THEORY OF SELF AND IDENTITY (Anak Usia 0-3 Tahun dan Anak Usia 3-6 Tahun)

Posted: April 19, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai aspek penting dari perkembangan anak pada umur 0 – 36 bulan dan umur 3 – 6 tahun untuk memahami dirinya (self understanding) dan mengenal identitasnya. Self understanding adalah  representasi kognitif anak mengenai dirinya dan mengandung substansi dan isi dari pemahaman (konsepsi) diri anak. Pemahamannya didasari dari berbagai peran dan sejumlah definisi yang dapat menjadi petunjuk rasional.[1]   

Anak usia 0-36 bulan

Ada 3 subjek psikologi yang dihadapi oleh anak batita dan pengasuhnya yaitu munculnya kesadaran tentang diri, perkembangan kemandirian dan perkembangan kempuan bersosialisasi.

Munculnya KesadaranTentang Diri

Anak antara usia 15 – 18 bulan:

1. Sudah mulai mengetahui konsep kesadaran diri

2. Belum bisa mengekspresikan secara verbal

3. Tidak bisa memahami instruksi yang kompleks

4. Pemahaman diri secara visual “ self recognition visual

Penelitian: peneliti menaruh setitik pewarna makeup di hidung bayi dan melihat apakah bayi memegang hidung mereka atau tidak. (Amsterdam, 1968; Lewis & Books-Gunn, 1979). Rata-rata anak mengenali dirinya pada usia 18 bulan (Lewis & others, 1989).

- Usia 20 – 24 bulan anak sudah mulai menggunakan kata ganti pertama seperti “aku” mau.

- Di usia 19-30 bulan anak mulai mendeskripsikan besar, kecil, bagus, cantik, kuat tentang diri mereka sendiri

Perkembangan Autonomy atau Kemandirian

Menurut Erikson (1950), usia 18 bulan sampai 3 tahun adalah tahap kedua dari perkembangan kepribadian: autonomy vs shame and doubt. Anak-anak usia ini mulai mandiri dan bisa mengontrol diri mereka sendiri, contoh: toilet training dan mengungkapkan keinginan lewat kata-kata. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau guru yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila guru tidak sabar, banyak melarang anak, menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak dan membuat anak merasa malu.

Perkembangan Moral: Socialization dan Internalization

Socialization adalah perkembangan dari kebiasaan, kemampuan, nilai dan motif yang membuat mereka bertanggungjawab, bisa bersosialisasi. Internalization adalah anak-anak yang sukses bersosialisasi tidak lagi harus mengikuti perintah untuk mendapatkan penghargaan, tapi mereka membuat society’s standard untuk mereka sendiri.

Mengembangkan Self regulation

Ini adalah kontrol terhadap diri sendiri untuk mengikuti perintah dari pengasuh walaupun pengasuh tidak berada di tempat. Pertumbuhan self regulation berhubungan dengan perkembangan kesadaran diri dan evaluative emotions, seperti empati, malu dan rasa bersalah. Biasanya perkembangan ini sempurna pada usia 3 tahun.

Origins of conscience: committed compliance

Conscience adalah ketidaknyamanan emosional tentang melakukan hal yang salah dan kemampuan untuk menghindarinya. Anak-anak dikatakan dapat memperlihatkan committed compliance bila mereka secara sukarela mengikuti perintah tanpa reminders.

Faktor-faktor sukses bersosialisasi:

1.Security of attachment, tanggap akan kebutuhan anak.

2.Belajar lewat observasi dari tingkah laku orang tua

3.Respon timbal balik antara orang tua dan anak

Anak Usia 3-6 tahun

Self Concept dan Perkembangan Kognitif

Representasi kognitif anak mengenai diri merupakan substansi dan isi dari konsepsi/gambaran diri anak yang pemahamannya didasari dari berbagai peran anak dan orang-orang yang mendefinisikan siapa anak tersebut sehingga dapat menjadi petunjuk rasional. Contoh : Anak perempuan 13 tahun, paham bahwa dia adalah anak perempuan, duduk di bangku SMP, aktif di OSIS, dan punya hobi kesenian.

