Proses Pemerolehan Bahasa Pertama

Posted: Januari 23, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat yang penting bagi setiap orang dalam berkomunikasi. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan lainnya diantaranya kognitif dan sosialnya. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak. Komunikasi antar anak dapat terjalin dengan baik dengan bahasa sehingga anak dapat membangun hubungan sehingga tidak mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas.

Di samping itu, bahasa dapat dimaknai sebagai suatu sistem tanda yang akan menjelaskan sesuatu hal, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar manusia. Proses penandaan inilah yang dilakukan pula oleh anak-anak sebagai ekspresi maupun komunikasi dengan orang lain.

Perolehan bahasa pada anak-anak tidak serta-merta dapat langsung sempurna namun melalui proses perkembangannya yang bersegmentasi dari tahap perkembangan. Untuk memperoleh bahasa yang baik dalam kalimat yang terstruktur juga berproses dari pengenalan huruf, bunyi dari penggabungan antara huruf sampai pada tingkatan mengerti akan makna dari kata maupun kalimat yang bersusun.

PEMBAHASAN

ASPEK PERKEMBANGAN BAHASA

Aspek perkembangan bahasa terdiri dari empat, yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Seefeldt & Wasik (2008:324) menjelaskan keempat aspek tersebut masing-masing akan dijabarkan sebagai berikut[1]

Mendengarkan (menyimak)

Anak-anak mengembangkan kemampuan mendengarkan agar memahami lingkungan mereka. Supaya mereka belajar, mereka harus menerima masukan informasi dan mengolahnya. Mendengarkan dan memahami informasi adalah langkah dasar dalam memperoleh pengetahuan karena fungsi indra pendengaran sangat mempengaruhi perolehan informasi. Mendengar bukan merupakan kemampuan alami, sejak lahir. Untuk itu kemampuan ini dipelajari lewat bimbingan dan pengajaran orang tua, guru, dan orang lain di lingkungan anak-anak.

Berbicara

Dickinson dan Snow menurut Seefeldt dan Wasik menyatakan bahwa untuk belajar bahasa, anak-anak memerlukan kesempatan untuk bicara dan didengarkan. Dialog efektif antara orang dewasa dan anak termasuk orang dewasa yang mendengarkan ketika anak itu berbicara, mengajukan pertanyaan yang mendorong anak itu bicara lebih banyak, dan memperluas serta mengolah apa yang dikatakan anak itu.

Membaca

Membaca merupakan kemampuan individu dalam mengolah kata-kata dan sistem bahasa pada huruf dan kata tercetak. Kuncinya adalah memahami kombinasi huruf dan kata yang tercetak. Sistem bahasa yang berpengaruh disini adalah kemampuan anak dalam hal semantik, dan sintaksis serta pragmatis bahasa.

Suatu hal yang penting dalam perolehan membaca pada anak usia dini adalah bahasa yang digunakan haruslah konkret dan konteksual, dimana anak tahu tata bahasanya dengan melihat bentuk konkret dari bendanya yang berasal dari lingkungan sekitar. Cara tersebut mempermudah kemampuan anak membaca dan memahami apa yang dibacanya. Berikut tahap-tahap perkembangan membaca dalam Muiz (2007)[2].

1. Tahap Fantasi(magical stage)

2. Tahap Pembentukan Konsep Diri (self concept stage)

3. Tahap Membaca Gambar (briggingreading stage)

4. Tahap Pengenalan Bacaan (take-off reader stage)

5. Tahap Membaca Lancar (independent reader stage)

Menulis

Menulis merupakan bagian yang paling rumit dalam perolehan bahasa anak. Hal tersebut karena dalam menulis anak sudah mampu membaca. Namun, walalupun demikian proses yang dialami tentunya bertahap. Kemampuan anak menulis diawali dengan kemampuannya mencoret yang abstrak bertahap menjadi jelas bentuk hurufnya.

Sulzby menyatakan bahwa ketika anak tertarik pada buku dan huruf cetak, mereka mulai mengerti bahwa huruf cetak, seperti juga bahasa membawa sebuah pesan. Anak-anak pemula dimotivasi untuk menulis guna mengungkapkan ide dan pikiran mereka dengan huruf cetak.

Menulis, seperti juga membaca, terus berkembang sepanjang anak-anak mempunyai pengalaman yang berulang dengan huruf cetak. Yang penting juga untuk dipahami bahwa anak menulis atau mencoba untuk mengungkapkan diri mereka dalam huruf cetak meskipun apa yang mereka buat tidak kelihatan seperti huruf cetak konvensional. Menulis dalam Muiz (2007) juga memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut.

Scribble Stage

Anak mulai membuat tanda dengan alat tulis.

Linear Repetitive Stage

Anak menelusuri bentuk tulisan yang horizontal.

Random Letter Stage

Anak belajar berbagai bentuk yang merupakan satu tulisan dan mengulang berbagai kata atau kalimat.

Letter Name Writing or Phonetic Writing

Anak mulai menyusun dan menghubungkan antara tulisan dan bunyinya.

