SEQUENCED MODEL

Posted: Januari 11, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia sekolah, adalah pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani. Hal tersebut dimaksudkan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Berbagai pihak (pemerintah, sekolah, masyarakat) telah banyak menunjukan kepedulian kepada pendidikan sehingga berbagai upaya perbaikan terus dilakukan agar tujuan pembelajaran tercapai. Tujuan tersebut adalah untuk menentukan perubahan perilaku yang diharapkan sebagai hasil berlajar melalui pendekatan pembelajaran yang terpadu dan peningkatan kompetensi khusus yang perlu dikuasai oleh peserta didik beserta indikator-indikator hasil belajar melalui penentuan materi pembelajaran.

Pendekatan-pendekatan pembelajaran akan mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan pengalaman belajar. Kompetensi khusus yang harus dikuasai peserta didik akan menentukan di dalam penyusunan materi-materi pembelajaran. Materi-materi pembelajaran ini terkait dengan metode pembelajaran yang diberikan, kegiatan pembelajaran  yang dilaksanakan, penataan lingkungan belajar apakah di dalam kelas atau luar kelas, media pembelajaran yang digunakan, dan alokasi waktu yang diberikan apakah harian, mingguan atau bulanan.

Dalam mengevaluasi pencapaian atau hasil belajar yang diperoleh dari pengalaman belajar dan penguasaan materi pembelajaran, digunakan standar atau indikator tingkat perkembangan berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak  dari lahir sampai usia sekolah.  Tingkat perkembangan yang dicapai merupakan aktualisasi potensi semua aspek perkembangan yang diharapkan dapat dicapai oleh anak pada setiap tahap perkembangannya.

Standar pendidik dan tenaga kependidikan memuat kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan, dan mempunyai peran yang sangat penting karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehingga menjadi faktor yang menentukan dalam keberhasilan anak.  Standar isi, proses, dan penilaian meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan program yang dilaksanakan secara terpadu sesuai kebutuhan anak.  Standar sarana dan prasarana, pengelolaan dan pembiayaan mengatur persyaratan fasilitas, manajemen, dan penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

Sequenced Model atau Model Berurutan, adalah salah satu dari sepuluh model pembelajaran terpadu yang akan dibahas dalam makalah ini. Pembelajaran terpadu sendiri mempunyai sifat realistis dengan menyajikan secara menyeluruh suatu topik atau tema pada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang  berhubungan satu dengan yang lainnya.

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ANAK USIA 11 TAHUN (KELAS V SEKOLAH DASAR)

Belajar merupakan proses perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau tingkah laku yang disebabkan oleh suatu pengalaman  (Woolfolk, 2004) atau perubahan prilaku, pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil dari pengalaman menurut Santrock (2004).

Anak sebagai mahluk yang unik dengan karakteristiknya yang khas selalu berubah. Perubahan tersebut pada tumbuh dan berkembangnya sejak dalam kandungan, lahir, sampai berakhir pada masa remaja. Tumbuhnya anak (pertumbuhan) adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Sedangkan  berkembangnya anak (perkembangan) adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh kearah yang lebih kompleks sebagai proses pematangan (bersifat komulatif) yang dapat dilihat dari kemampuan fungsi gerak, bahasa, emosi, sosialisasi dan kemandirian. Kemampuan tersebut mempunyai peran yang sangat  penting dalam kehidupan anak sebagai manusia yang utuh.  Oleh karena itu pendekatan pembelajaran harus memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practice). Sementara belajar harus dijelaskan melalui perilaku/pengalaman yang dapat diobservasi dan melalui proses mental, yang di dalamnya mencakup pikiran, perasaan dan motif-motif, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

Bahasa

Bahasa adalah komunikasi yang diucapkan, ditulis, atau dilambangkan berdasarkan sistem lambang (symbol)[1] atau sistem komunikasi berdasarkan kata dan tatabahasa yang diucapkan dari suara yang bukan suara (misalnya menangis, menggumam, berceloteh dan imitasi sengaja maupun imitasi tidak sengaja dari suara tanpa mengerti artinya.[2]. Menurut Elizabeth B. Hurlock (McGraw-Hill 1978) Bahasa dan Berbicara adalah berbeda: bahasa merupakan sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan maknanya kepada orang lain sedangkan bicara merupakan bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksudnya. Sehingga bicara merupakan ketrampilan mental motorik, yaitu tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara, tapi juga aspek mental yakni kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan.

Bahasa mempunyai ciri-ciri generativitas yang tak terbatas, yaitu kemampuan memproduksi kalimat bermakna dalam jumlah tak terbatas, dengan menggunakan aturan-aturan kata yang terbatas sebagai suatu karaktristik umum dari semua bahasa manusia dan sifat bahasa sendiri adalah teratur (fonem, morfem, sintaksis, semantik, dan pragmatik).

