KREATIVITAS DALAM BERMAIN

Posted: April 20, 2011 in Uncategorized

HAKEKAT BERMAIN

Bermain menurut Mayesty adalah kegiatan yang anak-anak lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan.[1] Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. Anak-anak pada umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya dimanapun mereka memiliki kesempatan. Piaget dalam Mayesty mengatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/kepuasan bagi diri seseorang; sedangkan Parten dalam Dockett dan Fleer memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosiaisasi, diharapkan melalui bermain dapat memberi kesempatan anak bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan.[2] Selain itu, kegiatan bermain dapat membantu anak mengenal tentang dirinya, dengan siapa dia hidup serta lingkungan tempat dimana dia hidup. Menurut Bettelheim kegiatan bermain adalah kegiatan yang “tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar”.[3] Sedangkan menurut Dockett dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Bermain merupakan aktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalui dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.[4] Beberapa teori klasik dan modern tentang bermain yang dapat dibuat sebuah bagan sebagai berikut.[5]

Teori Klasik Penggagas Tujuan Bermain
Surplus energiRekreasiRekapitulasi

Praktis

Schiller/SpencerLazarusHall

Groos

Mengeluarkan energi   berlebihMemulihkan tenagaMemunculkan instink nenek moyang

Menyempurnakan instink

Teori Modern Peran Bermain dalam Perkembangan
PsikoanalisaKognitif-PiagetKognitif- Vygotsky

Kognitif-Bruner/

Sulton-Smith Singer

Mengatasi konflik traumatik, copingterhadap frustasiMempraktekkan dan melakukan konsolidasi konsep- onsep serta keterampilan yang telah dipelajari     sebelumnyaMemajukan berpikir abstrak; belajar dalam kaitan

ZPD; pengaturan diri

Memunculkan fleksibilitas perilaku dan berpikir, imajinasi dan narasi    mengatur kecepatan stimulasi dari dalam dan dari luar

Berdasarkan pengertian bermain diatas, dapat di uraikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh anak pada hakikatnya adalah bermain yang menjadi kebutuhan dasar bagi setiap anak, baik itu bertujuan ataupun tanpa tujuan, yang didalamnya mengandung berbagai unsur kesenangan dan kegembiraan. Dalam bermain juga banyak memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya dan menggali kekuatan yang ada dalam diri anak.

Tujuan Bermain pada Anak Usia Dini

Pada dasarnya bermain memiliki tujuan utama yakni memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal anak usia dini melalui pendekatan bermain yang kreatif, interaktif dan terintegrasi dengan lingkungan bermain anak. Menurut Catron dan Allen penekanan dari bermain adalah perkembangan kreativitas dari anak-anak.[6] Semua anak usia dini memiliki potensi kreatif tetapi perkembangan kreativitas sangat individual antar anak yang satu dengan anak yang lain. Jadi dapat dikatakan bahwa dengan bermain anak dapat mengembangkan potensi kreatifnya, anak dapat berkreativitas dalam setiap kegiatan bermainnya. Adapun fungsi bermain pada anak menurut Wolfgang dan Wolfgang, diantaranya.[7]

1. Dapat memperkuat dan mengembangkan otot dan koordinasinya melalui gerak, melatih motorik halus, motorik kasar dan keseimbangan, karena ketika bermain fisik anak juga memahami bagaimana kerja tubuhnya.

2. Dapat mengembangkan keterampilan emosinya, rasa percaya pada orang lain, kemandirian dan keberanian untuk berinisiatif, karena saat bermain anak sering bermain pura-pura menjadi orang lain, binatang, atau karakter orang lain dan anak juga belajar untuk berempati.

3. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya, karena melalui bermain anak sering melakukan eksplorasi terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitar sebagai wujud dari rasa keingintahuannya.

4. Dapat mengembangkan kemandiriannya dan menjadi diri sendiri, karena melalui bermain anak selalu bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil keputusan, berlatih peran sosial sehingga anak menyadari kemampuan dan kelebihannya.