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN BAHASA (GRAMATIKA)

Perkembangan bahasa pada anak terdiri dari dua macam yaitu bahasa awal (pertama) dan bahasa kedua. Bahasa awal adalah bahasa komunikasi antara anak dengan ibunya bisanya dalam bentuk prilaku/ gerak dan suara maupun tangisan. Ada penelitian yang menyatakan bahwa bahasa awal ini sudah dimiliki anak bahkan sejak dalam kandungan. Sedangkan bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh anak dari lingkungnnya baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, misalanya bahasa daerah, bahasa sehari-hari dll. Menurut beberapa ahli perpembangan bahasa pada anak-anak terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut (Crain)[3]?

Bahasa Awal

Bahasa awal ini merupakan bahasa pertama bagi bayi atau biasa disebut bahasa ibu, artinya bahasa komunikasi antara bayi dengan ibunya. Bahasa ini bernilai universal, yaitu bahasa yang pada semua bayi sama di seluruh dunia. Pada usia satu bulan mendeguk dan menjekut, dan pada usia enam bulan mereka biasanya mulai meraban, membuat suara-suara getaran bibir dan lidah seperti ‘ba ba ba’ atau ‘da da da’.

Pengucapan Satu-Kata

Pada usia sekitar satu tahun, bayi mulai memproduksi kata-kata tunggal. Beberapa peneliti percaya kalau mereka berusaha menggunakan kata-kata tunggal untuk mengekspresikan kalimat. Misalnya ‘kue’ berarti ‘aku ingin kue’ atau ‘di sana ada kue’, bergantung pada konteksnya. Namun sangat berbahaya kalau kita terlalu banyak terserap ke dalam ucapan bayi.

Pengucapan Dua-Kata

Sekitar mulai satu setengah tahun, anak-anak meletakkan dua kata bersama-sama, dan bahasa mereka menunjukkan struktur tertentu. Berikut sejumlah ucapan dua kata.

Jenis Contoh
1. Penamaan Kucing itu
2. Pengulangan Melompat lagi
3. Penegasian Bola hilang
4. Kepemilikan Mobil saya
5. Atribut Anak besar
6. Agen-aksi Andi memukul
7. Aksi-objek Memukul bola
8. Agen-objek Ibu roti (artinya, ‘ ibu sedang memotong roti’

Pengembangan Gramatika

Anak usia dua sampai tiga tahun, anak biasanya meletakkan tiga atau lebih kata secara bersamaan, sekarang mulai menggunakan subjek dan predikat yang melampai fungsinya sekadar sebagai agen dan tindakan saja. Ucapan anak-anak biasanya mengikuti urutan S-P-O, sesuatu yang integral dengan struktur.

Setelah mulai mengucapkan tiga atau lebih kata secara bersamaan, anak mulai menunjukkan bahwa mereka memahami ketergantungan pada struktur/ hubungan antar kata dalam kalimat.

Perubahan-perubahan

Antara tiga sampai enam tahun, gramatika anak-anak berubah dengan cepat menjadi cukup kompleks. Bellugi-Klima (Crain, 2007) mempelajari bagaimana anak membentuk kata tanya ‘Dimana’, ‘apakah’, dan ‘Kenapa’ dari pengubahan struktur dalam kalimat itu sendiri. Di samping itu, anak usia ini sebetulnya memahami struktur (S-P-O) dari kalimat namun terkadang terjadi kesalahan dalam menempatkan/ mengucapkan kata-kata penghubung.

Mendekati Gramatika Orang Dewasa

Meskipun anak menguasai banyak aspek gramatika di usia lima atau enam tahun, namun sejumlah pengubahan kalimat yang kompleks masih tidak mampu mereka lakukan. Sebagai contoh, mereka tampaknya kesulitan pada kalimat pasif sampai usia tujuh tahun atu lebih. Namun begitu, usia 5 sampai 10 tahun tetap penting untuk ementukan kemampuan kemampuan gramatika anak yang paling halus dan kompleks.

Jamaris (2006:34) juga mengklasifikasikan perkembangan bahasa sebagai berikut[4]:

0 – 3 bulan Anak sudah melakukan kontak mata serta menaruh minat pada orang yang berbicara dengannya. Ia senang melihat gerakan lidah. Anak menangis untuk menyatakan keinginannya
6 bulan Anak mulai mengulangi suku kata. Ia mampu mengucapakan  kata “ma….pa…”
9 bulan Anak sudah mulai memahami kata-kata yang mempunyai arti. Ia mampu mengikuti perintah sederhana.
12 bulan Anak mampu mengulangi kata-kata dengan sengaja. Diusia ini sudah menguasai sekitar 200 kata
15 bulan Anak mulai mengenal obyek kata yang mempunyai nama
18 bulan Anak mulai mengucapkan kata
21 bulan Anak mulai mengucapkan frase
24 bulan Anak mulai mengucapkan kalimat. Diusia ini, orang tua bisa memahami apa yang dibicarakannya karena anak sudah mampu mengucapkannya dengan artikulasi jelas
2-3 tahun Anak mengerti dan dapat menggunakan lebih banyak kata. Ia juga mampu membuat kelimat sederhana
3-4 tahun 1.  Memahami konsep persamaan dan perbedaan2.  Mampu membuat kalimat lengkap yang terdiri dari 5-6 kata. Sudah mampu menempatkan subyek, predikat dan obyek dengan benar3.  Mulai dapat bercerita dengan pengucapan yang jelas dan relative mudah dimengerti
4-6 tahun Bisa merangkai kalimat yang lebih dari 6 kata. Mempunyai perbendaharaan kata hingga 10.000 kata. Memahami bahwa antara huruf dan bunyi terdapat hubungan. Mampu menyebutkan nama dan alamat. Sudah mampu bercerita lebih panjang dengan kalimat yang lebih kompleks.  Beberapa anak bahkan mampu menuliskannya. Bisa menggunakan bahasa untuk mengekspresikan empati

Sujiono (2005) mengklasifikasikan karakteristik perolehan bahasa anak sebagai berikut[5].