Perubahan pemahaman diri

Ada 3 perubahan dalam definisi tentang diri anak usia 4 – 7 tahun, yaitu:

Single representations: terisolasi, memandang dari satu dimensi dan pikirannya masih melompat-lompat dari satu topik ke topik lain. 5 karakteristik[3] utama yang menjadi perhatian, antara lain :

1. Kebingungan dalam mengenal diri, pikiran dan tubuh – contoh : saya berbeda dari dia karena saya lebih tinggi

2. Dekripsi konkret – contoh : aku tinggal di rumah besar

3. Deskripsi fisik – contoh : aku berbeda dari dia karen aku lebih tinggi dari dia

4. Desktripsi aktif lebih sering kepada yang tidak realistis walaupun positip — contoh : aku bisa berhitung padahal belum bisa, hal ini karena anak belum bisa membedakan kompetensi aktual dan yang diinginkan; belum bisa membedakan antara ideal dan realitas diri; jarang terlibat dalam perbandingan sosial – bagaimana anak dibandingkan dengan orang lain.

5.Belum mampu mengenal lawan dari suatu atribut – contoh : baik dan buruk, bahaya dan tidak bahaya.

Representational mappings:menghubungkan satu aspek dirinya ke aspek yang lain. Pemahaman diri tidak sebatas cara visual tetapi sudah mengenali dirinya dari tubuhnya, dipahami secara fisik seperti ukuran, bentuk, dan warna. Contoh anak 4 tahun bilang “saya berbeda dari dia karena saya mempunyai rambut warna coklat dan dia warna blonde” atau “saya berbeda dari dia karena saya lebih tinggi dari dia”

Representational systems: tahap dimana anak mulai menggabungkan sifat yang spesifik tentang dirinya ke konsep umum dan multidimensi, misalnya: saya bagus dalam bermain bola, tapi jelek dalam berhitung. Pada masa akhir kanak-kanak (5 – 6 tahun), pemahaman diri anak lebih kompleks seiring dengan perubahan perkembangan dari mendefinisikan karakteristik luar kepada mendefinisikan karakteristik internal yang terjadi pada diri anak. Karakteristik yang menjadi penyebab terjadinya perubahan adalah:

1. Karakteristik internal digunakan dalam mendefinisikan diri mereka dan mereka sudah menyadari keadaan diluar diri – contoh : Aku pintar dan populer

2. Social aspect – contoh : Saya pramuka; Saya katolik; Saya punya 2 sahabat

3. Social comparison – contoh : Aku cukup baik tidak selalu khawatir setiap saat. Saya biasanya mudah marah tapi sekarang lebih baik. Saya juga merasa bangga ketika saya berkelakuan baik di sekolah.

4.Comparison with others – Contoh : Saya pintar berhitung, Andi pintar membaca.

Menurut Wang (2004), perbedaan kebudayaan juga mempengaruhi cara anak menilai diri mereka sendiri. Ini dikarenakan orang tua mengirimkan secara halus lewat percakapan sehari-hari, keyakinan dan gagasan tentang bagaimana mengartikan diri itu. Menurut Wang, orang China lebih menekankan aspek kekuasaan, sikap yang semestinya dan rasa memiliki terhadap masyarakat sekitar sedangkan orang Amerika lebih menekankan aspek keindividuan, pengekspresian diri, dan harga diri.

Self Esteem dan Konsep Diri

Self Esteem

Self esteem adalah: penjelasan mengenai gambaran atau gambaran positip tentang dirinya oleh orang lain, jadi merupakan evaluasi umum seseorang mengenai dirinya (Contoh: seseorang mempersiapkan dirinya menjadi individu yang baik) tetapi tidak  selalu sama dengan kenyataan (Contoh: self esteem pada anak mencerminkan believe bahwa dia menarik atau pintar, tapi belum tentu akurat).

Mengukur self esteem

Metode pengukuran untuk self esteem antara lain :

1. Kompetensi skolastik    – kemampuan akademik  [ya/tidak]

2. Kompetensi atletis         – [tinggi/sedang/rendah]

3. Penerimaan sosial          – [menerima orang lain]

4. Penampilan fisik              – terjadi dari masa kanak-kanak sampai usia setengah baya

5. Cara berprilaku ditambah dengan nilai diri secara keseluruhan.

Pengukuran self esteem bisa dilakukan dengan cara :

1. membuat pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan opini/jawaban anak tentang diri mereka secara keseluruhan juga evaluasi diri mereka, skor jawaban menunjukan tingkat self esteem mereka apakah tinggi, sedang, atau rendah.  (untuk anak umur 8 tahun ke atas).

