Pemerolehan Bahasa Kedua

Posted: Maret 4, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Semua manusia termasuk mereka yang hidup didalam hutan rimba dan pulau-pulau terpencil menggunakan bahasa untuk saling berkomunikasi. Apapun yang dilakukan oleh manusia ketika berinteraksi dengan sesamanya, entah itu ketika bermain, berkelahi, bercinta atau melakukan transaksi jual beli, mereka berbicara dengan tatap muka, terkadang juga kita berbicara  melalui telepon. Terkadang kita bicara dengan menggunakan kata-kata lisan, terkadang cukup dengan menggunakan fasilitas sms di handpone kita. Singkat kata dalam kehidupan kita hampir tidak ada waktu berlalu tanpa kita berbicara, bahkan dalam tidur pun terkadang kita masih berbicara. Sebagian dari kita malah berbicara kepada hewan peliharaan, sebagian lagi malah senang berbicara sendiri. Kajian dan Fenomena Bahasa Kedua ini pertama kali dilakukan oleh Thomas Mowbray setelah Raja Richard memindahkan dia dari Inggris ke Perancis. Dalam perkataan Thomas Mowbray kita dapatkan kekhawatiran umum bagi yang harus meninggalkan bahasa aslinya dan kebudayaan asli guna menyesuaikan ke dalam sekelilingnya dan menguasai bahasa yang baru. Sebab periode itu Mowbray merasa tidak mampu untuk mengekspresikan dirinya dalam bahasa baru seperti bahasa aslinya sendiri. Problem Mowbray ini bersifat umum. Mempelajari bahasa kedua terjadi di seluruh dunia karena berbagai sebab seperti imigrasi, kebutuhan perdagangan dan ilmu pengetahuan serta pendidikan. Belajar bahasa lain mungkin menjadi penting dalam aktivitas intelektual manusia setelah menguasai bahasa ibu. Oleh karena itu tidaklah heran bahwa riset di bidang ini menjadi sangat menarik dalam ilmu pengetahuan kognitif. Sebab begitu kompleksnya dalam penguasaan bahasa kedua[1].

Sejak zaman dahulu, Negara inggris dikenal sebagai kerajaan dengan kesenian yang memiliki kebudayaan dan kesenian yang menarik serta cara dan perilaku yang sopan dalam kehidupan sehari-harinya pada abad ke XVI-XIX, pelatihan untuk berbagai tatacara serta etika hanya bisa didapatkan oleh kalangan tertentu saja, teutama dikalangan para bangsawan inggris, sehingga terbentuk kesenjangan social yang sangat mencolok antar kalangan atas dan kalangan menengah bawah. Pada abad ke XX barulah pelatihan etika tersebut mulai oleh berbagai kalangan masyarakat inggris termasuk berbagai masyarakat yang berasal dai kalangan menengah ke bawah[2].. Jika dilihat dari segi tatacara dan etika dalam kehidupan sehari-hari, Negara kerajaan Inggris merupakan salah satu negara benua eropa yang diakui secara internasional memiliki etika yang dianggap sebagai sifat sopan. Oleh karena itu banyak usaha dilakukan oleh berbagai kalngan masyarakat dari berbagai Negara untuk mempelajari kebudayaan dan etika dari masyarakat Negara kerajaan Inggris. Dalam hal ini, baik Inggris maupun Indonesia telah bertindak secara suka-suka didalam membuat kesepakatan umum mengenai kata-kata penyebutan benda-benda hasil kebudayaan yaitu table (meja) dan chair (kursi) didalam bahasanya masing-digunakan oleh manusia adalah faktor cuaca dan budaya. Penggunaan bahasa dikalangan umat manusia merupakan suatu fenomena yang bersifat universal dan jumlah bahasa yang digunakan sangat banyak, yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Perbedaan diantara bahasa-bahasa yang digunakan ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya karena bahasa itu merupakan suatu convention (kesepakatan umum) yang bersifat arbitrary (suka-suka). Setiap orang biasanya hanya mampu berbicara dengan menggunakan satu bahasa saja yaitu, bahasa yang ia peroleh secara otomatis dan wajar karena biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh orang-orang yang berada diluar lingkungan kelompok masyarakatnya. Ia tidak memahami bahasa-bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi oleh orang-orang yang berada diluar lingkungan kelompok masyarakatnya. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh seseorang didalam lingkungan kelompok masyarakatnya, yang dia peroleh secara alamiah dan wajar sejak lahir disebut bahsa ibu atau bahasa pertamaorang tersebut, sedangkan bahasa yang digunakan untuk berkominikasi oleh orang-orang di luar lingkungan kelompok masyarakatnya dinamakan bahasa asing yang apabila dipelajari oleh orang tersebut akan menjadi bahasa keduanya. Istilah bahasa kedua atau second language digunakan untuk menggambarkan bahasa-bahasa apa saja yang pemerolehannya/penguasaannya dimulai setelah masa anak-anak awal (early childhood), termasuk bahsa ketiga atau bahasa-bahasa lain yang dipelajari kemudian. Melihat keadaan dunia sekarang yang semakin go internasional dimana teknologi mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga banyak teknologi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Hal ini menyebabkan terjadinya interaksi antara Negara yang satu dan Negara lainnya semakin bebas dan terbuka, maka akan lebih baik jika masyarakat mempelajari suatu hal yang bersifat diakui secara internasional seperti halnya bahasa inggris yang digunakan dan dipelajari di setiap Negara yang bahasa internasional, maka akan bermanfaat juga bagi masyarakat jika mempelajari kebudayaan serta etika yang juga diakui secara internasional sebagai kepribadian yang sopan.