O-6 bulan

- Mendengarkan suara yang berada di dekatnya

- Bereaksi terhadap suara atau bunyi yang didengarnya

- Membuat suara lembut seperti “oo” dalam tanggapannya terhadap orang lain

- Mengeluarkan tiga suara yang berbeda

- Mengoceh walau belum jelas apa yang diucapkannnya seperti baba..da..da..

7-12 bulan

- Mengocehnya  meningkat, kadang-kadang kedengaran seperti pembicaraan yang sebenarnya dengan intonasi naik turun. Kata-kata pertama, mama, papa.

- Mengenal suara-suara disekitarnya seperti suara kucing, ayam, tukang jualan, dll

- Menirukan suara atau mengulang bunyi yang didengar

- Memberikan nama atau label pada benda berdsarkan suara, misalnya meong untuk kucing.

- Bereaksi cepat ketika namanya dipanggil, dengan cara menoleh

- Mampu mengikuti satu perintah sederhana

1 tahun

- Mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata

- Produksi kata-kata bunyi umum yang biasanya digunakan dalam kata-kata pertama yang terdiri dari huruf-huruf mati p,b,v,t,d,m dan n. huruf hidup seperti o dan e

- Mengetahui dan mengerti lebih banyak kata-kata daripada yang dapat mereka ucapkan

- Dapat menggunakan bahasa isyarat

- Mengerti perintah yang sederhana

- Berani mengeluarkan pendapat

- Menyebut tiga benda sesuai dengan kegunaannya

2 tahun

- Melaksanakan dua perintah sekaligus

- Menggunakan kalimat tanya dan kalimat sangkal ‘ya/tidak’

- Menyebut nama diri dan mempergunakan kata ganti Aku dan jenis kelamin

- Dapat menyatakan hak milik/benda kepunyaannya

- Mampu merangkai 2 kata seperti ; ‘Apa ini?’

- Bertanya dan mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya seperti ;apa dan dimana

- Menambah perbendaharaan kata sebanyak 50 kata

- Menceritakan suatu kejadian dengan melihat gambar

- Mengerti larangan ‘jangan’, tidak dan lain-lain

- Mulai menggunakan kata sandang, kata yang menunjukkan tempat, kata hubung dan kata kerja

- Menggunakan beberapa frase kata dan mempergunakan kata benda jamak, contoh mobil-mobil

- Membuat kalimat negatif; saya tidak dapat membuka ini.

- Menggunakan kata ganti orang ketika menyebut orang lain, seperti; kamu..

- Menyatakan kebutuhan dan permintaan

- Senang menikmati buku cerita sederhana selama 5-10 menit untuk meminta dibacakan kembali.

3-5 tahun

- Dapat berbicara dengan baik dengan menggunakan kalimat sederhana yang terdiri dari empat sampai lima kata

- Mampu melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar

- Senang mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urut dan mudah dipahami

- Menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya.

- Menyebut nama panggilan orang lain

- Dapat menggunakan kata sambung, misalnya ‘dan’, ‘karena’, ‘tetapi’

- Mengerti bentuk pertanyaan dengan menggunakan kata ‘apa’, ‘mengapa’, ‘bagaimana’, ‘kapan’

- Mengajukan pertanyaan;apa, siapa dan kenapa

- Menggunakan kata keterangan lampau, menceritakan pengalaman yang lalu

- Menggunakan kata depan; di dalam, di atas, di bawah , di samping

- Menggunakan kata depan; di dalam, di atas, di bawah, di samping

- Mengenal tulisan sederhana

- Mungkin mempunyai kosa kata yang terdiri dari 900 kata (3 tahun)

- Mungkin memiliki kosa kata sebanyak 1500 kata (4 tahun)

- Mungkin memiliki kosa kata sebanyak 3000 kata (5 tahun)

- Mampu berperan serta dalam suatu percakapan dan tidak mendominasi untuk selalu ingin di dengar

- Menjawab telepon dan menyampaikan pesan sederhana

- Dapat mengulang kalimat yang terdiri dari 9 dan 10 suku kata.