Anak kelas 5 SD (usia 11 tahun) sudah melewati masa kanak-kanak akhir dengan karakteristik  bahasa sudah  memahami dan menggunakan tata bahasa yang lebih kompleks. Anak juga  sudah memiliki kemampuan bahasa pragmatik dalam berkomunikasi (keterampilan bertutur dan bercakap), sudah memiliki kesadaran metalinguistik  dengan mengenal kognisi tentang bahasa dan    SPOK, dapat menghubungkan kalimat yang satu dengan yang lain dan menghasilkan deskripsi, definisi, dan cerita (narasi); dan sudah memiliki kemampuan membaca.

Pendekatan ”Whole Language” adalah salah satu pendekatan yang menekankan bahwa pelajaran membaca harus sesuai dengan kemampuan pembelajaran bahasa alami anak yang dalam pengimplementasiannya memiliki lima kunci dasar yang perlu diperhatikan[3], yaitu:

1. Immersion: menenggelamkan anak pada lingkungan yang kaya akan bahasa tulisan.

2. Opportunity and resource: menyediakan waktu, material, ruang, dan berbagai aktifitas dimana anak dapat menjadi pendengar, pembicara, pembaca dan penulis.

3. Meaningful communication: memfokuskan komunikasi pada hal yang bermakna, dimana pengalaman berbicara, mendengar, membaca dan menulis dapat dikomunikasikan secara menyeluruh.

4. Acceptance: menerima anak sebagai pembaca dan penulis yang berkemampuan secara menyeluruh sehingga dengan demikian terjadi komunikasi yang bermakna.

5. Expectancy: menciptakan atmosfer yang mengandung harapan yang berpengaruh terhadap iklim yang dapat mendorong dan membantu tumbuhnya budaya aksara secara terus menerus.

Kognitif

Dalam teori perkembangan kognitif yang disampaikan oleh Piaget, anak kelas V SD (usia 11 tahun) sudah masuk pada tahap operasional konkrit (7 – 11 tahun) menuju hahap operasional formal (11 – 12 tahun).

Tahap operasional konkrit memilki ciri-ciri, anak sudah mampu menggunakan operasi dimana pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi karena sudah mampu memecahkan masalah secara logis dan sudah dapat berpikir sistematis. Permasalahan yang dihadapai adalah permasalahan yang konkrit dan anak sudah dapat menggunakan penalaran ilmiah serta dapat menerima pandangan orang lain.

Tahap operasional formal memiliki ciri-ciri, pola berpikir orang dewasa  dimana  anak sudah dapat mengaplikasikan cara berpikir terhadap permasalahan semua kategori baik yang abstrak maupun yang konkret. Anak sudah dapat memikirkan buah pikirannya, mempunyai gagasan, dan berpikir secara realistis.

Aspek besar lainnya yang ada hubungan dengan perkembangan kognitif menurut Piaget antara lain:

1. Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari susunan syaraf.

2. Pengalaman fisis, merupakan pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus terhadap benda-benda tersebut.

3. Interaksi sosial, merupakan pertukaran gagasan antara individu dengan individu

4. Keseimbangan, merupakan sistem pengaturan  yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, pengalaman fisis, dan interaksi sosial.

Piaget memandang belajar sebagai tindakan kognitif yang menyangkut pikiran, penataan, dan pengadaptasian terhadap lingkungan sehingga belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Terjadinya belajar didasari atas empat konsep dasar, yaitu:

1. Skema, adalah proses organisme beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan.

2. Asimilasi, adalah proses organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya serupa dengan dirinya. Pengalaman pertama diperoleh dari pengamatan yang kemudian disimpan.

3. Akomodasi, adalah proses organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Pengalaman berikutnya akan mengacu pada pengalaman yang pertama.

4. Keseimbangan, dicapai berdasarkan menggunakan pengalaman yang diperoleh.

Motorik

Dalam The moral judgement of  the Child (1923), Piaget melakukan pengamatan pada anak-anak yang bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak diseluruh dunia dan permainan itu jarang diajarkan secara formal oleh orang dewasa. Dengan demikian permainan itu mempunyai  peraturan yang jarang atau malah tidak sama sekali ada campur tangan orang dewasa.Dari hasil pengamatannya, Piaget menyimpulkan bahwa pikiran manusia akan menjadi semakin taat pada peraturan karena kesadaran akan peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai pembatasan)  dan pelaksanaan dari peraturan itu. Sejalan dengan bertambahnya usia, maka orientasi perkembangan anakpun berkembang dari sikap heteronom (bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain yang seharusnya dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati) menjadi otonom (kesadaran dari dalam diri sendiri  bahwa peraturan-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama).  Hal ini dapat di lihat pada tahapan kognitif anak pada usia :

- anak umur 7 – 10  tahun sudah mulai beralih dari kesenangan yang semata-mata psikomotor kepada kesenangan yang didapatkan dari persaingan dengan teman sebaya, dengan mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku dan disetujui bersama.