PEMBAHASAN

Pengertian Pemerolehan Bahasa Kedua

Sebelum membahas pengertian pemerolehan bahasa kedua, pertama-tama yang harus diketahui adalah istilah pemerolehan. Menurut Dardjowidjojo[3] dalam bukunya “Psikolinguistik”, istilah pemerolehan dipakai untuk menerjemahkan bahasa Inggris acquisition, yang diartikan sebagai proses penguasaan bahasa secara alami dari seorang anak saat ia belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini berbeda dari istilah pembelajaran yang dalam bahasa Inggris adalah learning. Dalam pengertian pembelajaran, proses itu berada dalam suasana yang formal, belajar di kelas serta ada seorang guru yang mengajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses seorang anak belajar menguasai bahasa ibunya adalah pemerolehan, sedangkan proses orang dewasa yang belajar di kelas adalah pembelajaran.

Menurut Wikipedia[4], pemerolehan bahasa kedua adalah proses seseorang belajar bahasa kedua disamping bahasa ibu mereka. Pemerolehan bahasa kedua merujuk kepada apa yang siswa lakukan dan tidak merujuk kepada apa yang guru lakukan. Penelitian pemerolehan bahasa kedua mempelajari psikologi dan sosiologi dari proses pembelajaran. Terkadang istilah “pemerolehan” dan “pembelajaran” tidak diperlakukan sebagai sinonim tapi justru mengacu pada aspek sadar dan bawah sadar dari masing-masing proses. Bahasa kedua atau B2 biasanya mengacu pada semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu mereka, yang juga disebut bahasa pertama, B1.

Di Indonesia, bahasa pertama dari seorang anak yang tinggal di Jawa Tengah, bisa jadi bahasa daerahnya, yaitu bahasa Jawa. Dalam bukunya “Sosiolinguistik”, Chaer dan Agustina[5] menulis bahwa pada umumnya, bahasa pertama seorang anak Indonesia adalah bahasa daerahnya masing-masing karena bahasa Indonesia baru dipelajari ketika anak masuk sekolah dan ketika ia sudah menguasai bahasa ibunya. Menurut sebuah blog di dalam sebuah situs[6], elemen-elemen dari sebuah bahasa yang baru, seperti perbendaharaan kata, komponen fonologi dan struktur tata bahasa dikembangkan serupa dengan tahap pembelajaran yang bayi tempuh ketika memperoleh bahasa pertama: babbling (bababa), perbendaharaan kata (milk lalu kemudian milk drink), penolakan (no play) dan membentuk pertanyaan ( where she go). Pada usia 6 sampai 7 tahun ke atas, anak mulai membagi kedua bahasa tersebut. Dibandingkan dengan pemerolehan bahasa pertama, proses pemerolehan bahasa kedua tidak linear, tapi lebih seperti jalan yang zigzag. Menurut Krashen seperti yang dikutip oleh blog tersebut, untuk anak-anak ini, bahasa kedua adalah hal yang dipelajari daripada diperoleh. Dalam beberapa kasus, bahasa kedua diajarkan lewat instruksi formal dan dipelajari lewat proses sadar yang berakhir dengan “mengetahui tentang bahasa”. Di samping itu, gangguan dari bahasa ibu seperti: fonologi, morfologi dan sintaks memengaruhi bahasa kedua mereka dan menciptakan kesulitan. Mereka mungkin saja kesulitan mengenali beberapa suara dari bahasa baru atau kesulitan menggerakkan mulut dan lidah mereka dalam cara yang tidak biasa (sehingga mengakibatkan aksen yang berbeda). Lebih lanjut, kesadaran diri dan motivasi pelajar ketika mencoba bahasa baru mungkin juga menjadi masalah dalam proses pemerolehan. Karena itu, untuk mencapai pemerolehan, anak harus terus menerus mendapat penerapan bahasa kedua yang benar dalam banyak konteks linguistik yang berguna bagi mereka.

Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak Usia 0-6 tahun

Age Language Developments
Birth to 1 month Infant communicates by crying and recognizes sounds heard in womb
1-6 months Infant coosv  Infant recognizes familiar words
6-12 months Infant recognizes sounds in native languagev  Infant babbles,  then imitates language sounds. Infant may say first words
12-18 months Toddler overextends word meanings
18-30 months Naming explosion takes placev  First sentences are often            telegraphicv  Child begins to engage in conversationsChild overregularizes language rules
30-36 months Child learns new words almost dailyv  Child combines three or more words, and can say up to 1,000 wordsv  Child uses past tense
3-4 years Vocabulary, grammar and syntax are improving and more complexv  Emergent literacy skills are developingv  Private speech increases
5-6 years Speech is almost adultlike, and spoken vocabulary is about 2,600 wordsv  Child understands about 20,000 wordsv  Child can retell plots

Karakteristik ini diambil dari Human Development[7].