Karakteristik Bermain pada Anak Usia Dini

Jeffree, McConkey dan Hewson berpendapat bahwa terdapat enam karakteristik kegiatan bermain pada anak, diantaranya.[8]

1. Bermain muncul dari dalam diri anak: Keinginan bermain harus muncul dari dalam diri anak, sehingga anak dapat menikmati dan bermain sesuai dengan caranya sendiri, dalam hal ini bermain dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan.

2. Bermain harus bebas dari aturan yang mengikat, kegiatan untuk dinikmati: Bermain pada anak usia dini harus terbebas dari aturan yang mengikat, karena anak usia dini memiliki cara bermainnya sendiri. Untuk itulah bermain pada anak selalu menyenangkan, mengasyikkan, dan menggairahkan.

3. Bermain adalah aktivitas nyata atau sesungguhnya: Dalam bermain anak melakukan aktivitas nyata, bermain melibatkan partisipasi aktif baik secara fisik maupun mental.

4. Bermain harus difokuskan pada proses daripada hasil: Dalam bermain anak harus difokuskan pada proses, bukan hasil yang diciptakan oleh anak, disini anak mengenal dan mengetahui apa yang ia mainkan dan mendapatkan keterampilan baru, mengembangkan perkembangan anak dan anak memperoleh pengetahuan dari apa yang ia mainkan.

5. Bermain harus didominasi oleh pemain: Dalam bermain harus didominasi oleh pemain, yaitu anak itu sendiri tidak didominasi orang dewasa, karena jika bermain didominasi orang dewasa maka anak tidak akan mendapat makna apapun dari bermainnya.

6. Bermain harus melibatkan peran aktif dari pemain: Anak sebagi pemain harus terjun langsung dalam bermain, jika anak pasif dalam bermain anak tidak akan memperoleh pengalaman baru, karena bagi anak bermain adalah untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru

JENIS SERTA MACAM-MACAM KEGIATAN BERMAIN

Menurut Hurlock seperti yang dikutip oleh Mayke dalam buku Bermain, Mainan dan Permainan yang mengemukakan bahwa ada 2 penggolongan kegiatan bermain yaitu bermain aktif dan bermain pasif.[9] Secara umum bermain aktif banyak dilakukan pada masa kanak-kanak awal sedangkan kegiatan bermain pasif lebih mendominasi kegiatan pada akhir masa kanak-kanak yaitu sekitar usia praremaja karena adanya perubahan fisik, emosi, minat, dan sebagainya. Tapi tidak berarti bahwa kegiatan bermain aktif akan menghilang dan digantikan oleh kegiatan bermain pasif sebab kedua jenis kegiatan bermain ini akan selalu ada bersama, hanya saja penekanannya yang berbeda. Selanjutnya akan dibahas pengertian bermain aktif dan pasif, dilengkapi dengan macam-macam kegiatan untuk masing-masing kelompok serta manfaat yang dapat dipetik dari tiap kegiatan.

Pengertian Kegiatan Bermain Aktif

Kegiatan bermain aktif adalah kegiatan yang memberi kesenangan dan kepuasan pada anak melalui aktivitas yang mereka lakukan sendiri. Kegiatan bermain aktif juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan banyak aktivitas tubuh atau gerakan-gerakan tubuh. Seberapa sering anak melakukan kegiatan bermain jenis ini dan apa saja ragam permainan yang anak lakukan, sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain:

Kesehatan

Anak yang sehat akan lebih banyak melakukan kegiatan bermain aktif dan lebih memperoleh rasa puas dari apa yang mereka lakukan. Beda halnya pada anak-anak yang kurang sehat atau sering terkena penyakit, kegiatan bermain aktif akan cepat menimbulkan rasa lelah sehingga mereka kurang terdorong atau tidak dapat terlalu banyak melakukan jenis bermain aktif.

Penerimaan social dari kelompok teman bermain

Kegiatan bermain aktif pada umumnya melibatkan sjeumlah anak. Kalau anak merasa diterima oleh teman-teman sepermainan, ia akan lebih menyukai jenis kegiatan bermain aktif dan sebagian besar waktu bermainnya tentu akan terisi oleh jenis kegiatan ini.