- anak  umur 11 – 12 kemampuan berfikir abstraknya sudah mulai berkembang dan  kodifikasi (penentuan) peraturan sudah dianggap perlu bahkan kadang-kadang sudah tertarik pada peraturan dari pada menjalankan permainannya sendiri.

Sosio Emosional

Perkembangan kepribadian merupakan wujud dari hasil interaksi antara kebutuhan dasar dan pengungkapannya yang berupa tindakan-tindakan sosial dan menurut teori perkembangan kepribadian oleh Erikson[4] fungsi budaya lebih realistis karena didasarkan pada tiga alasan berikut :

1. Ego merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia

2. Perubahan terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan.

3. Menggambarkan secara eksplisit gabungan antara pengertian secara klinik dengan sosial serta latar belakang yang dapat memberikan kemajuan dalam perkembangan kepribadian

Perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erikson, anak usia sekolah ( 6 – 11 tahun) berada pada tahapan  “Industry vs Inferiority” yang antara lain mempunyai ciri-ciri:

- sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya

- menghindari perasaan rasa rendah diri, dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil baik di sekolah atau di tempat lingkungan tempat ia bermain

- dituntut untuk mengembangkan kemampuan bekerja keras

Melalui tuntutan-tuntutan anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin dan berhasil dalam belajar. Oleh karena itu, peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka dan memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia ini sangat penting. Jika anak berhasil di sekolah maka ada nilai positip yang dapat diambil dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi. Anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara maupun metode yang standar yang  tidak terpaku pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku atau biasa dikenal dengan istilah formal. Sedangkan jikalau anak mampu mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat dan peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.

Moral dan Agama Islam

Pada waktu lahir, anak belum beragama tetapi sudah memiliki fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama dan memiliki potensi kejiwaan dan dasar-dasar kehidupan ber”Tuhan”.

Muatan, warna, dan corak perkembangan kesadaran beragama anak sangat dipengaruhi  oleh keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan dari orang tuanya bahkan keadaan jiwa orang tua sudah berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak sejak janin didalam kandungn.

Sejalan dengan perkembangan kepribadian, kesadaran beragama seseorang juga menunjukkan adanya kontionuitas atau berlanjut dan tidak terputus-putus. Walaupun perkembangan kesadaran beragama itu berlanjut, namun setiap fase perkembangan menunjkkan adanya cirri-ciri tertentu. Ciri-ciri umum kesadaran beragama pada masa anak-anak antara lain:

a. Pengalaman ke-Tuhanan yang lebih bersifat afektif, emosional dan egosentris (0 – 2 Tahun)

Pengalaman ke-Tuhanan dipelajari oleh anak melalui hubungan emosional secara otomatis dengan orang tuanya. Hubungan emosional diwarnai kasih sayang dan kemesraan antara orang tua dan anak akan menimbulkan proses identifikasi. Proses identifikasi yaitu proses peniruan dan penghayatan yang  tidak sepenuhnya disadari oleh  anak terhadap sikap dan prilaku orang tua. Orang tua merupakan tokoh idola bagi  anak, sehingga apapun yang diperbuat oleh orang tua akan diikuti oleh  anak. Anak menghayati Tuhan lebih sebagai pemuas kebutuhan biologisnya, seperti kalau berdoa akan memohon kepada Tuhan untuk diberikan mainan, kue atau alat pemuas kebutuhan biologis lainnya yang bersifat konkret dan segera. Oleh karena itu penanaman kesadaran beragama anak yang berhubungan dengan pengalaman keTuhanan hendaknya menekankan pada kepuasan afektif. Tujuannya adalah agar anak dapat menghayati dan merasakan bahwa Tuhan Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, dan Pemuas kebutuhan alam perasaan lainnya. Untuk itu orang tua harus bersikap sebagai pengasih, penyayang, pelindung, dan pemuas kebutuhan emosional anak.

b. Keimanan bersifat magis dan anthropomorphis yang berkembang menuju ke fase realistik ( 3 – 6 Tahun )

Keimanan anak kepada Tuhan belum merupakan suatu kenyakinan sebagai hasil pemikiran yang objektif, akan tetapi lebih kepada   bagian dari kehidupan alam perasaan yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwa akan kasih sayang, rasa aman, dan kenikmatan jasmani.

c. Peribadatan anak masih merupakan tiruan dan kebiassaan yang kurang dihayati ( Usia 6 -12 tahun )

Pada umur 6 – 12 tahun perhatian anak yang tadinya lebih tertuju kepada dirinya sendiri dan bersifat egosentris mulai tertuju kepada dunia luar terutama perilaku orang-orang disekitarnya. Ia berusaha untuk mejadi makhluk sosial dan mematuhi aturan-aturan, tata kerama, sopan santun, dan tata cara bertingkah laku yang sesuai dengan lingkungan rumah dan sekolah.