Universal bahasa: nature dan nurture

Dalam perbincangan mengenai proses pemerolehan bahasa terdapat perdebatan sengit di kalangan ahli bahasa mengenai sifat pemerolehan bahasa yaitu mengenai pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dan yang kedua adalah pemerolehan bahasa yang bersifat nature. Menurut para ahli bahasa, pemerolehan bahasa yang bersifat nurture berarti bahwa pemerolehan bahasa seseorang itu ditentukan oleh lingkungan sekitar dimana ia berada, sedangkan pemerolehan bahasa yang bersifat nature berarti bahwa pemerolehan bahasa itu pada dasarnya merupakan suatu bekal yang telah dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan ke dunia. Para pendukung pemerolehan bahasa yang bersifat nurture pada umumnya adalah para ahli bahasa dari aliran behaviorisme sedangkan para pendukung pemerolehan bahasa yang bersifat nature umumnya adalah mereka yang berasal dari aliran nativisme. Oleh karena itulah, pembahasan mengenai nurture dan nature ini tidak terlepas dari kedua aliran tersebut. Kedua sifat pemerolehan bahasa tersebut diatas merupakan topik yang cukup menarik bagi penulis untuk dibahas disini karena menurut beberapa pihak masalah nature dan nurture ini masih merupakan suatu kontroversi yang belum ditemukan jalan keluarnya sedangkan menurut pihak lain, keduanya telah menjadi sesuatu yang sesungguhnya sama-sama diperlukan dalam pemerolehan bahasa. Pada bagian pembahasan dari tulisan ini akan dibagi ke dalam tiga  bagian utama, yang pertama adalah pembahasan mengenai pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang para ahli yang mendukungnya, bagian kedua adalah pembahasan mengenai pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang para ahli yang mendukungnya, dan bagian yang ketiga adalah contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa seseorang.

Nurture

Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34).  Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

Ivan Pavlov

Ivan Pavlov adalah seorang ahli psikologi dari Rusia yang melaksanakan serangkaian eksperimen yang kemudian terkenal dengan sebutan classical conditioning. Dalam eksperimennya tersebut Pavlov menggunakan anjing sebagai subyek. Pavlov kemudian memeroleh kesimpulan bahwa stimuli netral awal yang berupa suara dari garpu yang dibunyikan menghasilkan kekuatan yang mendatangkan respon yang berupa pengeluaran air liur anjing yang pada mulanya dihasilkan dari stimuli lain yaitu penglihatan atau bau makanan anjing. Dengan demikian maka Pavlov telah membuktikan bahwa proses belajar itu terdiri dari pembentukan beragam asosiasi antara stimuli dan respon refleksif (Brown, 2000:80).

John B. Watson

John B. Watson adalah seorang psikolog yang menemukan istilah behaviorisme dan sekaligus menemukan suatu aliran ilmu psikologi baru yang menyatakan bahwa para psikolog seharusnya hanya terfokus pada perilaku yang dapat diamati secara langsung. Lebih jauh, menurut Watson, pada dasarnya pernyataan-pernyataan ilmiah dapat selalu diverifikasi (atau dibantah) oleh siapapun yang mampu dan bersedia untuk melakukan observasi yang diperlukan. Namun kemampuan ini tergantung pada kegiatan untuk memelajari hal-hal yang dapat diamati secara obyektif. Menurutnya proses kejiwaan bukan merupakan sebuah subyek yang tepat bagi studi ilmiah karena proses kejiwaan merupakan peristiwa pribadi yang tidak ada seorangpun yang dapat melihat atau menyentuhnya. Sedangkan perilaku merupakan respon atau aktifitas yang jelas atau dapat diamati oleh sebuah organisme. Maka Watson menegaskan bahwa para psikolog dapat memelajari apapun yang dilakukan atau dikatakan orang –berbelanja, bermain catur, makan, memuji seorang teman- namun mereka tidak dapat memelajari secara ilmiah pikiran, harapan, dan perasaan yang mungkin menyertai perilaku tersebut.

Berangkat dari pandangan barunya terhadap psikologi tersebut dan dengan berpegangan pada temuan Pavlov yaitu dengan menggunakan teori classical conditioning maka Watson menyatakan bahwa penjelasan atas segala bentuk pembelajaran adalah dengan melalui proses pengkondisian maka manusia membentuk sejumlah hubungan stimuli-respon, dan perilaku manusia yang lebih kompleks dipelajari melalui cara membangun serangkaian atau rantai-rantai respon (Brown, 2000:80).

Dengan demikian Watson mengambil posisi yang ekstrim terhadap salah satu pertanyaan psikologi yang tertua dan paling mendasar yaitu masalah mengenai nature dan nurture. Watson menyatakan bahwa setiap orang itu dibentuk menjadi apa adanya mereka kemudian dan bukan dilahirkan. Ia mengabaikan pentingnya keturunan, dengan menyatakan bahwa perilaku ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Namun pandangan Watson tersebut tidak pernah mendapat kesempatan untuk diuji lebih lanjut. Meskipun demikian tulisan-tulisannya memberikan sumbangan yang cukup besar bagi elemen lingkungan yang seringkali dihubungkan dengan behaviorisme.