Tingkat kecerdasan anak

Kecerdasan anak akan berpengaruh terhadap variasi kegiatan bermain aktif. Tingkat kecerdasan akan berpengaruh juga pada minat anak dalam bermain. Menurut Piaget perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kecerdasan seseorang, maka taraf kecerdasan seorang anak akan mempengaruhi kegiatan bermainnya.[10] Artinya bila anak mempunyai taraf kecerdasan di bawah rata-rata, kegiatan bermain mengalami keterbelakangan dibandingkan anak lain yang seusia.

Jenis kelamin

Anak perempuan umumnya tidak begitu sering melakukan kegiatan bermain aktif yang sifatnya agak “kasar” dan kelaki-lakian bila dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini terjadi bukan karena anak perempuan kurang sehat atau kurang kuat. Masyarakat dalam hal ini orang tua kurang mendukung bila anak perempuannya melakukan permainan yang kasar sehingga tanpa disadari juga mempengaruhi minat bermain anak.

Alat permainan

Alat permainan yang tersedia untuk anak akan menentukanjenis bermainnya, apakah anak lebih sering melakukan kegiatan bermain aktif dan pasif. Bila fasilitas yang tersedia untuk bermain aktif tidak banyak, otomatis anak akan lbih condong melakukan kegiatan pasif.

Lingkungan tempat atau dibesarkan

Lingkungan bisa diartikan sebagai daerah pedesaan dan perkotaan. Di daerah pedesaan yang masih mempunyai lahan luas akan lebih memungkinkan anak melakukan kegiatan bermain aktif dalam suasana alam terbuka. Sedangkan anak yang hidup di lingkungan perkotaan akan mempunyai kegiatan bermain aktif yang berbeda mengingat lahan yang terbatas dan banyaknya fasilitas lain yang bisa dinikmati.

MACAM-MACAM KEGIATAN BERMAIN AKTIF

Berikut ini akan diuraikan beberapa macam kegiatan bermain aktif, antara lain:

Bermain bebas dan spontan

Ciri dari kegiatan bermain ini dilakukan di mana saja, dengan cara apa saja dan berdasarkan apa yang ingin dilakukan. Maksudnya tidak ada aturan permainan yang harus dipatuhi oleh anak. Selama ia suka ia bisa melakukannya. Umumnya anak akan melakukan kegiatan bermain bebas dan spontan bila menemukan adanya sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang biasa dilihat. Atau bisa saja anak asyik bermain bebas dengan mainan baru yang mengundang rasa ingin tahu anak. Apabila mainan tersebut menyenangkan dan menantang anak untuk tahu lebih banyak, maka makin banyak pula waktu yang digunakan untuk bermain bebas. Kegiatan bermain ini umumnya banyak dijumpai pada anak usia antara 3 bulan sampai sekitar 2 tahun.

Bermain konstruktif

Bermain konstruktif yaitu kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu. Berbagai manfaat bisa diperoleh melalui kegiatan bermain konstruktif ini, antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif), melatih keterampilan motorik halus, melatih konsentrasi, ketekunan, daya tahan. Yang termasuk dalam kegiatan bermain konstruktif adalah menggambar, mencipta bentuk tertentu dari lilin mainan, menggunting dan menempel kertas atau kain, merakit kepingan kayu atau plastik menjadi bentuk tertentu dan masih banyak lagi kegiatan lain yang bisa digolongkan pada bermain konstruktif.

Bermain khayal/bermain peran

Bermain khayal atau bermain peran termasuk salah satu jenis bermain aktif, diartikan sebagai pemberian atribut tertentu terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang anak pilih. Apa yang dilakukan anak tampil dalam tingkah laku yang nyata dan dapat diamati dan biasanya melibatkan penggunaan bahasa. Kegiatan bermain khayal umumnya disukai dan sering dilakukan oleh anak usia sekitar 2 sampai 7 atau 8 tahun, dapat bersifat produktif atau kreatif dan bisa juga reproduktif (merupakan pengulangan dari situasi yang diamati anak sehari-hari). Dengan meningkatnya usia, kegiatan bermain khayal lebih bersifat produktif atau karena dari segi perkembangan kognisi, anak sudah lebih mampu mengkreasikan ide-ide yang original dan dengan adanya teman bermain, biasanya anak akan bermain khayal bersama temannya. Bermain khayal akan berkurang setelah anak memasuki usia sekolah karena kemampuan berpikir lebih realistis tapi kadang-kadang masih dilakukan terutama kalau teman-temannya juga berminat terhadap bermain khayal.