6-8 tahun

- Memiliki lebih kurang 14000 kata

- Memperkenalkan diri, nama, alamat dan keluarganya dengan jelas dan dapat dimengerti

- Menggunakan kalimat yang terdiri dari 6 kata

- Menceritakan banyak hal, diantaranya cerita mengenai keadaan di rumah, di sekolah, ibu, guru dan permainan yang disukainya

- Dapat menyebutkan seluruh anggota badan sambil bernyanyi

- Anak mengerti bahwa beberapa kata mempunyai arti dan fungsi yang sama dan berbeda

- Anak dapat bercerita sendiri dengan gambar yang dibuatnya

- Membaca, menyempurnakan kalimat sederhana dan menirukan kata

- Membaca, menirukan huruf dan menyempurnakan huruf atau suku kata

- Menyempurnakan kalimat dan mengisi titik-titik

- Menyempurnakan kalimat secara lisan sesuai dengan gambar

- Menceritakan kegiatan berdasarkan gambar dan membaca percakapan

- Menjawab pertanyaan , menyanyikan lagu puisi yang sesuai dengan gambar

- Membaca nyaring dengan lafal dan intonasi yang wajar

- Mendeklamasikan dan melagukan puisi yang sesuai untuk anak-anak

- Menyapa dengan tutur kata yang sopan.

Menurut Morrow (1993:72) perkembangan bahasa memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan usia yang di jelaskan sebagai berikut [6]:

Lahir – 1 tahun

Di awal bulan infancy, bahasa orang yang terdiri dari sebuah percobaan anak atau permainan dengan suara. Anak menangis ketika mereka merasa tidak nyaman dan dekut, mengoceh ketika merasa senang. Orang tua dapat membedakan teriakan/tangisannya. Tangisan pertama untuk bahasa lapar dan yang lain untuk sakit, sebagai contohnya. Infant belajar dari hasil perbedaan teriakan/tangisan. Mereka berkomunikasi secara non verbal secara baik dengan menggerakkan tangan dan lengan untuk mengekspresikan kesenangan atau tangisan.

Ketika seorang bayi berusia 6 bulan, ocehan menjadi lebih halus. Anak pada usia tersebut biasanya mampu mengkombinasikan macam-macam suara dengan vokal. Mereka mengulangi kombinasi yang baik dan semakin baik. Pada tingkatan ini orang tua kadang-kadang berpikir mereka sedang mendengarkan satu kata anak-anak. Pengulangan konsonan dan vokal , seperti da, da, da atau ma, ma, ma adalah seperti suatu kata yang sempurna. Kebanyakan orang tua menguatkan  prilaku positif anak pada tingkatan ini.

Dari delapan sampai 12 bulan, penguasaan bahasa anak meningkat secara komprehensif; mereka memahami bahasa melebihi kemampuan yang di hasilkan. Bagaimanapun penguasaan bicara satu kata, biasanya lebih dikenal dan bermakna bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.  Seperti papa, mama, dada, cucu, dan, ndk, secara langsung.

1 – 2 tahun

Bahasa awal seorang anak tumbuh cepat antara satu dan dua tahun. Selanjutnya dengan ucapan satu kata, anak mengucapkan banyak suara dengan intonasi orang dewasa seperti ketika bicara dalam sebuah kalimat. Ucapan ini sulit dipahami bagi orang dewasa, bagaimanapun juga. Anak memulai menggunakan ucapan telegrapik dari 12 bulan- inilah bukti awal pengetahuan mereka tentang syntaksis. Ucapan telegrapik menggunakan makna kata, seperti kata benda dan kata kerja, tetapi mengabaikan fungsi kata, seperti konjungsi. Misalnya, “ayah rumah”, maksudnya “ayah datang ke rumah” atau “burung tinggi” maksudnya ”burungnya sedang terbang tinggi”.

Bahasa melonjak secara pesat pada suatu kejadian ketika anak mengkombinasikan kata-kata.

2 – 3 tahun

Pada usia ini kemungkinan yang dramatik muncul pada perkembangan bahasa. Tipenya, bahasa awal seorang anak tumbuh dari 300 hingga 1000 kata. Anak dapat tahu lebih menyeluruh, tetapi tidak mampu menggunakannya, 2000 hingga 3000 tambahan kata. Kalimat dua atau tiga kata berlanjut menjadi lebih kompeks, dan anak  berkesempatan menggunakan fungsi kata seperti pronon, konjungsi, dan preposisi.

3 – 4 tahun

Kosakata dan pengetahuan seorang anak pada struktur kalimat  berkembang cepat selama pada waktu empat tahun. Struktur sinktaksis muncul pada daftar nyanyian anak yang yang didalamnya bermacam-macam kata kerja dan kata benda.

5 – 6 tahun

Perkembangan bicara pada anak usia ini sangat banyak seperti orang dewasa ketika berbicara. Bagaimanapun, kosakata mereka selalu bertambah dan begitu juga komplesitas siktaksis dari bahasa mereka. Mereka memiliki 2500 kata yang tepat, dan secara ekstrim dapat diucapkan. Banyak, bagaimanapun, masih memiliki kasulitan pada prounoun dari beberapa suara. Khususnya pada l, r, dan sh di akhir kata. Mereka sadar kata yang diucapkan lebih memiliki lebih dari satu maksud. Mereka juga kreativ dalam menggunakan bahasa. Ketika mereka tidak memiliki sebuah kata yang menjelaskan sesuatu kondisi, mereka menirukan orang di dekatnya.