B.F. Skinner

Seorang ahli bahasa lain yang juga berkecimpung dalam teori behaviorisme dan mengikuti jejak dan tradisi Watson adalah B.F. Skinner, seorang psikolog Amerika yang hidup pada tahun 1904 sampai dengan 1990. Setelah memperoleh gelar doktor pada tahun 1931, Skinner menghabiskan sebagian besar karirnya di Universitas Harvard tempat ia memeroleh kemasyuran atas penelitiannya terhadap pembelajaran pada organisme rendah, sebagian besar pada tikus dan burung dara. Pada tahun 1950-an ia memperjuangkan kembalinya pendekatan stimulus-respon milik Watson. Ia memiliki teori klasik yaitu Verbal Behavior yang merupakan usaha lanjutan dari teori umum pembelajaran Skinner sendiri yang disebut dengan pengkondisian operan (operant conditioning). Skinner melakukan eksperimen terhadap tikus dimana ia melatih tikus untuk mendapatkan makanan dengan menekan pedal tertentu. Setelah tikus tersebut mendapatkan pengetahuan bahwa jika ia ingin makan maka ia harus menekan pedal, kemudian proses untuk memeroleh makanan dipersulit dengan menyalakan lampu dimana sebelum mendapatkan makanan ia harus menekan pedal ketika lampu berkedi-kedip. Proses berikutnya adalah penekanan pedal sebanyak dua kali ketika lampu berkedip-kedip yang juga dapat dipahami oleh tikus tadi (Dardjowidjojo, 2003:235). Maka apa yang dimaksud dengan pengkondisian operan oleh Skinner adalah pengkondisian dimana organisme (manusia) menghasilkan suatu respon, atau operan (sebuah kalimat atau ujaran atau aktifitas-aktifitas yang beroperasi atas dasar lingkungan), tanpa adanya stimuli yang dapat diamati; operan tersebut dijaga (dipelajari) melalui penguatan (reinforcement) (Brown, 2000:22-23). Teori Skinner ini menerangkan bagaimana berbagai kecenderungan respon dicapai melalui pembelajaran. Jika respon diikuti oleh konsekuensi yang menguntungkan atau disebut juga penguatan, maka respon tersebut menguat dan jika respon menghasilkan konsekuensi negatif  atau hukuman), maka respon tersebut akan melemah. Melalui eksperimennya tersebut, Skinner menemukan bahwa pemerolehan pengetahuan, termasuk pengetahuan mengenai bahasa merupakan kebiasaaan semata atau hal yang harus dibiasakan terhadap subyek tertentu yang dilakukan secara terus-menerus dan bertubi-tubi (Dardjowidjojo, 2003:235).

Dalam bukunya Diluar Kebebasan dan Martabat (Beyond Freedom and Dignity) yang diterbitkan tahun 1971 Skinner menyatakan bahwa semua perilaku sepenuhnya diatur oleh rangsangan eksternal. Dengan kata lain, perilaku manusia ditentukan oleh cara-cara yang dapat diprediksi oleh prinsip-prinsip hukum, seperti halnya terbangnya anak panah yang diatur oleh hukum-hukum fisika. Maka, jika seseorang meyakini bahwa tindakan-tindakannya merupakan hasil-hasil dari keputusan-keputusan secara sadar, maka ia keliru. Menurut Skinner, semua manusia dikendalikan oleh lingkungannya, bukan oleh dirinya sendiri.

Selanjutnya, dengan mengikuti tradisi Watson, Skinner menunjukkan minat yang kecil terhadap apa yang terjadi “di dalam” diri manusia. Ia menyatakan bahwa adalah sia-sia untuk berspekulasi terhadap proses-proses kognitif pribadi yang tidak dapat diobservasi. Melainkan, ia memfokuskan pada bagaimana lingkungan eksternal membentuk perilaku yang jelas. Ia menyatakan adanya determinisme, yang menilai bahwa perilaku sepenuhnya ditentukan oleh stimuli lingkungan. Menurut pandangannya, orang cenderung menunjukkan beberapa pola perilaku karena mereka memiliki kecenderungan-kecenderungan respon  (response tendencies) yang stabil yang mereka capai melalui pengalaman. Kecenderungan-kecenderungan respon tersebut dapat berubah di masa mendatang, sebagai hasil dari pengalaman baru, namun mampu terus bertahan untuk menciptakan tingkat konsistensi tertentu dalam perilaku seseorang.

Lebih lanjut, Skinner memandang pribadi seorang individu sebagai sebuah kumpulan kecenderungan-kecenderungan respon yang terikat pada berbagai situasi stimuli. Sebuah situasi tertentu dapat dihubungkan dengan sejumlah kecenderungan respon  yang bervariasi dalam kekuatan tergantung pada pengkondisian di masa lalu. Karena kecenderungan-kecenderungan respon secara konstan diperkuat atau diperlemah oleh pengalaman-pengalaman baru, teori Skinner memandang perkembangan kepribadian sebagai sebuah perjalanan yang berkelanjutan seumur hidup. Skinner tidak melihat alasan untuk membagi proses perkembangan ke dalam beberapa tahap. Ia juga tidak memberikan importansi khusus pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak.

Dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, Skinner adalah seseorang yang mendukung nurture, karena baginya, setiap ujaran yang diucapkan manusia sesungguhnya mengikuti satu bentuk yang bersifat baik verbal maupun nonverbal dan perilaku bahasa semacam ini hanya dapat dipelajari manusia dari lingkungan atau faktor-faktor eksternal yang ada di sekitarnya (Pateda, 1991:99). Dengan demikian ia mempertegas dan memperjelas pandangan bahwa stimuli adalah hal yang terpenting dalam proses pemerolehan bahasa karena pada dasarnya stimuli yang memengaruhi respon.

Dalam hubungannya dengan aliran behaviorisme sendiri, menurut Lyons (1977:122) terdapat prinsip atau kecenderungan khusus yang menyatakan bahwa aliran ini cenderung memperkecil peran insting dan dorongan-dorongan yang dibawa sejak lahir dan penekanan atas peran yang dimainkan oleh pembelajaran dimana hewan dan manusia memperoleh pola-pola perilaku mereka; menekankan pada pemupukan (nurture) dan bukan pada sifat alami (nature), lebih menekankan pada lingkungan ketimbang pada faktor keturunan.

