Pemerolehan Bahasa AUD

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan suatu permasalahan yang rentan dan cukup menakjubkan bagi para peneliti dalam bidang psikoliguistik. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan suatu isu yang amat mengagumkan dan sulit untuk dibuktikan. berbagai teori dari beberapa disiplin ilmu yang berbeda telah dikemukakan oleh para peneliti untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Disadari ataupun tidaknya sistem-sistem linguistik yang dikuasai oleh individu anak-anak pada umumnya tidak melalui pengajaran formal.

Dan telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia, tidak terdapat pada makhluk hidup lainnya. Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.. Lebih rumit dan luas mengingat ada lebih dari seribu bahasa yang ada di seluruh dunia.

Anak adalah makhluk yang sangat unik, tidak pernah ada satu anakpun yang benar-benar sama dengan anak yang lainnya, sekalipun mereka kembar. Sejak dilahirkan, anak sebagai makhluk individu telah membawa sejumlah potensi yang terdapat dalam dirinya. Potensi tersebut dapat berkembang secara optimal apabila potensi itu dirangsang kemunculannya, dalam artian stimulasi dari lingkungan di saat masa peka datang. Sebaliknya apabila potensi tersebut tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada rangsangan maka potensi tersebut tidak akan berkembang dan bahkan akan hilang atau mati.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidaklah sama antara satu dengan anak yang lainnya, hal ini disebabkan karena anak adalah makhluk unik yang memiliki tempo dan irama perkembangan  tubuhnya masing-masing. Proses perkembangan anak berjalan secara alamiah dan ditandai dengan pola karakteristik yang sedikit banyak dapat diramalkan. Masa bayi usia 7-12 bulan merupakan usia yang penting karena merupakan dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. (Yuliani & Bambang Sujiono: 2005). Karena dimasa-masa ini anak mengalami perkembangan yang sangat signifikan pada dirinya, baik itu perkembangan fisik maupun perkembangan dalam proses pemerolehan bahasa.

Rangsangan bahasa yang diterima oleh anak-anak tidaklah teratur. Namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertama sebelum menginjak usia lima tahun. Fenomena yang kelihatan menakjubkan ini terus berlaku dalam kalangan semua masyarakat dan budaya pada setiap masa. Jika mengikuti penelitian secara empirikal, terdapat dua teori utama yang membicarakan bagaimana manusia memperoleh bahasa. Teori pertama mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara alamiah atau dinuranikan. Teori ini juga dikenal sebagai Hipotesis Nurani dalam linguistik. Teori yang kedua mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara dipelajari.

Pemerolehan bahasa merupakan suatu proses perkembangan bahasa manusia. Lazimnya pemerolehan bahasa pertama dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak-anak manakala pemerolehan bahasa kedua bertumpu pada perkembangan bahasa orang dewasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Namun para ahli bahasa dan linguistik tidak menolak kepentingan tentang pengaruh faktor-faktor seperti biologi dan lingkungan.

Dalam makalah ini penulis mengamati proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada keponakan penulis sendiri. Di sini penulis mengamati secara langsung dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ditambah informasi-informasi dari orang tua dan pengasuh serta orang-orang yang pernah terlibat langsung dengan anak ini. Ketertarikan penulis untuk mengamati anak ini disamping sering bertemu dan penulis juga sering bermain langsung dengannya serta rumahnya yang berdekatan, penulis juga melihat anak ini proses pemerolehan bahasanya begitu pesat ketimbang keponakan yang lainnya. Untuk itu penulis ingin mengamati lebih jauh lagi proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada anak tersebut.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemerolehan Bahasa

Istilah pemerolehan merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir (Darmojuwono dan Kushartanti, 2005: 24). Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (native language).

Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.

Menurut Brookes (dalam Yusoff & Mohamed, 1995), pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berusia lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berusia lebih kurang empat tahun. lalu Simanjuntak (1982) mengemukakan bahwa pemerolehan bahasa adalah penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif apabila di kalangan anak-anak dalam lingkungan usia 2-6 tahun. Hal ini tidaklah sama dengan orang dewasa dalam memperoleh bahasa yang kadarnya tidak sehebat anak-anak.