Walaupun sekitar umur 8 tahun sikap anak makin tertuju ke dunia luar, namun hubungan anak dengan Tuhan masih merupakan hubungan emosional antara kebutuhan pribadinya dengan sesuatu yang tidak tampak (gaib) yang dibayangkan secara konkret sebagai pelindung, pemberi kasih sayang dan pemberi kekuatan gaib. Pemenuhan kepuasan kebutuhan dan keinginan pribadi anak  bersifat egosentris, konkret dan keinginan untuk segera  mendapatkan sesuatu sebagai kekuatan dan keistimewaan  tanpa usaha yang ulet dan tabah.

Seiring bertambahnya umur, pemikiran yang bersifat tradisional konkret beralih pada nilai wujud atau eksistensi hasil pengamatan. Pemikiran pada Tuhan semakin menuju kepada kebenaran yang diajarkan oleh pendidiknya. Pengamatan kepada Tuhan yang tadinya bersifat konkret emosional berubah menuju tanggapan kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara. Hubungan dengan Tuhan sedikit demi sedikit mulai disertai pemikiran dan logika. Tuhan bukan pencipta dirinya tapi Tuhan adalah juga pencipta alam semesta yang melimpahkan rahmatNya bagi seluruh makhluk. Kepercayaan pada hantu, azimat, benda keramat yang memiliki kekuatan gaib adalah sejalan dengan fungsi kognitifnya yang mempersepsikan segala sesuatu sebagai bernyawa dan dinamis. Pengamatan yang bersifat physiognomis dengan menangkap segala sesuatu mempunyai kehidupan spiritual dilanjutkan dengan personifikasi yaitu memanusiakan manusia yang bukan manusia. Kecendrungan  personifikasi itu dapat membawa anak pada tanggapan yang bersifat anthropomorphis terhadap Tuhan, Tuhan diberi cirri-ciri dan sifat manusia, melihatnya Tuhan sama dengan penglihatan manusia. Namun setelah anak mampu berfikir secara abstrak dan logis, ia akan memahami bahwa Tuhan tidak dapat ditangkap dengan panca indra dan tidak munkin di bayangkan oleh khayalan fikiran.

Pada usia 12 tahun pertama merupakan tahun-tahun sosialisasi disiplin, dan tumbuhnya kesadaran moral. Dengan adanya kesadaran bermoral dan disiplin, perhatian anak pada kehidupan keagamaan semakin bertambah kuat. Surga, neraka bukan lagi bersifat khayalan akan tetapi merupakan keharusan moral yang dibutuhkan guna mengekang diri dari perbuatan salah dan mendorong untuk mengerjakan kebaikan dan kebenaran. Tuhan bukan hanya pemberi kepuasan emosional, tetapi juga hakim yang maha adil sebagai keharusan kehidupan bermoral. Tuhan akan selalu mengawasi dan mengetahui segala sikap dan prilakunya serta akan memberikan pertolongan dan ganjaran apabila ia berbuat kebaikan. Kegiatan ibadah seperti shalat, puasa yang pada awalnya hanya meniru prilaku orangtua atau karena diperintahkan kepadanya, lambat laun semakin dihayati dan dilaksanakan dengan kesungguhan . Ia betul-betul mencari keridhaan Allah dan memohon perlindungannya dalam menghadapi berbagai kesukaran yang timbul dalam hidupnya. Peningkatan rasa keTuhanan dalam hubungan emosional yang diperkuat dengan ikatan moral akan dapat menumbuhkan penilaian, bahwa kebaikan tertinggi adalah mengikuti perintah Allah dan meninggalkna laranganNya. Sedangkan kejahatan terbesar adalah durhaka kepada Allah dan mendustai agama. Akhirnya anak berusaha menyesuaikan dirinya dengan ajaran dan kehendak Tuhan.

PEMBELAJARAN TERPADU

Pengertian pembelajaran terpadu adalah “suatu konsep pendekatan belajar yang melibatkan beberapa bidang untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak”. Dikatakan bermakna Karena dalam pembelajaran terpadu anak akan memahami konsep-konsep yang dipelajari mellui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang sudah dipahami anak melalui kesempatannya  mempelajari apa yang berhubungan dengan tema atau peristiwa otentik.

Pembelajaran terpadu adalah “kegiatan belajar yang terorganisasi-kan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pada pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (Center of interest; Cohen dan Manian (1992) dan Brand (1991).

Pembelajaran Terpadu adalah “pendekatan pembelajaran yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practice).