Mengumpulkan benda-benda (collecting)

Kegiatan mengumpulkan benda-benda juga termasuk jenis bermain aktif karena atas inisiatif anak. Anak mengumpulkan barang-barang yang menarik minatnya. Kegiatan ini mulai dijumpai pada anak usia prasekolah yaitu sekitar usia 3 tahun. Pada awalnya anak-anak senang mengumpulkan benda yang dijumpai, bukan karena harganya yang mahal atau bentuk yang bagus. Tetapi anak hanya senang melakukan kegiatan mengumpulkan saja. Anak prasekolah mengumpulkan benda-benda hanya secara acak, sedangkan anak usia sekoah mengumpulkan yang memang sedang popular di kalangan teman-teman  dan merasa puas kalau koleksinya melebihi teman-temannya. Ada pula segi negatifnya bila anak terlalu terpaku pada benda-benda yang dikumpulkan sehingga menimbulkan perasaan superior  atau begitu terhanyut dalam kegiatan bermain sendiri terlalu asyik dengan hasil koleksinya, lupa waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain.

Melakukan penjelajahan (eksplorasi)

Pada anak yang usianya lebih besar, eksplorasi dilakukan secara terencana dan ada pengaturannya karena biasanya melibatkan sekelompok teman. Sebaiknya ada orang yang mengarahkan dan membimbing anak. Kegiatan eksplorasi dijumpai pada aktivitas berkemah, pramuka, karya wisata ke tempat-tempat yang akan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi anak. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan ini adalah menambah pengetahuan anak dan mendorong untuk mencari tahu hal-hal yang baru. Manfaat kedua adalah mendukung kepribadian yang positif misalnya saja inisiatif untuk bertindak, bersikap tenang menghadapi masalah yang tidak diharapkan, bersikap sportif, percaya diri. Manfaat ketiga adalah sebagai alat bantu bagi anak untuk bersosialisasi atau menyesuaikan diri dengan teman-teman. Anak berada jauh dari orang tua yang biasanya melindungi serta membimbingnya, anak perlu belajar menyesuaikan diri terhadap harapan-harapan teman.

Permainan (games) dan olah raga (sport)

Menurut Bettelheim yang dikutip oleh Mayke, permainan dan olah raga adalah kegiatan yang ditandai oleh aturan serta persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama dan ditentukan dari luar untuk melakukan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan. Olah raga selalu  berupa kontes fisik sedangkan permainan bisa berupa kontes fisik atau juga kontes mental. Umumnya untuk melakukan kegiatan olah raga, dituntut  keterampilan fisik ataupun aturan permainan yang lebih ketat. Istilah sport seringkali digunakan untuk kontes yang membutuhkan pengaturan kelompok seperti pada olah raga bola basket, sepak bola, bola voley dan lain-lain. Kontes yang dilakukan anak-anak umumnya  tergolong pada permainan (games).

Musik

Aktivitas music bisa digolongkan dalam bermain aktif bila anak melakukan kegiatan music misalnya bernyanyi, memainkan alat music tertentu atau melakukan gerakan-gerakan atau tarian yang diiringi music. Manfaat yang dapat diperoleh adalah untuk ekspresi diri, sosialisasi dan memupuk rasa percaya diri anak.

Pengertian Bermain Pasif

Bermain pasif dapat diartikan sebagai kegiatan yang tidak terlalu banyak melibatkan aktivitas fisik. Ada orang tua yang berpendapat bahwa bermain pasif terutama yang berbentuk hiburan, akan sia-sia saja dan kurang bermanfaat bagi anak. Pendapat ini sebenarnya kurang tepat, ada macam-macam manfaat yang bisa diperoleh, selain itu jenis bermain pasif merupakan pelengkap terhadap bermain aktif. Beberapa sumbangan yang diperoleh dari bermain pasif atau hiburan adalah:

-Sebagai sumber pengetahuan

-Melalui hiburan seperti nonton film, mendengar cerita, dapat menambah perbendaharaan kata dan lebih paham bagaimana menggunakannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

-Melakukan identifikasi dengan tokoh-tokoh cerita sehingga anak mempunyai pemahaman social yang dapat membantunya menyesuaikan diri terhadap kehidupan bermasyarakat.