Selanjutnya Bell (1981:24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia memelajari bahasa, yaitu:

1.   Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia, hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.

2.   Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan peniruan.

3.   Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.

4.   Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.

Nature

Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

Noam Chomsky

Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).

Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236). Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).

Derek Bickerton

Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan  bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

David McNeill

Dalam Brown (2000:24) menyatakan bahwa LAD terdiri dari empat properti kebahasaan bawaan, yaitu:

1.   Kemampuan untuk membedakan bunyi ujaran manusia (speech sounds) dari bunyi lain dalam lingkungan

2.   Kemampuan untuk mengorganisir data kebahasaan menjadi beragam kelas yang dapat diperhalus atau diperbaiki di kemudian hari

3.   Pengetahuan bahwa hanya jenis sistem kebahasaan tertentu yang mungkin untuk digunakan dan jenis sistem lainnya tidak mungkin untuk digunakan

4.   Kemampuan untuk melakukan evaluasi secara konstan terhadap sistem kebahasaan yang terus berkembang sehingga dapat membangun sistem yang paling sederhana dari masukan kebahasaan yang ada.

Sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia mempelajari bahasa, Bell (1981:24) juga berusaha mengajukan beberapa pandangan Chomsky, yaitu:

1.   Aktivitas yang terjadi di dalam pikiranlah, misalnya cara memproses, menyimpan dan mengambil pengetahuan dari simpanan tersebut, yang merupakan pusat perhatian utama dan bukan perwujudan secara fisik dari pengetahuan.

2.   Pembelajaran merupakan masalah “penerimaan secara masuk akal” dari data yang diterima otak melalui panca indera.

3.   Kemampuan individu untuk merespon situasi baru dimana jika hanya berbekal kebiasaan stimuli-respon semata tidak akan dapat membuat individu tersebut siap.

4.   Pembelajaran merupakan suatu proses mental karena adalah lebih baik untuk mengetahui dan tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata daripada berkata-kata tanpa pemahaman.

Contoh Kasus Nature dan Nurture

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.

1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

2.  Di sebuah desa di Perancis, pada tahun 1800, ditemukan anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tinggal di hutan dan sering menyusup ke desa untuk mencari makan. Ketika tertangkap dan dididik oleh direktur Institut Tuna Rungu yaitu Dr. Sicard, anak tersebut tidak dapat berbicara seperti manusia lain. Kemudian ia dididik oleh ahli lain, Jean-Marc-Gaspard Itard. Dibawah asuhan dan didikan yang baru ini, pola laku kehidupan Victor, nama yang diberikan pada anak laki-laki tersebut, dapat berubah namun tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:236-237).

3.  Di Los Angeles, pada tahun 1970, ditemukan seorang anak perempuan yang disekap oleh orang tuanya di gudang belakang rumahnya. Selama 13 tahun ia tinggal dan sering disiksa ayahnya di dalam gudang tersebut, dan hanya diberi makan namun tidak pernah diajak berbicara oleh orang tuanya. Setelah diselamatkan, anak perempuan tersebut diberi nama Ginie kemudian dilatih agar dapat berbahasa selama 8 tahun, namun ternyata sama halnya dengan Victor pada kasus sebelumnya, ia tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:237).

4.   Di Ohio, seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun, yaitu Isabelle, diasuh oleh ibunya yang tuna wicara. Ia kemudian diasuh oleh Marie Mason, seorang pimpinan rumah sakit, dengan cara yang normal, dan ternyata Isabelle mampu menggunakan bahasa seperti anak-anak normal lainnya (Dardjowidjojo, 2003:237). Pada contoh kasus pertama yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna. Sedangkan pada contoh kasus kedua dan ketiga, meskipun Victor dan Isabelle juga memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa atau nature, namun karena tidak adanya pengaruh dari lingkungan semenjak mereka dilahirkan atau nurture, Victor tinggal di hutan dan Ginie yang meskipun tinggal dengan orangtuanya sendiri namun hanya disiksa dan tidak pernah diajak bicara, maka usaha yang diupayakan ketika mereka telah berusia lebih dari 10 tahun agar kedua anak tersebut dapat menggunakan bahasa menjadi sia-sia belaka. Untuk kasus keempat, yaitu Isabelle, proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture yang diberikan di usia yang tergolong lebih muda daripada Victor dan Ginie, yaitu 6,5 tahun, ternyata memberikan bantuan yang cukup besar terhadap kemampuan bawaannya atau nature sehingga ia mampu menggunakan bahasa. Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.

Universal dalam pemerolehan bahasa

Pemerolehan bahasa seorang anak berkaitan dengan konsep universal. Ada tiga komponen yang universal, yaitu: komponen fonologi, sintaksis dan semantik.

1. Universal pada komponen fonologi

Menurut Roman Jakobson, seperti yang dikutip oleh Dardjowidjojo, dalam hal vokal bunyi pertama yang keluar waktu anak mulai berbicara adalah bunyi /a/, /i/, dan /u/. Hal ini dikarenakan ketiga bunyi ini membentuk sistem vokal minimal (minimal vocalic system), sehingga bahasa manapun di dunia ini pasti memiliki minimal tiga vokal ini. Dalam hal konsonan, yang pertama muncul adalah oposisi antara bunyi oral dengan bunyi nasal (/p-b/ dan /m-n/) lalu bunyi bilabial dengan dental (/p/-/t/). Sistem ini dinamakan sistem konsonantal minimal (minimal consonantal system).