Pembelajaran Terpadu adalah “proses pembelajaran dengan melibatkan/mengaitkan berbagai bidang studi, sehingga diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman lengsung menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami; Prabowo (2000:2).

a. Model-model Pembelajaran terpadu

Robin Fogarty[5], menyatakan bahwa sangat dibutuhkan keterampilan yang tinggi baik dari guru maupun siswa dari sepuluh model kurikulum  yang diterapkan dengan sederhana hingga yang sangat rumit. Sepuluh model kurikulum ini berorientasi pada mata pelajaran yang terpotong-potong hingga model pembelajaran terpadu, antara lain :

1. The Fragmented Model ( Model Fragmentasi )

2. The Connected model ( Model Terhubung )

3. The nested Model ( Model Tersarang )

4. The Sequenced Model ( Model Terurut  )

5. The Shared Model ( Model Terbagi )

6. The Webbed Model ( Model Jaring laba-laba )

7. The Threaded Model ( Model pasang Benang )

8. The Integrated Model ( Model Integrasi )

9. The Immersed Model ( Model Terbenam )

10. The Networked Model ( Model Jaringan )

b. Model Pembelajaran Terpadu Berdasarkan Kelompok

Dari sepuluh model pembelajaran terpadu yang dikemukakan Forgarty (1991 : 64-67 ),  dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu:

1. Model pembelajaran terpadu berdasarkan keterpaduan di dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada dalam satu disiplin ilmu, yaitu model Fragmented, Connected, dan Nested.

2. Model pembelajaran terpadu berdasarkan keterpaduan yang ada pada  beberapa mata pelajaran, dari yang sederhana hingga yang rumit dari suatu mata pelajaran. Model ini terdiri dari Sequenced, Shared, Webbed, threaded.

3. Model pembelajaran terpadu berdasarkan pendekatan lintas beberapa disiplin ilmu. Model ini terdiri atas integrated, Immersed, Networked.

SEQUENCED MODEL

Pengertian Sequenced Model menurut Forgarty[6] adalah model pembelajaran terpadu dimana suatu mata pelajaran dapat disusun kembali urutan topiknya ke dalam urutan pengajaran dalam topik yang sama atau relevan. Pada saat guru mengajarkan suatu mata pelajaran, ia dapat menyusun kembali urutan topik dan memasukkan topik mata pelajaran lain ke dalam urutan  pengajarannya karena ada kesamaan dan relevansi diantara keduanya.

Metode Sequenced Model sebenarnya merangkai dua mata pelajaran atau disiplin ilmu yang berbeda namun dengan topik yang relevan, sehingga materi dari kedua mata pelajaran tersebut dapat diajarkan secara paralel. Contohnya, seorang guru bahasa Inggris mengajarkan mengenai novel atau cerita sejarah  yang terjadi pada kurun waktu tertentu (“Diary of Anne Frank”) dan disaat yang sama (paralel),  guru sejarah sedang mengajarkan sejarah tentang “World War II” yang terjadi dalam kurun waktu yang sama pula.

Hamalik[7] (2008:48), menyatakan bahwa Sequenced Model adalah susunan atau urutan pengelompokan kegiatan atau langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan kurikulum dengan lebih mengacu pada ”kapan” dan ”di mana” pokok-pokok bahasan tersebut ditempatkan dan dilaksanakan. Langkah-langkah menyusun sequence adalah :

1. Mulai dari yang paling sederhana menuju yang kompleks;

2. Mengikuti alur kronologis

3. Kebalikan dari alur kronologis

4. Mulai dari keadaan geografis yang dekat sampai ke yang jauh

5. Mulai dari keadaan geografis yang  jauh menuju ke yang dekat.

6. Dari konkret ke abstrak

7. Dari umum menuju khusus,dan

8. Dari khusus menuju umum

Donald E. Orlosky dan B. Othanel Smith (Oliva, 1992) mengemukakan bahwa terdapat tiga konsep sequence yaitu menurut kebutuhan, makro, dan mikro. Dalam proses sequence, pengembang kurikulum harus bisa memperhatikan tingkat kedewasaan, latar belakang pengalaman, tingkat kematangan dan ketertarikan atau minat siswa, serta tingkat kegunaan dan kesukaran materi pelajaran.

a. Kelebihan Sequenced Model

Kelebihan dari Sequenced Model antara lain :

1. Model ini memfasilitasi transfer pembelajaran untuk lintas mata pelajaran.

2. Guru dapat mengatur ulang urutan topik dan materi sesuai dengan prioritasnya tanpa harus selalu mengikuti format dalam buku.

3. Untuk siswa, pengaturan ulang topik dari disiplin ilmu yang berbeda dapat membantu mereka untuk dapat lebih memahami mata pelajaran yang diberikan.

b. Kelemahan Sequenced Model

Kelemahan dari Sequenced Model adalah model ini memerlukan kolaborasi yang terus menerus dan fleksibilitas yang tinggi karena guru-guru memiliki lebih sedikit otonomi untuk mengurutkan (merancang) kurikulum.

c. Prinsip Pelaksanaan Sequenced Model

Prinsip dari pelaksanaan Sequenced Model adalah dengan membuat suatu perencanaan kurikulum dan membuat konsep evaluasi untuk melihat hasil antara yang diharapkan dan sebenarnya.