-Untuk dapat menikmati macam-macam hiburan yang dilihat, anak perlu belajar memusatkan perhatian terhadap apa yang dilihat, anak juga perlu mengingat serta mengerti penyebab kejadian atau peristiwa dalam cerita atau film. Hal ini akan menunjang perkembangan intelektual anak.

-Beberapa jenis hiburan dapat menghasilkan ilham untuk berkreasi dan mendorong anak untuk memanfaatkannya dalam membuat hasil karya yang asli dan unik (original).

Beberapa tokoh dalam cerita atau berita mempunyai ciri kepribadian yang baik dan dapat dijadikan contoh oleh anak serta membantu perkembangan kepribadian yang sehat.

Tahapan Bermain

Jean Piaget

Menurut Jean Piaget ada  4 tahapan bermain anak yaitu:

Sensory Motor Play (+/- ¾ bulan-1,5 tahun)

Pada tahapan ini, kegiatan anak mulai lebih terkoordinasi dan ia mulai belajar dari pengalaman  bermainnya.

Symbolic atau Make Believe Play (+/- 2-7 tahun)

Merupakan ciri periode operasional yang ditandai dengan bermain khayal  (pura-pura). . Pada tahapan ini, anak sudah mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau representasi benda lain.

Social Play Games with Rules (+/- 8-11 tahun)

Pada tahap ini anak menggunakan simbol yang banyak diwarnai nalar dan logika yang bersifat objektif dalam bermain. Kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh aturan permainan.

Games with rules and Sports (11 tahun ke atas)

Aturan pada olahraga jauh lebih ketat dan kaku, namun pada tahap ini anak senang melakukan kegiatan ini berulang-ulang dan terpacu untuk mencapai prestasi sebaik-baiknya. Pada tahap ini, bukan hanya rasa senang saja yang menjadi tujuan tetapi ada suatu hasil akhir tertentu seperti ingin menang, memperoleh hasil kerja yang baik.

Hurlock

Menurut Hurlock ada 4 tahapan bermain pada anak, yaitu:

Tahap Penjelajahan (Exploratory stage)

Ciri khasnya adalah berupa kegiatan mengenai obyek atau  orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda dikelilingannya, lalu mengamatinya.

Tahap Mainan (Toy stage)

Mencapai puncak pada usia 5-6 tahun. Pada tahap ini anak-anak berpikir bahwa benda mainannya dapat berbicara, makan,merasa sakit dan sebagainya.

Tahap Bermain ( Play Stage)

Terjadi pada saat anak mulai masuk Sekolah Dasar. Anak bermain dengan alat permainan, yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang juga dilakukan orang dewasa.

Tahap Melamun (Daydream Stage)

Diawali saat anak mendekati masa pubertas. Pada tahap ini anak banyak menghabiskan waktu untuk melamun atau berkhayal.

Rubin, Fein & Vandenberg (1983) dan Smilansky (1968)

Menurut Rubin, Fein & Vandenberg (1983) dan Smilansky (1968) ada 4 tahapan bermain pada anak, yaitu:

Bermain Fungsionil (Functional Play)

Tampak pada anak usia 1-2 tahun berupa gerakan yang bersifat sederhana dan berulang-ulang.

Bangun Membangun (Constructive Play)

Tampak pada anak usia 3-6 tahun. Anak membentuk sesuatu,menciptakan bengunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia.

Bermain Pura-pura (Make-believe Play)

Banyak dilakukan anak berusia 3-7 tahun. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari.

Permainan dengan peraturan (Games with Rules)

Umumnya dapat dilakukan anak pada usia 6-11 tahun. Anak sudah memahami dan bersedia mematuhi aturan permainan.