Sebelum bayi dapat menggunakan kata, mereka mengungkapkan kebutuhan dan perasaan mereka melalui suara, yang dimulai dari tangisan, sergahan, dan mengoceh kemudian imitasi tanpa sengaja, dan tanpa mengetahui maknanya, dan akhirnya meniru dengan maksud, yang bisa dikenal dengan prelinguistc speech (bahasa pralinguistik). Dan biasanya bayi mulai berbicara di akhir tahun pertama, dan mulai berbicara dalam kalimat pada bulan pertama atau sebelum delapan bulan hingga satu tahun kemudian. (Diane E, S. W, & Papalia: 2008). Menurut Lester & Boukydis dalam D. E, S. W, & Papalia, menangis adalah satu-satunya cara bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi, berbagai nada, pola, dan intensitas memberikan sinyal rasa lapar, mengatur, atau marah.

Bayi memahami banyak bahasa sebelum mereka dapat menggunakannya. Kata pertama yang paling dipahami oleh bayi adalah yang paling sering mereka dengar: nama mereka dan kata “jangan” serta kata yang memiliki arti khusus bagi mereka. (Diane E, Sally W, dan Papalia: 2008). Pada usia 13 bulan, sebagian besar anak-anak memahami kata-kata yang diperuntukan bagi sesuatu atau peristiwa tertentu, dan mereka dapat dengan cepat mempelajari makna dan kata baru (Woodward, Markman, dan Fitzsimmons: 1994). Lanjut Slobinae dalam D. E, S. W & Papalia, (2008) bahasa awal anak memiliki karakter khusus, terlepas dari bahasa yang diucapkan oleh si anak. Dengan kata lain, setiap kata yang sering didengar oleh anak, ini akan selalu diingat oleh anak, begitu kata itu disebutkan kembali akan direspon oleh anak tersebut, misalkan pada saat memanggil namanya, anak biasanya akan menoleh dan memberi respon positif terhadap orang yang memanggilnya.

Disamping itu anak juga dapat melakukan simbolik, seperti meniup untuk menandakan panas, mengangkat kedua tangannya untuk menandakan bahwa ia ingin digendong, dan ini muncul pada saat anak mengatakan kata pertama mereka, anak menunjukkan pemahaman bahwa symbol tersebut dapat merujuk kepada objek, peristiwa, hasrat, dan kondisi tertentu. Gerak isyarat muncul sebelum anak menguasai 25 kosakata dan menghilang ketika anak belajar kata untuk sesuatu yang diisyaratkannya dan mengucapkannya sebagai ganti isyarat tersebut. (Lock, Young, Sevice, & Chandler: 1990)

Sedangkan Freud dalam Yuliani dan Bambang sujiono (2005) menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan. Pendapat diatas sangatlah beralasan karena pada masa ini mulut memainkan peranan terpenting dalam kehidupan individu. Disamping mulut sebagai sumber kenikmatan alami, mulut juga merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar. Karena dengan mulut sering melakukan pergerakan maka anak itu akan cepat berbicara dan dapat berkembang kemampuan bahasanya.

Selanjutnya J.H. Pestalozzi dalam Ag Soejono (1979) menambahkan yang terkenal dengan pembelajaran suara, bentuk dan  bilangan meyakini bahwa stimulasi yang diberikan pada bayi haruslah berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Agar anak tersebut perkembangan bahasanya dapat diperoleh sesuai dengan usia dan kemampuan secara alamiah.

Perkembangan terus berlanjut dengan imitasi suara bahasa aksidental yang didengar oleh bayi dan kemudian mengimitasi diri sendiri untuk membuat suara ini. Dan setelah menyimpan suara tersebut, mereka menghubungkannya dalam pola yang mirip bhasa tapi tanpa makna. (D. E, S. W & Papalia: 2008). Ini berarti setiap perkataan yang keluar dari mulut anak itu sama sekali tidak mereka ketahui maknanya, mereka hanya dapat menyebutkannya saja. Hanya kata-kata yang sering mereka dengar saja yang dapat mereka pahami, misalkan nama mereka dan kata “jangan”.

Lebih jauh skinner dalam D. E, S. W, & Papalia (2008) menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa, seperti pembelajaran lainnya, didasarkan pada pengalamannya. Ini berarti semakin banyak kata yang didengar oleh anak, maka akan baik pula perkembangan bahasa anak tersebut, dan ini dapat terjadi apabila anak tersebut banyak mendengar kata-kata yang didengar dari lingkungan tempat anak tersebut tinggal.