1. Kurikulum hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek perkembangan anak (fisik, emosi, sosial, spiritual, dan kognitif)  dengan cara yang terintegrasi atau terpadu. Jika salah satu aspek perkembangan distimulus, maka akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya.

2. Kurikulum hendaknya memperhatikan proses belajar  interaktif dengan  keterlibatkan anak secara aktif dan dapat mengarahkan anak  dalam mencari solusi permasalahannya. Dengan demikian anak akan merasa berhasil dan rasa keberhasilan dapat memotivasi mereka untuk terus aktif belajar dan bereksplorasi.

3. Kurikulum hendaknya selalu dimodifikasi seiring berjalannya waktu pembelajaran dengan mengenal kekuatan, bakat, minat, dan kebutuhan setiap anak.

4. Kurikulum hendaknya dapat merencanakan suatu kegiatan dengan mempertimbangkan latar belakang budaya keluarga anak dibesarkan.   Permainan, norma-norma sosial, dan lagu-lagu yang relevan dengan latar belakang anak dapat dipakai.  Seluruh kegiatan belajar dan material yang digunakan juga harus kongkrit, nyata, dan relevan dalam kehidupan anak.

5. Konsep evaluasi:

- Dalam mengevaluasi keberhasilan anak hendaknya tidak memakai  standar orang dewasa tetapi melalui eksplorasi dan interaksi antar sesama guru.

- Hasil proses belajar hendaknya dapat meningkatkan minat anak untuk berpikir dan bertanya tidak hanya sebatas baik dan tidak baik.

- Partisipasi aktif anak untuk mengarahkan dirinya terlibat dalam kegiatan yang konkrit dan pengalaman hidup yang nyata,  merupakan motivasi yang ada dalam dirinya dan kunci keberhasilan.

- Guru hendaknya  tahu dan mengerti kapan anak  perlu diberikan kegiatan yang lebih  menantang karena umumnya sesuatu yang sudah dikuasai anak akan membuat mereka bosan. Cara yang dilakukan  dapat berupa melontarkan pertanyaan-pertanyaan, memberikan usulan-usulan, atau menambahkan material yang lebih kompleks.

Implementasi dari Program Pembelajaran Sequenced Model

Dalam pembuatan program pembelajaran terpadu sequenced model, kami membuat program di Madrasah Ibtidaiyah (MI), yaitu sekolah formal yang berciri agama Islam dibawah naungan Departemen Agama dan setara dengan jenjang Sekolah Dasar (SD). Program pembelajaran  di MI,  mata pelajaran umum  sama seperti di SD, tetapi di MI  ditambah dengan pelajaran Agama Islam yang meliputi:

1. Aqidah Akhlak, yaitu berhubungan dengan keimanan manusia terhadap Tuhannya (Allah), dan Akhlak antara sesama manusia. Seperti rukun Islam, rukun iman, asmaul husna, hari kiamat, dll.

2. Al-Qur’an Hadist, yaitu menerangkan tentang makharijul huruf, surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, kandungan dan asbabun nuzulnya (Sebab-sebab turunnya Ayat dalam Al-Qur’an)

3. Fiqih, yaitu tata cara pelaksanaan ibadah kepada Allah dan Hubungan muamalah kepada sesama manusia, seperti jual beli, qurban, zakat, dll.

4. Sejarah Kebudayaan Islam, yaitu peristiwa para Nabi dan Rasul, sahabat, tabiin dan tokoh/ulama dalam perjuangan islam.

5. Bahasa Arab, yaitu berhubungan dengan tata bahasa arab, arti, percakapan dan kaidah-kaidah penulisan bahasa arab.

Pembelajaran Agama Islam mulai diberikan pada anak di kelas satu dan materinya disesuaikan dengan tingkat usia dan perkembangan anak.

Desain Sequenced Model

FIQIH SKI

Kisah Nabi Ismail

- Akhlak Nabi Ismail

- Peristiwa  Ismail disembelih oleh ayahnya

Qurban

- arti qurban menurut bahasa dan istilah

- hukum  qurban

Sifat/perilaku sosial

- Arti sosial, memberi contoh sikap sosial terhadap orang lain

- Penerapan sikap sosial terhadap teman atau orang lain  melalui kegiatan

FIQIH IPS

Tatacara pelaksanaan

- Waktu pelaksanaan berqurban

- Urutan tata cara berqurban

- Pembagian hewan qurban

Standar Kompetensi Bidang Studi IPS Kelas 5 SD, semester 1:

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
  1. Siswa memahami makna bersyukur dan dan berempati terhadap orang lain serta dapat bekerja sama dalam lingkungannya
1.1 Mengetahui arti bersyukur1.2 Menjelaskan arti bersyukur1.3 Mengaplikasikan rasa bersyukur kepada diri sendiri dan orang lain

1.4 Menjelaskan arti empati

1.5 mengaplikasikan rasa empati terhadap temannya

1.6 Menjelaskan arti kerja sama

Standar Kompetensi Bidang Studi Fiqih Kelas 5 MI, semester 1:

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
  1. Anak memahami tentang qurban dan tata cara pelaksanaannya.
1.1     Menjelaskan tentang qurban1.2     Menyebutkan hewan-hewan untuk berqurban1.3     Menyebutkan cirri-ciri hewan qurban

1.4     Menjelaskan tatacara pelaksanaan dalam berqurban

Standar Kompetensi Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) – Kelas 5 MI, semester 1:

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
  1. Memahami kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dan sejarah peninggalannya
1.1   Menjelaskan kisah Nabi Ibrahim1.2   Menjelaskan kisah nabi Ismail1.3   Menjelaskan Sejarah peninggalan nabi Ibrahim dan Ismail

1.4   Mengambil hikmah dari kisah nabi Ibrahim dan Ismail

FIQIH SKI IPS
  1. Qurban

- Arti qurban menurut bahasa dan istilah

- Hukum  qurban

- Hewan qurban

- Nama hewan untuk berqurban

Ciri-ciri hewan qurban

- Membedakan setiap jenis hewan qurban

- keadaan fisik hewan yang diperbolehkan untuk berqurban

Tatacara pelaksanaan dalam berqurban

- Menyebutkan pelaksanaan berqurban

- Menyebutkan urutan tata cara berqurban

- Mengetahui pembagian hewan qurban

1 . Kisah Nabi Ibrahim- Ibrahim mencari Tuhan- Ibrahim dan keluarganya

Kisah nabi IsmaiL

- Akhlak Nabi Ismail

- Peristiwa Nabi Ismail disembelih oleh ayahnya

Sejarah peninggalan Nabi Ibrahim

- Bangunan Ka’bah

- Maqam Ibrahim

- Hikmah dari kisah nabi Ibrahim

Sejarah jejak  nabi Ismail

- Hukum tentang berqurban

- pelaksanaan berqurban

- Hikmah dari kisah Ismail

1.  Bersyukur- Makna Bersyukur- Bersyukur pada diri sendiri dan orang lain

- Mengaplikasikan rasa bersyukur pada diri sendiri dan orang lain

Sifat/perilaku sosial

- Arti sosial, memberi contoh sikap sosial terhadap orang lain

- Penerapan sikap sosial terhadap teman atau orang lain  melalui kegiatan

Kerja sama

- Arti kerja sama

- Contoh kerja sama dirumah dan lingkungan sekitar

- Mengaplikasikan kerja sama di lingkungan sekitar anak

Urutan Topik Fiqih dan SKI

Fiqih SKI
  1. Qurban

- arti qurban menurut bahasa dan istilah

- Hukum  qurban

Hewan-hewan untuk berqurban

- Nama hewan untuk berqurban

Ciri-ciri hewan qurban

- Membedakan setiap jenis hewan qurban

- keadaan fisik hewan yang diperbolehkan untuk berqurban

Tatacara pelaksanaan dalam berqurban

- Menyebutkan pelaksanaan berqurban

- Menyebutkan urutan tata cara berqurban

- Mengetahui pembagian hewan qurban

1. Kisah nabi IsmaiL- Akhlak Nabi ismail- Peristiwa  Ismail disembelih oleh ayahnya

Kisah Nabi Ibrahim

- Ibrahim mencari tuhan

- Ibrahim dan keluarganya

Sejarah peninggalan nabi Ibrahim

- Bangunan Ka’bah

- Maqam Ibrahim

- Hikmah dari kisah nabi Ibrahim

Sejarah jejak  nabi Ismail

- Hukum tentang berqurban

- Pelaksanaan berqurban

- Hikmah dari kisah Ismail

Urutan Topik Fiqih dan IPS

Fiqih IPS
  1. Qurban

- arti qurban menurut bahasa dan istilah

- Hukum  qurban

Hewan-hewan untuk berqurban

- Nama hewan untuk berqurban

Tatacara pelaksanaan dalam berqurban

- Menyebutkan pelaksanaan berqurban

- Menyebutkan urutan tata cara berqurban

Mengetahui pembagian hewan qurban

Ciri-ciri hewan qurban

- Membedakan setiap jenis hewan qurban

- keadaan fisik hewan yang diperbolehkan untuk berqurban   

  1. Bersyukur

- Makna Bersyukur

- Bersyukur kepada diri sendiri dan orang lain

- Mengaplikasikan rasa bersyukur kepada diri sendiri dan orang lain

Kerja sama

- Arti kerja sama

- contoh kerja sama dirumah dan lingkungan sekitar

- Mengaplikasikan kerja sama di lingkungan sekitar anak

Sifat/perilaku sosial

- Arti sosial, memberi contoh sikap sosial terhadap orang lain

- Penerapan sikap sosial terhadap teman atau orang lain  melalui kegiatan


Contoh:

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran:  Pembelajaran Terpadu Fiqh dan SKI

Kelas                  :  V

Semester           :  1 (Satu)