Alat Permainan Edukatif Sesuai Dengan Perkembangan

Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan. Alat Permainan Edukatif (APE) adalah sarana untuk merangsang anak dalam mempelajari sesuatu tanpa anak menyadarinya, baik menggunakan teknologi moderen, konvensional maupun tradisional. Latar belakang dibuatnya APE adalah sebagai upaya merangsang kemampuan fisik motorik anak (aspek psikomotor), kemampuan sosial emosional (aspek afektif) serta kemampuan kecerdasan (kognisi). Prinsip-prinsip APE merupakan prinsip produktifitas, kreatifitas, aktifitas, efektif dan efisien, serta menarik dan menyenangkan. Dari sudut pandang materinya, APE harus mampu mengembangkan daya pikir (kognisi), daya cepat, aspek bahasa, motorik dan ketrampilan. Melalui alat yang digunakan sebagai sarana bermain,sehingga anak diharapkan mampu mengembangkan fungsi intelegensinya, emosi dan spiritual sehingga muncul kecerdasan yang melejit. Pembuatan APE yang baik mampu mengembangkan totalitas kepribadian anak bukan karena kebagusannya, tetapi karena aspek kreatifitasnya, sehingga mampu menjadi sarana bermain yang aktif, menarik, menyenangkan dan bermanfaat.

Syarat Alat Permainan Edukatif  ( APE ):

Aman. Alat permainan anak di bawah usia dua tahun tak boleh terlalu kecil, catnya tak mengandung racun, tak ada bagian-bagian yang tajam, dan tak ada bagian-bagian yang mudah pecah. Pada umur ini anak mengenal benda di sekitarnya dengan memegang, mencengkeram, memasukkan ke mulut.

Ukuran dan berat mainan sesuai dengan usia anak. Bila ukurannya terlalu besar akan sukar dijangkau anak, sebaliknya kalau terlalu kecil akan berbahaya karena dapat dengan mudah tertelan oleh anak. Jika terlalu berat, anak akan sulit memindah-mindahkannya serta akan membahayakan mainan itu jatuh mengenai anak.

Disainnya jelas, punya ukuran-ukuran, susunan dan warna tertentu, serta jelas maksud dan tujuannya.

Berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, seperti motorik, bahasa, kecerdasan dan sosialisasi.

Dapat dimainkan dengan berbagai variasi tetapi tak terlalu sulit sehingga anak frustrasi, atau terlalu mudah sehingga anak cepat bosan.

Walaupun sederhana harus tetap menarik baik warna maupun bentuknya. Bila bersuara, suaranya harus jelas.

Mudah diterima oleh semua kebudayaan, bentuknya umum.

Tidak mudah rusak. Kalau ada bagian-bagian yang rusak, harus mudah diganti. Pemeliharaannya mudah, terbuat dari bahan yang mudah didapat, harganya terjangkau masyarakat luas.

Kategori alat permainan Edukatif:

Diperuntukkan bagi anak balita

Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.

Multifungsi

Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.

Melatih problem solving

Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.

Melatih konsep-konsep dasar

Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.

Melatih ketelitian dan ketekunan

Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.

Merangsang kreativitas

Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

Manfaat Alat Permainan Edukatif: (Mayke S. Tedjasaputra)

Melatih kemampuan motorik

Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

Melatih konsentrasi

Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

Mengenalkan konsep sebab akibat

Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

Melatih bahasa dan wawasan

Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

Mengenalkan warna dan bentuk

Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

Mengembangkan kreatifitas,

Alat permainan edukatif merangsang anak untuk selalu kreatif melakukan variasi dengan main.

DAFTAR PUSTAKA

Anggani Sudono, Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidik Usia Dini. Jakarta: Grasindo, 2000

Elizabeth B. Hurlock, 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga

Mayke S. Tedjasaputra, 2001. Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta: Garasindo.

Yuliani Nurani Sujiono, 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks

http://psychemate.blogspot.com/2007/12/tahapan- perkembangan bermain.html/ tgl searcing 2 april 2010


[2] Op.cit, p.144

[6] ibid, p. 145

[7] ibid, p. 145

[8] Ibid, p.155

[10] Ibid. p. 8

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s