk pulang, dia menangis sekeras-sekerasnya waktu melihat teman-temannya pada pulang semua, dan orang tuanya pun sangat heran dan berusaha untuk mendiamkannya.

Watak khansa sangat keras dan susah untuk dapat menenangkannya, menurun dari sifat ayahnya. Kalau dia sudah marah dan menangis itu sangat sulit untuk dapat meredamnya. Anak seusia itu sudah memiliki watak dan emosi yang sangat tinggi, jika ini dibiarkan maka akan berdampak negatif pada perkembangannya di masa yang akan datang, jadi dalam hal ini, jika seorang anak memiliki sifat yang keras maka orang tua harus memiliki strategi dalam mengghadapinya. Dalam artian, menyampaikan sesuatu kepada anak harus dengan lemah-lembut dan tegas.

Karena ada seorang anak tetangga yang mirip wataknya dengan Khansa, anak ini semenjak kecil sampai sekarang apa yang dia mau selalu dituruti oleh kedua orang tuanya, karena sudah dibiasakan dari kecil, setelah dewasa anak ini menjadi sangat liar dan sangat kurang ajar terhadap orang tuanya, pada waktu itu dia minta dibelikan sepeda motor, padahal dia sudah mempunyai tiga sepeda motor dirumahnya, dan ibunya tidak menyanggupi permintaannya tersebut, anak ini marah dan melempari kaca rumahnya dan membanting semua perabotan, ibunya sangat takut padanya dan membiarkan itu semua terjadi, dan akhirnya, ibunya pun membeli sepeda motor tersebut. Penulis pun tidak habis pikir dengan kelakuan anak itu dan menyayangkan ibunya yang telah salah dalam mendidiknya akibatnya pemerolehan bahasa yang terjadi pada ini tidak berkembang dengan baik dan cenderung menyimpang. Karena diusia anak yang masih dinilah orang tua dapat menuntunnya terutama dalam proses pemerolehan bahasa dapat terbentuk sebaik mungkin sesuai dengan yang diharapkan. Karena kosakata yang diperoleh seorang anak itu didapat dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya, apapun bentuk kata yang didengar akan selalu dingat dan ditiru oleh mereka.

PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pemerolehan bahasa pada Khansa berjalan dengan normal dan sesuai dengan keadaan yang semestinya. Setiap kata yang diucapakan kepadanya itu langsung tersimpan dan terserap langsung ke dalam memori otaknya. Untuk itu tanpa disadari perbendaharaan kata yang diperoleh khansa begitu banyak seiring waktu berjalan.

SARAN

Saran penulis terhadap proses pemerolehan bahasa pada Khansa disini, hanya perlu ditingkatkan saja, dan orang tua harus peka dan respon dalam masalah perkembangan yang terjadi pada anaknya, baik itu perkembangan fisik maupun proses pemerolehan bahasa pada anak. Karena yang menentukan baik dan buruknya bahasa pada anak adalah bimbingan orang tua dan orang-orang yang ada di sekitarnyya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yusoff dan Che Rabiah Mohamed. 1995. Teori Pembelajaran Sosial dan Pemerolehan Bahasa Pertama. Jurnal Dewan Bahasa. Mei. 456-464.

Alamsyah, Teuku. 1997. Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acqusition). Diktat Kuliah Program S-2. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor.

Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language. Florida: Harcourt Brace Jovanovich Collage.

http://www.ziddu.com/download/10119064/pemerolehanbahasapada anak.rtf.html.

Jamaris, Martini, Kesulitan Belajar: Perspektif, Assesmen dan Penanggulangannya, (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2009).

Mangantar, Simanjuntak. 1982. Pemerolehan Bahasa Melayu: Bahagian Fonologi. Jurnal Dewan Bahasa. Ogos/September. 615-625.

Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.

Papalia, D. E dan Old, S. W. , Human Development (Psikologi Perkembangan), terj. (Jakarta: Prenada Media Group, 2008).

Prastyaningsih, Luluk Sri Agus. 2001. Teori Belajar Bahasa. Malang: FKIP Unisma.

Soejono, Ag, Aliran Baru dalam Pendidikan. (Bandung: CV. Ilmu, 1979).

Sujiono, Bambang dan Yuliani Nurani, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. (Jakarta: Yayasan Citra pendidikan Indonesia, 2005).

Intervensi Untuk Anak Autism

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

(lebih…)