Laws of Irreversible Solidarity yang diajukan Jakobson, seperti yang ditulis Dardjowidjojo, sebagai berikut:

a. Bila suatu bahasa memiliki konsonan hambat velar, bahasa tersebut pasti memiliki konsonan hambat dental dan bilabial. Contoh: bila bahasa X memiliki bunyi /k/ dan /g/, bahasa tersebut pasti memilki /t/-/d/ dan /p/-/b/.

b. Bila suatu bahasa memiliki konsonan frikatif, bahasa tersebut pasti memiliki konsonan hambat. Contoh: bahasa Y memiliki /f/ dan /v/, bahasa itu pasti memiliki /p/-/b/, /t/-/d/ dan /k/-/g/.

c. Bila suatu bahasa memiliki konsonan afrikat, bahasa tersebut pasti memiliki konsonan frikatif dan konsonan hambat. Contoh: bahasa Z memiliki /c/-/j/, bahasa itu pasti memiliki /s/, /t/ dan /d/.

Bunyi yang dikuasai anak mengikuti urutan universal di atas. Karena /m/ dan /a/ lebih mudah, maka bunyi ini akan keluar awal dari anak. Itulah sebabnya kata awal yang keluar dari anak adalah /mama/, yang diartikan sebagai ayah dan ibu.

2. Universal pada komponen sintaktik dan semantik

Pada komponen sintaktik ada pola kalimat yang diperoleh secara universal. Dimanapun anak itu berada, ia akan selalu mulai dengan ujaran satu kata, kemudian berkembang menjadi dua kata, setelah itu, tiga kata atau lebih. Pada komponen semantik, macam kata yang dikuasai dan berapa jumlahnya tergantung pada keadaan masing-masing anak. Anak petani di desa mungkin lebih awal menguasai kata cangkul dan sabit dibandingkan kata komputer atau kamera. Jumlah kata yang akan dikuasai mungkin tidak sebanyak anak perkotaan dari keluarga mampu yang dapat membelikan buku, mainan untuk anaknya. Urutan universal dalam komponen ini adalah prinsip sini dan kini (here and now). Maksudnya, dimanapun juga kosakata yang dikuasai anak adalah objek yang ada di sekelilingnya dan yang saat itu ada. Anak belum dapat membayangkan benda yang tidak ada, atau peristiwa yang sudah atau belum terjadi. Anak juga mengikuti prinsip universal yang disebut: penggelembungan makna (overextension). Jika ia diperkenalkan dengan suatu benda yang bundar dan disebut bahwa itu bulan, maka sewaktu ia melihat jam atau gambar matahari, ia akan menamakannya bulan.

Pemerolehan Bahasa Kedua dan Bilingual

Istilah bilingual erat kaitannya dengan pemerolehan bahasa kedua. Diebold, seperti dikutip oleh Chaer dan Agustina, menyatakan bahwa bilingualisme pada tingkat awal atau disebut incipient bilingualism adalah bilingualisme yang dialami oleh orang-orang, atau lebih spesifiknya anak-anak, yang sedang mempelajari bahasa kedua pada tahap awal. Pada tahap ini, walaupun bilingualisme masih sangat sederhana tapi tidak dapat diabaikan karena pada tahap inilah letak dasar bilingualisme selanjutnya. Lebih lanjut diuraikan oleh Chaer dan Agustina bahwa bilingualisme adalah rentangan bertahap yang dimulai dari menguasai B1 ditambah mengetahui sedikit akan B2, lalu penguasaan B2 meningkat secara bertahap, sampai pada akhirnya menguasai B2 sama baiknya dengan B1. Menurut Perez & Torrez-Guzman, seperti yang dikutip dalam sebuah blog yang ditulis oleh Beverly Clark[8], tidak ada dampak buruk bagi anak-anak yang bilingual. Perkembangan pola bahasa mereka sama dengan anak-anak yang monolingual. Dikatakan lebih lanjut bahwa anak-anak yang mengembangkan kecakapannya dalam menggunakan bahasa ibu mereka untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, memecahkan masalah dan berpikir dapat dengan mudah mempelajari bahasa kedua dalam cara yang sama.

Walaupun demikian ada beberapa variasi dalam seberapa baiknya dan seberapa cepatnya seseorang menguasai bahasa kedua. Tidak ada bukti bahwa dalam mempelajari bahasa kedua, anak mendapat lebih banyak keuntungan dibandingkan orang dewasa. Ketika seorang anak belajar bahasa kedua, ia akan tetap kesulitan dalam pengucapan, tata bahasa, perbendaharaan kata dan mungkin saja tidak akan pernah benar-benar fasih dalam bahasa tersebut. Tidak ada cara yang mudah untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat dengan mudah menguasai bahasa kedua dan mengapa yang lain tidak. Bialystok, menurut Clark, menyatakan bahwa pendidikan, sosial, perbedaan individual, kepribadian, usia dan motivasi dapat memengaruhi pembelajaran bahasa.

Linda M. Espinosa[9] dalam makalahnya, mengutip Bialystok, Genesee dan Hakuta & Pease-Alvarez, menyatakan bahwa adanya peningkatan dalam penelitian yang dilakukan oleh para peneliti, yang memperlihatkan bahwa banyak anak mampu belajar dua bahasa dan kemampuan bilingual yang mereka miliki memberi keuntungan dalam hal kognitif, budaya dan ekonomi.