7 – 8 tahun

Saat anak pada usia tujuh sampai delapan dan seterusnya, mereka mengembangkan tata bahasa yang hampir sesuai dengan orang dewasa. Tentu mereka tidak menggunakannya secara luas dari tata transformasi tata bahasa yang diperoleh dari bahasa orang dewasa. Tujuh sampai delapan tahun memiliki percakapan sempurna yang berbicara pada bagian pada diri mereka sendiri.

Dari uraian karakteristik perkembangan bahasa dari setiap periodenya di atas disimpulkan bahwa terjadi perbedaan-perbedaan pada setiap tahap-tahapnya. Proses yang terjadi merupakan aspek alamiah dari tahap-tahap perkembangan anak dimana secara normal anak memiliki tingkatannya sendiri dalam perkembangan bahasanya. Memang, terkadang anak memperoleh kemampuan bahasanya melebihan periode-periode dari perkembangannya. Hal tersebut akan di jelaskan dalam bagian lain pada makalah ini.

SISTEM BAHASA

Setiap bahasa terdiri dari sistem-sistem utama/elemen dasar bahasa. Pada anak usia dini umumnya terdapat 5 sistem bahasa, diantaranya

Fonologi (fonemik)

Menurut IRA (International Reading Association) dalam Seefeldt dan Wasik[7] (2008:326) fonologi (fonemik) merupakan pengertian  mendalam tentang bahasa lisan dan khususnya tentang pemilahan bunyi-bunyi yang dipakai dalam komunikasi bicara. Pemahaman fonologi’ (fonemik) bukan penguasaan bunyi di dalam kata tetapi kesadaran akan bunyi itu di dalam kata. Anak-anak bisa menyadari bunyi yang dihasilkan kata-kata tanpa mengetahui huruf atau label untuk bunyi di dalam kata-kata yang bersajak.

Berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi dan urutan dan atau kombinasi bunyi, serta bentu ucapan. Contoh kata yeng berbunyi “ng”, juga pada intonasi suara yang akan menjadikan perbedaan makna karenanya.

Munn dan Stoel dalam Santrock[8] (2008:353) menyatakan bahwa setiap bahasa dibentuk dari suara-suara dasar. Fonologi adalah sistem suara dari suatu bahasa, termasuk suara-suara yang digunakan dan bagaimana suara-suara tersebut dikombinasikan.

Morfologi

Berkenaan dengan organisasi kata-kata secara internal, ada kata yang dapat berdiri sendiri seperti: buku, sepatu, meja, sekolah, dan lain-lain, dan yang tidak dapat berdiri sendiri, seperti awalan ber-, me-, di-, atau kata kerja. Morfen itu sendiri adalah unit terkecil dari bunyi kata yang harus dikombinasikan dengan kata-kata lain sehingga mempunyai makna. Beberapa kombinasi dari morfem. Sebagai contoh morfen kata kucing, disini kucing memiliki makna bebas tetapi jika mempunyai makna lebih khusus maka harus ada morfem dibelakangnya, misalnya memandikan kucing.

Santrock (2008:353) mengacu pada unit-unit makna yang membentuk formasi kata. Sebuah morfem adalah unit terkecil yang masih memiliki makna; yang berupa kata (atau bagian kata) yang tidak dapat dipecah lagi menjadi bagian bermakna yang lebih kecil. Misalnya, kata “girl” adalah satu morfem, atau unit bermakna: tidak dapat dipecah lagi menjadi unit lebih kecil.

Syntaksis

Pada dasarnya sintaksis berkenaan dengan atur-aturan dalam pembentukan kata dan kalimat, yakni memiliki subjek, predikat, objek. Contoh: Adik minum susu.

Sintaksis menunjukkan peran yang dihasilkan dalam frase, klausa, dan kalimat (Morrow, 1993)[9]. Peggunaan sintaksis dari bahasa yang kita keluarkan membantu anak memahami apa yang mereka dengar dan apa yang akan mereka baca. Sintak memasukkan peran untuk pola dasar, peran untuk mentransformasi pola dalam perintah untuk mengeneralisasikan kalimat baru, dan peran untuk menanamkan, memperluas, dan menggabungkan kalimat dalam suatu perintah menjadi sesuatu yang kompleks.

Sedangkan Santrock[10] (2008:354) menyatakan meliputi bagaimana kata-kata dikombinasikan sehingga membentuk frasa-frasa dan kalimat-kalimat yang dapat dimengerti. Misalnya, “Sabastian mendorong sepeda” memiliki arti yang berbeda dengan “Sepeda mendorong Sabastian”.

Semantik

Semantik merupakan sistem aturan yang mengendalikan makna isi kata atau kalimat. Santrock (2008:355) berpendapat bahwa mengacu pada makna kata dan kalimat. Setiap kata memiliki sekumpulan makna sematik atau atribut-atribut penting terkait dengan makna. Misalnya, mengetahui arti tiap-tiap kata—dengan kata lain, memahami kosakata. Contohnya, sematik termasuk mengetahui arti kata-kata seperti jeruk, transportasi, cerdas.