2. membuat pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan gambar dan jawaban untuk menunjukan tingkat self esteem mereka juga menggunakan gambar, misal lingkaran besar dan kecil. Cara tradisional lain dengan menggunakan model cermin melalui pertanyaan bagaimana orang lain melihat dirinya dengan jawaban senang/tidak senang (untuk anak umur 4 – 7 tahun, karena anak seumur ini belum dapat menilai diri mereka secara keseluruhan).[4]

Vygotsky’s Model:

- Untuk mempelajari tentang perkembangan anak adalah dengan melakukan observasi pada mereka dalam memecahkan masalah – contoh : anak pra sekolah sambil mengerjakan pekerjaannya ia bicara sendirian atau private speech (Piaget menyebutnya egosentrik)

- Interaksi sosial memainkan peranan penting dalam pengembangan berpikir anak dan kemampuan-kemampuan memecahkan permasalahan, dan perkembangan sosial dan kognitif tidak dapat dipisahkan (interdependent), contoh perkembangan pengetahuan anak tentang mereka dan kemampuan mereka mengevaluasi diri mereka sendiri sangat akurat mempunyai pengaruh terhadap interaksi mereka dengan orang lain.

Sejauh mana self esteem berubah seiring dengan bertambahnya usia?

- Berubah seiring bertambahnya usia

- Meninggi pada masa kanak-kanak, menurun pada remaja, dan mingkat lagi pada masa dewasa sampai masa dewasa akhir. (Penilitian Robins dkk, 1999)

- Kebanyakan penelitian hanya bersifat korelasi bukan eksperimen

Peran orang tua terhadap self esteem anak menunjukan tinggi (Coopersmith, 1967 – Child Development, John W. Santrok) apabila atribut-atribut di bawah ini disertakan:

- Ekspresi afeksi

- Menunujukan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi anak

- Rumah tangga harmonis

- Partisipasi kegiatan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga

- Selalu siap memberikan bantuan ketika dibutuhkan anak

- Menetapkan peraturan yang jelas dan adil

- Mematuhi dan menjalankan peraturan

- Membiarkan anak bebas dalam batasan yang jelas

Initiative versus Guilt

Menurut Erikson (1950), ini adalah tahap ketiga dari perkembangan psikososial. Inisiative vs Guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Guru dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif, sebaliknya bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.

Identity  

Identitas/identity adalahgambaran mengenai diri yang perkembangannya berlangsung sedikit demi sedikit dan kompleks. Teori Erik Erikson mengenai identity development:

1. Identity diffusion – individu yang belum mengalami krisis dan belum bisa membuat komitmen karena tidak mempunyai minat

2. Identity fourclosusre – sudah membuat komitmen tapi belum krisis

3. Identity moratorium – mas kritis, belum memiliki komitment dan kalaupun ada masih kabur

4. Identity achievement – sudah melewati masa kritis dan sudah membuat komitmen

Pencarian identitas dibantu oleh “moratorium psikososial” yaitu celah antara masa kanak-kanak dan tanggung jawab masa dewasa. Bagi seorang anak menjelaskan identitas akan dapat meningkatkan rasa percaya dirinya dan mempermudah bersosialisasi.Pada anak identitas utama sebaiknya diutamakan untuk dikenalkan, misalnya: nama dan alamat. Kemudian bertahap, pada misalnya nama panggilan dahulu lalu baru nama lengkap; Mengulang-ulang, karena daya ingat anak masih terbatas sehingga proses mengulang-ulang menjadi hal yang sangat penting; Sabar, jika anak salah menyebutkan identitas, kita tidak perlu menyalahkan; Mendukung anak karena jika anak didukung maka ia pun akan merasa senang hatinya untuk memperbaiki kesalahannya.

Daftar Pustaka

Papalia, Diana E., (2008). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Papalia, Diana E., (1995), .Human Development, New York, Mc. Graw Hill

Santrock, Jhon W. 1996. Child Development, Chicago : Brown & Benchmark

Santrock, Jhon W., (2007). Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga

Vasta Ross, Haith Marshall M & Miller ScottA., (1999). Child Psychology. New York Weinheim Brisbane Singapore Toronto

http://www.buzz.com/2009/02/16/mengenal identitas diri


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s