Lebih lanjut Espinosa, yang masih mengutip pendapat Bialystok, menulis bahwa kemampuan bilingual telah dikaitkan dengan kesadaran yang lebih besar dan kesensitivitasan pada struktur linguistik, sebuah kesadaran yang ditransfer dan digeneralisasi pada literasi awal dan kemampuan nonverbal. Anak-anak yang mempunyai kesempatan untuk bicara dua bahasa harus didukung untuk tetap menjaga keduanya, sehingga mereka dapat menikmati keuntungan status bilingual. Anak-anak yang di rumahnya tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu harus didukung untuk mengolah bahasa rumah mereka sebaik bahasa Inggris. Menjaga bahasa rumah bukan hanya penting untuk akademik dan perkembangan kognitif anak di masa mendatang, tapi juga kemampuan anak untuk menciptakan identitas budaya yang kuat, mengembangkan dan melanjutkan ikatan yang kuat dengan keluarga, dan maju dalam dunia yang multilingual dan global ini.

Simultaneous vs. Sequential dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

Barry McLaughlin, seperti yang dikutip Espinosa, telah membuat perbedaan antara anak yang belajar bahasa kedua simultaneously or sequentially. Ketika seorang anak belajar dua bahasa simultaneously, contohnya: sebelum usia tiga tahun, jalur perkembangan mirip dengan bagaimana anak monolingual memperoleh bahasa. Tetapi, ada beberapa ketidaksetujuan dalam literatur tentang hasil kemampuan bilingual yang lebih rendah dalam perkembangan kosakata, dibandingkan anak yang mempelajari bahasa tunggal. Ketika anak memeroleh dua bahasa dan menjadi bilingual, salah satu bahasa mendominasi yang lainnya. Ini adalah hal yang normal. Hal yang jarang terjadi ketika kedua bahasa menjadi seimbang di dalam perkembangannya.

Perkembangan bahasa dari anak yang mempelajari bahasa kedua setelah usia tiga tahun, atau sequentially, mempunyai tahapan-tahapan yang berbeda dan sangat tergantung dengan karakteristik serta lingkungan belajar bahasa anak. Pada tingkat perkembangan ini, dasar-dasar bahasa pertama telah anak kuasai. Mereka mengetahui struktur dari satu bahasa, tapi sekarang mereka harus mempelajari tata bahasa, perbendaharaan kata, dan sintaks yang spesifik dari sebuah bahasa yang baru. Menurut Tabors dan Snow seperti yang ditulis Espinosa, sequential pemerolehan bahasa kedua mengikuti perkembangan empat tahapan yang berkesinambungan:

  1. Penggunaan bahasa rumah

Ketika seorang anak telah menjadi kompeten dalam satu bahasa dan diperkenalkan pada sebuah suasana dimana semua orang berbicara dalam bahasa yang berbeda, misalnya seorang anak  yang sedang belajar bahasa Inggris (English Language Learner) memasuki kelas pra-sekolah yang didominasi oleh anak-anak yang berbahasa Inggris, anak tersebut akan sering menggunakan bahasa rumahnya walaupun  yang lain tidak mengerti. Periode ini bisa pendek atau dalam beberapa kasus, anak tersebut akan terus berusaha membuat yang lain mengerti apa yang dia bicarakan untuk beberapa bulan ke depan.

a. Periode nonverbal

Setelah anak menyadari bahwa berbicara dalam bahasa rumahnya tidak akan berguna, mereka memasuki sebuah periode dimana mereka jarang berbicara dan menggunakan cara nonverbal untuk berkomunikasi. Ini adalah periode pembelajaran bahasa aktif untuk anak tersebut; ia sibuk mempelajari suara dan kata-kata bahasa baru (receptive language) tapi tidak secara verbal menggunakan bahasa yang baru untuk berkomunikasi. Ini adalah tahap yang paling penting dari pembelajaran bahasa kedua yang mungkin bertahan lama atau sebentar. Asesmen bahasa manapun yang dilakukan pada tahap perkembangan ini dapat menghasilkan informasi menyesatkan yang merendahkan kapasitas kemampuan bahasa anak sesungguhnya.

b. Telegraphic and Formulaic Speech

Sekarang anak siap untuk menggunakan bahasa baru dan melakukannya lewat telegraphic speech yang melibatkan penggunaan formula. Ini mirip dengan anak monolingual yang sedang mempelajari kata-kata atau frase yang mudah untuk mengungkapkan keseluruhan pemikirannya. Misalnya saja, seorang anak mungkin saja mengatakan, “me down” mengindikasikan bahwa ia ingin turun ke bawah. Formulaic speech merujuk pada potongan kata-kata yang belum dianalisa atau bahkan terkadang suku kata yang dirangkai yang merupakan pengulangan yang telah didengar anak. Misalnya saja, Tabors (1997) melaporkan bahwa anak  English Language Learner (ELL) dalam sebuah Kelompok Bermain, yang ia sering amati, menggunakan frase “Lookit” untuk mengajak anak yang lain bermain. Ini adalah frase yang anak-anak dengar dari orang lain yang membantu tercapainya tujuan sosial mereka, walaupun anak-anak tersebut tidak mengerti arti dari kata2 tersebut.

c. Bahasa yang produktif

Sekarang anak sudah mulai meninggalkan telegraphic atau formulaic utterances untuk menciptakan frase dan pemikiran mereka sendiri. Anak dapat menggunakan tata bahasa yang paling mudah seperti “I wanna play”, tapi setelah itu ia akan memperoleh kontrol pada struktur dan perbendaharaan kata dari bahasa baru. Kesalahan penggunaan bahasa adalah hal yang biasa dalam periode ini karena anak-anak sedang bereksperimen dengan bahasa baru mereka dan mempelajari aturan dan strukturnya.