Proses perkembangan semantic biasanya dimulai pada usia sekitar 2 tahun. Vasta (1999)[11], mendeskripsikan bahwa perkembangan semantic tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan. Pertama, anak tidak hanya mendengar ribuan kata, tapi juga harus mempelajari bahwa kata terdiri dari jenis-jenis yang berbeda, yaitu kata benda (topi, susu), kata kerja (makan, bicara) dan keterangan (senang, merah). Kedua, perkembangan semantic sangat erat kaitannya dengan perkembangan konsep anak-anak. nama benda seperti ‘kucing’, biasanya melabelkan keseluruhan kelompok dari benda (binatang peliharaan keluarga, mainan dan Garfield), seperti itu pula dengan nama aksi/kata kerja, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, beberapa benda dapat disebut dengan banyak nama yang berbeda (seperti, binatang, kuda, stallion, Champ). Bagaimana anak kecil dapat tahu bahwa kelompok benda dapat sesuai dengan pada kata baru dan bagaimana perkembangan belajar ini adalah isu yang penting untuk memahami perkembangan pemerolehan bahasa.

Pragmatik

Perangkat terakhir dari aturan bahasa adalah pragmatik, yaitu penggunaan bahasa yang tepat dalam konteks-konteks yang berbeda. Berkenaan dengan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan tujuan tertentu.  Misalnya, menggunakan bahasa yang sopan dalam situasi-situasi yang tepat, seperti ketika berbicara dengan guru. Berbicara bergiliran dalam suatu percakapan melibatkan pragmatik.

Pragmatic, menurut keyakinan para fungsionalist, bahwa anak senantiasa berjuang untuk mencari jalan yang lebih baik untuk mengkomunikasikan ide, permintaan dan keberatan mereka pada orang lain. Mereka termotivasi untuk memperoleh bahasa karena bahasa menyediakan bagi mereka alat yang sangat kuat- kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain secara mudah dan untuk mendapatkan keinginan-keinginan mereka secara efektif.(Hickman, 1986;Ninio & Snow, 1988 dalam Vasta,1999:430)[12].

Speech Acts (bicara instan)

Sebelum dapat berbicara, bayi menggunakan alat lain untuk berkomunikasi seperti menangis, ekspresi muka dan gerak tubuh. kemudian setelah mampu mengucapkan kata kepada orang lain, anak akan memperoleh berbagai keinginan. Oleh para fungsionalis, hal ini disebut dengan speech acts (Astington, 1988;Dore,1976 dalam Vasta, 1999). Contohnya, ketika anak berkata “mama”, biasanya digunakan baik untuk memanggil ibunya  dan untuk meminta benda dari nya (Ninio & Snow, 1988 dalam Vasta 1999)[13].

Percakapan

Percakapan adalah bahasa yang digunakan dalam interaksi social.

Ketika seseorang melakukan percakapan, tentu saja mereka harus memperhatikan aturan gramatikal untuk dapat mengerti ucapan orang lain. Selain itu mereka juga harus mengikut aturan social dalam percakapan seperti pergiliran. Anak-anak kemungkinan besar mempelajari aturan ini pada masa preverbal (Collis,1985 dalam Vasta, 1999)

Aturan percakapan lain yang muncul kemudian seperti; 1) mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan perkatan pembicara sebelumnya, 2) mengatakan sesuatu yang sesuai dengan tema yang dibicarakan, 3) mengatakan sesuatu yang bukan sudah dikatakan oleh pembicara sebelumnya dan peraturan lain yang anak-anak belum menggunakannya secara konsisten sampai pada umur 6-7 tahun.(Conti & Camras, 1984 dalam Vasta 1999).

Komunikasi  yang dimengerti oleh social (Social Referential Communication)

Bentuk komunikasi dimana pembicara mengirimkan pesan yang dimengerti oleh pendengarnya. Kemampuan berbahasa ini jarang ditemukan dapat dilakukan sempurna oleh anak-anak usia dini. Kesalahan yang sering dilakukan seperti mengangguk untuk menjawab pertanyaan di telepon, atau menanyakan “yang ini?” pada orang lain yang tidak bisa melihat aksinya.

Namun terkadang anak berusia 2 tahun menunjukkan kemampuan untuk merubah pesan yang disampaikan ketika mengatahui lawan bicaranya tidak memahami perkataannya (Shwe & Markman, 1997 dalam Vasta 1999). Namun pada umumnya, bagaimanapun juga, sensitivitas akan respon balik pendengar, sangat terbatas pada anak usia dini, yang sering kali mengulangi pesan yang sama walaupun si pendengar tidak mengerti ( Robinson, 1981 dalam Vasta, 1999)

PENGARUH BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN

Perolehan bahasa pada anak dipengaruhi oleh dua hal yaitu biologis dan lingkungan, berikut akan dijelaskan secara khusus.

Pengaruh Biologis

Menurut Chomsky dalam Santrock (2007:269) manusia secara biologis terprogram untuk belajar bahasa pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Anak dilahirkan ke dunia dengan perangkat perolehan bahasa (language Acquisition Device (LAD)), yakni suatu warisan biologis yang memampukan anak mendeteksi gambaran dan aturan bahasa, termasuk fonologi, sintaksis, dan sematik. Anak-anak dipersiapkan oleh alam dengan kemampuan mendeteksi bunyi-bunyi bahasa, dan untuk mendeteksi dan mengikuti aturan-aturan seperti bagaimana membentuk kata benda jamak dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan. Pendukung teori ini menyebutkan kesamaan munculnya kejadian-kejadian penting berbahasa (bahasa pertama dan ledakan kosa kata) antara berbagai bangsa dan budaya di dunia ini sebagai bukti bahwa anak-anak menciptakan bahasa bahkan kala anak-anak menerima pendidikan yang memadai dan mengalami pengurangan kemampuan akibat faktor biologis.