Waktu                 :  4 x 40 Menit

STANDAR KOMPETENSI/ KOMPETENSI DASAR INDIKATOR
  1. Memahami tentang qurban dan cara pelaksanaannya (Fiqh)

1. Menjelaskan tentang qurban

2. Menyebutkan hewan-hewan untuk berkurban

3. Memahami kisah nabi Ibrahim dan Ismail serta sejarah peninggalan-nya (SKI).

2.1. Menjelaskan kisah Nabi Ibrahim

2.2. Menjelaskan kisah Nabi Ismail

  1. Menjelaskan arti qurban menurut bahasa
  2. Menjelaskan arti qurban menurut istilah
  3. Menyebutkan hewan yang diperbolehkan untuk berkurban
  1. Menjelaskan ahlak Nabi Ismail
  2. Menjelaskan peristiwa Nabi Ismail disembelih oleh ayahnya
  3. Dramatisasi tentang Nabi Ismail

Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat mengerti tentang arti qurban dan hewan qurban serta dapat mengkaitkannya dengan sejarah qurban dari cerita-cerita sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Materi Pembelajaran

Arti Qurban dan Sejarah Nabi Ismail

Metode Pembelajaran

a. Ceramah

b. Pemodelan

c. Tanya jawab

d. Dramatisasi

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama (2 x 40 menit = 80 menit)

a. Kegiatan awal (15 menit)

- Siswa mendengarkan penjelaskan guru tentang arti berqurban dan hewan untuk berqurban

- Tanya jawab guru dan siswa tentang sejarah Nabi Ismail

- Siswa berkelompok

b. Kegiatan Inti (55 menit)

- Siswa membaca tentang arti qurban

- Siswa menuliskan tentang qurban dan hewan qurban

- Siswa menyebutkan akhlak nabi Ismail

- Siswa Mennjelaskan hukum berqurban

- Siswa menyimpulkan tentang materi yang di baca

c. Kegiatan akhir (10 menit)

- Siswa dan guru melakukan refleksi dengan tanya jawab

Pertemuan Kedua (2 x 40 menit)

a. Kegiatan awal (15 menit)

- Siswa dan guru bertanya jawab tentang pelajaran yang lalu.

- Siswa berkelompok

b. Kegiatan Inti (55 menit)

- Guru membimbing siswa ntuk membentuk kelompok drama

- Secara berkelompok siswa mendramatisasikan cerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

- Secara berkelompok siswa menyimpulkan isi sejarah Nabi Ismail

- Siswa dan guru memperhatikan kelompok lain yang sedang mendramatisasi cerita Nabi Ismail

c. Kegiatan akhir (10 menit)

- Siswa dan guru melakukan refleksi dengan tanya jawab dan mmbuat kesimpulan bersama tentang qurban dan dan sejarah tentang Nabi Ismail .

Media dan Sumber Belajar

a. Buku pelajaran Fiqih

b. Buku pelajaran SKI

c. Kain putih

d. Domba yang terbuat dari gumpalan koran

Penilaian

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembelajaran terpadu dengan Sequenced Model antara lain :

1. Model Sequenced adalah model pembelajaran terpadu dimana dua disiplin ilmu yang berbeda tetapi memiliki topik yang relevan dirangkaikan sehingga materi dari kedua disiplin ilmu tersebut dapat diajarkan secara parallel.

2. Melalui metode ini, guru tidak harus memberikan materi sesuai dengan urutan format dibuku (dari bab awal sampai akhir), sebaliknya guru dapat mengatur ulang urutan topik sesuai dengan prioritasnya.

3. Metode ini akan membuat siswa lebih memahami mata pelajaran yang diberikan.

4. Karena metode ini merangkaikan lebih dari satu bidang studi, maka dibutuhkan kerja sama antar guru masing-masing bidang studi untuk membuat rangkaian kurikulum baru.

DAFTAR PUSTAKA

Fogarty, Robin,How To Integrate The Curricula. Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc,1991.

Drake Susan M.,Creating Standards-Based Integrated Curriculum, Colifornia : A Sage Publications Company Thousand Oaks, 2007

Drs. H. Abdul Azis Abyadi,  Psikologi Agam,. Bandung : Sinar Baru, 1987.

Mulyasa,  Kurikulum Yang Disempurnakan, Bandung : PT. Rosdakarya, 2006

Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum TK, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan TK dan SD, 2004

Departemen Pendidikan Nasional, Acuan Menu Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Dini Usia (Menu Pembelajaran Generik),Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Dan Pemuda, 2002

Hamalik Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008

John W. Santrock, Child Development, The McGraw-Hill Companies, Inc., 2007

Papalia, Olds, Feldman, Human Development, New York, The McGraw-Hill Companies, 1995

Modul Perkuliahan  “Metodologi Pengembangan Bahasa”, S1-PAUD, UNJ

http://www.learningplaceonline.com/stages/organize/Erikson.htm


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s