Seperti perkembangan manapun yang berkesinambungan, tahapan2 ini fleksibel dan tidak mengikat. McLaughlin dkk (McLaughlin, Blanchard, Osanai, 1995) memilih untuk mendeskripsikan proses ini seperti gelombang, “….bergerak ke dalam dan ke luar, umumnya bergerak menuju satu arah, tapi melambat, lalu kemudian bergerak maju lagi.

Anak-anak sequential bilingual dapat mempunyai pola perkembangan yang berbeda dibandingkan monolingual dalam beberapa aspek perkembangan bahasa. Ini termasuk perbendaharaan kata, kemampuan membaca serta menulis dan komunikasi interpersonal. Anak ELL (English Language Learner) biasanya mempunyai perbendaharaan kata yang lebih sedikit dalam bahasa Inggris dan bahasa rumah mereka dibandingkan anak yang monolingual. Ini mungkin saja terjadi karena kapasitas memori mereka yang terbatas. Jika mereka menggunakan bahasa ibu di rumah dan menggunakan bahasa Inggris di sekolah, anak mungkin mengetahui beberapa kata dalam bahasa yang satu tapi tidak di bahasa lainnya. Misalnya, seorang anak mungkin mempelajari kata-kata: chalk, line, recess, dsb. dalam bahasa Inggris di sekolah, tapi tidak mengetahui padanan katanya dalam bahasa Indonesia karena di rumah tidak pernah membicarakan hal itu. Tapi ketika total seluruh kata dalam kedua bahasa dijadikan satu, ini dapat jadi sama dengan jumlah kata yang anak-anak monolingual ketahui.

Code Switching dan Language Mixing

Penting diketahui oleh para pendidik bahwa code switching (mengganti bahasa dalam satu kalimat ke kalimat lain) dan language mixing (memasukkan satu kata dalam bahasa lain ketika berbicara dalam bahasa yang lain) adalah normal dalam pemerolehan bahasa kedua. Ini tidak berarti anak tidak dapat membedakan kedua bahasa, tapi karena anak mungkin saja kekurangan kata dalam bahasa yang satu atau kedua-duanya sehingga sulit untuk mengungkapkan apa yang ingin mereka ucapkan. Penelitian menunujukkan bahwa orang dewasa mencampurkan kedua bahasa untuk memperlihatkan dan menekankan identitas kebudayaan mereka. Code switching dan language mixing adalah hal yang normal dan alami dalam pemerolehan bahasa kedua sehingga orang tua maupun pendidik tidak perlu khawatir tentang hal ini. Yang ditekankan disini bukanlah tentang aturan bahasa yang kaku tapi tentang bagaimana meningkatkan komunikasi dalam bahasa-bahasa tersebut.

KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa:

Istilah pemerolehan berbeda dari pembelajaran, tetapi hal ini harus dilihat dari beberapa hal seperti: suasana belajar, usia anak sewaktu memeroleh bahasa kedua dan kesadaran anak akan pembelajaran. Baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama penting karena yang satu mendukung keberadaan yang lain. Memiliki kemampuan bawaan sejak lahir untuk memelajari bahasa atau nature semata tidak banyak bermanfaat jika tidak ada nurture atau pengaruh dari lingkungan. Sebaliknya, tanpa nurture atau pengaruh dari lingkungan semata juga tidak akan berpengaruh jika manusia tidak dibekali dengan kemampuan pribadi untuk memeroleh bahasa. Namun tentunya kenyataan bahwa baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting dalam pemerolehan bahasa manusia sebaiknya memerlukan lebih banyak lagi pembuktian baik melalui penelitian maupun eksperimen terhadap manusia, khususnya terhadap bagaimana manusia memelajari bahasa yang merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Perkembangan bahasa anak yang bilingual tidak jauh berbeda dari yang monolingual. Tapi mereka harus tetap didorong untuk menjaga kefasihan kedua bahasa tersebut. Anak yang belajar dua bahasa simultaneously, jalur perkembangannya mirip dengan anak monolingual memperoleh bahasa. Sedangkan perkembangan bahasa dari anak yang mempelajari bahasa kedua sequentially, mempunyai tahapan-tahapan yang berbeda dan tergantung dengan karakteristik serta lingkungan belajar bahasa anak.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul & Agustina, Leonie. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

http://ceep.crc.uiuc.edu/pubs/katzsym/clark-b.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Second_language_acquisition

http://sccac.lacoe.edu/cpin/network_meetings/2007Jan18/From%20Caterpillar%20to%20Butterfly/SecondLanguageAcquisitionLEspinosa.pdf

http://www.best4future.com/blog/how-children-acquire-second-languages


[2] http://www.learnenglish.de/britishnutre/formemanner

[3] Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

[5] Chaer, Abdul & Agustina, Leonie. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

[7] Papalia, D. E., Olds, S. W., Feldman, R.D. 2008. Human Development. New York: McGraw-Hill

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s