Sebagaimana kekacauan genetik yang membuat bayi sulit memahami pikiran dan dunia, terdapat pula kekacauan genetik yang membuat bahasa jadi sukar. Dan, hal ini memperlihatkan bahwa kita mempunyai kemampuan bawaan yang memungkinkan kita mengerti dan berbicara (Gopnik, Meltzoff dan Kuhl 2006:197)[14]. Masalah ini terlihat pada perbedaan individu dalam pemerolehan bahasa.

Pengaruh Lingkungan

Pengaruh lingkungan dapat ditinjau dari teori behavioral yang berpendapat bahwa bahasa adalah rangkaian respon yang dicapai melalui penguatan. Bagaimanapun kita tidak dapat menyangkal bahwa terjadinya ledakan bahasa pada anak dipengaruhi oleh peran lingkungan pertumbuhan. Banyak ditemukan kasus perolehan bahasa terhadap lingkungan, misalnya, kasus Genie yang ditemukan di hutan dan tidak dapat berbicara layaknya manusia normal. Begitu juga dengan Merlyn yang awalnya mampu berbicara (berbahasa) kemudian diasingkan orang tuanya di hutan, kemudia bahasa yang dimiliki berubah menjadi bahasa hewan karena tidak dipergunakannya ketika berada di hutan.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa lingkungan berpengaruh besar terhadap perolehan bahasa anak. Lingkungan yang pertama terjadinya ledakan bahasa pada anak tentunya di awali dalam lingkungan keluarga.

BAHASA DAN OTAK

Penelitian terhadap aspek biologis manusia ditemukan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perolehan bahasa dengan otak manusia. Di temukan bahwa di dalam otak manusia terdapat bagian-bagian yang memproses (mengolah) bahasa. Karena bahasa sangat penting dalam menentukan spesies, tidak mengejutkan bahwa area substansial dari “cerebral cortex”, bagian tertinggi dari ptak, dipersembahkan untuk fungsi-fungsi bahasa. Salah satu misteri terbesar mengenai otak manusia adalah hemispheric (belahan).

Bagi kebanyakan manusia, fungsi-fungsi bahasa dihadirkan dalam cerebral cortex bagian kiri hemisfer, sesuai dengan kenyataan bahwa kebanyakan dari kita menggunakan tangan kanan. Petunjuk awal bahwa bahasa memiliki tempat yang khusus di otak, diawali oleh ahli syaraf dan antropologi Prancis yang bernama Paul Broca.

Berikut sebuah kasus yang ditemukan oleh Broca dalam penelitiannya[15]:

Ia mencatat sebuah kasus dari seorang pasien yang telah kehilangan kemampuan dalam menghasilkan bahasa kecuali untuk suku kata tunggal “tan”. Tapi orang ini mampu memahami pertanyaan-pertanyaa sederhana dan menyatakan ya atau tidak melalui inflection (modulasi suara) beberapa dari “tan”. Pasien ini meninggal dua tahun kemudian, dan Broca telah mendapatkan otaknya. Sejalan dengan itu, dia tidak membedah otak tersebut tapi mengawetkan semuanya. Sesungguhnya kerusakan notak tersebut sangat luas. Para pasien dengan luka lebih kecil pada area umum yang sama dari cuping bagian depan (lobus frontal) bagian kiri hemisphere, memiliki gejala-gejala yang kurang parah. Mereka mampu berbicara, tetapi kesulitan dalam melakukannya, memiliki tatabahasa yang buruk, dan mengabaikan kebanyakan kata-kata yang dimodifikasi. Ini adalah klasik afasia (kehilangan kemampuan memakai atau memahami kata-kata karena suatu penyakit otak) Broca.

Selain Broca, seorang ahli syarat Carl Wernicke mencatat penelitiannya tentang orang yang memiliki permasalahan mampu berbicara namun sedikit arti, selain itu, mereka juga tidak dapat memahami pembicaraan. Ditemukan bahwa terjadi kerusakan pada cuping sementaranya (lobus temporal). Dengan penemuannya ini nama Wernicke diabadikan menjadi nama bagian otak ini.

Orang yang memiliki kerusakan seperti yang disebutkan tadi dikenal menderita Wernicke afasia (ketidak mampuan menggunakan ikatan besar serabut syaraf). Ketika ikatan ini rusak, seperti halnya penyakit stroke (serangan orang yang biasanya disertai kelumpuhan). Jika area Wernicke bertahan, maka permahaman bahasa baik-baik saja. Dan di area Broca bertahan maka kemampuan bicara juga baik-baik saja.

Bukti-bukti penelitian saat ini menunjukkan bahwa area Broca sebenarnya mencakup sub-sub area yang bersangkutan dengan semua aspek fundamental kemampuan bicara: fonologi, sintaksis, dan semantik (arti). Hal in mengejutkan, karena area Wernicke sepertinya juga mencakup hal ini. Satu area berhubungan dengan persepsi pacaindra dari kemampuan bicara dan bunyi bukan bicara; sementara area lainnya menyangkut produksi kemampuan bicara, dan area yang lebih posterior (belakang) merespon pembicaraan eksternal dan diaktifkan oleh ingatan kata-kata.

Tampak sekali bahwa bagian terakhir ini penting untuk mempelajari memori jangka panjang terhadap kata-kata baru. Area total dari bagian kemampuan bicara posterior ini lebih besar dari pada area Wernicke dan mencakup parietal serta area yang berhubungan dengan temporal dari korteks. Penelitian gambaran otak menunjukkan bahwa otak besar, sistem “motorik” juga terlibat banyak di dalam bahasa. Tentu saja, otak besar terlibat dalam aspek motoris berbicara tapi juga dalam aspek arti suatu bahasa, seperti halnya mendapatkan kembali kata-kata dari memori. Gambaran otak tersebut disimpulkan bahwa hemisfer sebelah kanan juga terlibat dalam beberapa aspek bahasa.

INTERVENSI YANG MEMPENGARUHI PEROLEHAN BAHASA

Berikut hal-hal yang dapat mempercepat perkembangan bahasa anak:

1. Anak berada dalam lingkungan yang positif dan bebas dari tekanan. Pada lingkungan yang kaya bahasa akan menstimulasi perkembangan bahasa anak. Stimulasi tersebut akan optimal jika anak tidak merasa tertekan. Anak yang tertekan akan takut mengekspresikan pikirannya dalam pembicaraan sehingga mempengaruhi bicaranya. Seperti yang terjadi pada anak gagap yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan.

2. Menunjukkan sikap dan minat yang tulus pada anak. Anak usia dini memiliki emosi yang masih kuat karena itu guru harus menunjukkan minat dan perhatian tinggi kepada anak. Orang dewasa perlu merespon anak dengan tulus.

3. Menyampaikan pesan verbal diikuti pesan non verbal. Dalam bercakap-cakap dengan anak, orang dewasa perlu menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan ucapannya. Perlu diikuti gerakan, mimik muka, dan intonasi yang sesuai. Misalnya: orang dewasa berkata, “saya senang” maka perlu dikatakan dengan ekspresi muka senang, sehingga anak mengetahui seperti apa kata senang itu sesungguhnya.

4. Melibatkan anak dalam komunikasi. Orang dewasa perlu melibatkan anak untuk ikut membangun komunikasi. Kita menghargai ide-idenya dan memberikan respon yang baik terhadap bahasa anak.

KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa pada anak usia dini:

- Perkembangan pada setiap anak mengikuti pola universal seperti preverbal

- Perkembangan bahasa anak usia dini terdiri dari bahasa awal yaitu bahasa komunikasi antara anak dan ibunya, sedangkan bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh anak dari lingkungannya, bahasa kedua sudah mulai terstruktur pada usia 2 tahun

- Beberapa ahli mengemukakan beberapa tingkat perkembangan bahasa dari usia 0-5 tahun, bahkan Sujiono dan Marrow mengklasifikasikan sampai 8 tahun, tapi pada dasarnya tahapan-tahapan perkembangan tersebut sama antara satu dan yang lain

- bagian otak manusia yang mendeskripsikan posisi area bahasa (Wernicke dan Broca), area Wernicke merupakan area yang berfungsi untuk memperoleh pemahaman bahasa, sedangkan Broca merupakan area yang berfungsi untuk memperoleh kemampuan bicara.


[1] Seefeldt & Wasik, 2008.  Pendidikan anak Usia Dini. Indeks : Jakarta.

[2] Azizah Muiz, 2007. Bahan Kuliah Bahasa Prasekolah. UNJ: Jakarta.

[3] Crain, William, 2007. Teori Perkembangan. Penerjemah: Yudi Santoso. Pustaka Pelajar : Yogyakarta

[4] Martini Jamaris, 2006. Perkembangan an Pengembangan Anak. Grasindo: Jakarta.

[5] Yuliani Nuaini Sujiono dan Bambang Sujiono, 2005. Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. Yayasan Citra Pendidikan Indonesia : Jakarta.

[6] Lesley Mandel Morrow, 1993. Literacy Development in The Early Years. Allyn & Bacon: USA

[7] Seefeldt & Wasik, 2008.  Pendidikan anak Usia Dini. Indeks : Jakarta.

[8] John W. Santrock, 2007. Perkembangan Anak (jilid 1). Erlangga: Jakarta.

[9] Lesley Mandel Morrow, 1993. Literacy Development in The Early Years. Allyn & Bacon: USA

[10] John W. Santrock, 2007. Perkembangan Anak (jilid 1). Erlangga: Jakarta.

[11] Ross Vasta, Marshal M Haith, Scott A.Miller.1999. Child Psykology. John Willey & Sons. New York.

[12] ibid

[13] Ibid

[14] Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff, dan Patricia K. Kuhl, 2006. Keajaiban Otak Anak. Kaifa: Jakarta.

[15] Thomson&Madigan, 2007. Memori: The Key to Consciousness. Terjemah: Setya Ambar Pertiwi Transmedia:Jakarta. p. 245

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s