Lain halnya dengan pendapat Chomsky dalam Papalia, S. W, D. E & Old,  (1972) yang menyatakan bahwa otak manusia memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa, maka proses seorang bayi belajar bicara sama alamiahnya dengan proses belajar berjalan, dia menyatakan bahwa alat untuk menguasai bahasa bawaan inborn language acquisition device (LAD) memprogram otak anak untuk menganalisis bahasa yang mereka dengar dan menemukan aturannya, lanjut Chomsky (1995) berusaha mengidentifikasi rangkaian prinsip universal sederhana yang melandasi semua bahasa dan sebuah mekanisme multitujuan yang berfungsi menghubungkan suara dengan makna. Merujuk dari pendapat Comsky diatas otak memegang peranan penting dalam proses pemerolehan bahasa anak, karena dengan otak manusia dapat merangkai suara menjadi sebuah makna. Kajian-kajian yang telah dilakukan untuk melihat bahwa manusia memang sudah dilengkapi dengan alat biologi untuk kemampuan berbahasa seperti yang dikatakan oleh ahli linguistik Chomsky di atas  bahwa kemampuan berbahasa ialah hasil dari pada kemampuan kognisi umum dan interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sejalan dengan yang dikatakan Piaget, bahwa semua anak-anak sejak dilahirkan telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kemampuan manusia termasuk juga kemampuan berbahasa.

Dari pendapat yang berbeda ini sebagian pakar perkembangan saat ini percaya bahwa penguasaan bahasa, seperti sebagian besar aspek perkembangan lain, bergantung pada keterjalinan antara yang bersifat bawaan dan yang bersifat pengajaran (nature dan nurture). Anak-anak sangat mungkin memiliki kemampuan menguasai bahasa, yang dapat diaktifkan atau dibangkitkan melalui pengalaman terlepas dari apakah mereka dapat atau tidak mendengar.

Maka dapat disimpulkan dari apa yang telah dipaparkan diatas, bahwa proses pemerolehan bahasa atau aspek perkembangan lainnya itu tergantung pada keterjalinan antara yang bersifat bawaan dan yang bersifat pengajaran.

B. Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa

Perlu untuk diketahui bahwa seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa B1 dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. B1 diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia. Pengetahuan mengenai pemerolehan bahasa dan tahapnya yang paling pertama di dapat dari buku-buku harian yang disimpan oleh orang tua yang juga peneliti ilmu psikolinguistik. Dalam studi-studi yang lebih mutakhir, pengetahuan ini diperoleh melalui rekaman-rekaman dalam pita rekaman, rekaman video, dan eksperimen-eksperimen yang direncanakan. Ada sementara ahli bahasa yang membagi tahap pemerolehan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan linguistik. Akan tetapi, pendirian ini disanggah oleh banyak orang yang berkata bahwa tahap pralinguistik itu tidak dapat dianggap bahasa yang permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata-mata, yaitu respons otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan perasaan senang. Oleh karena itu, tahap-tahap pemerolehan bahasa yang dibahas dalam makalah ini adalah tahap linguistik yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis); (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).

1. Vokalisasi Bunyi

Pada umur sekitar 6 minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dekur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bayi mirip dengan bunyi konsonan atau vokal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang belum terdengar dengan jelas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bunyi-bunyi yang dihasilkan tadi merupakan bahasa? Fromkin dan Rodman (1993:395) menyebutkan bahwa bunyi tersebut tidak dapat dianggap sebagai bahasa. Sebagian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi prabahasa/dekur/vokalisasi bahasa/tahap cooing.

Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celoteh merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da. Adapun umur si bayi mengoceh tak dapat ditentukan dengan pasti. Mar’at (2005:43) menyebutkan bahwa tahap ocehan ini terjadi pada usia antara 5 dan 6 bulan. Dardjowidjojo (2005: 244) menyebutkan bahwa tahap celoteh terjadi sekitar umur 6 bulan. Tidak hanya itu. ada juga sebagian ahli menyebutkan bahwa celoteh terjadi pada umur 8 sampai dengan 10 bulan. Perbedaan pendapat seperti ini dapat saja. Yang perlu diingat bahwa kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.

Pada tahap celoteh ini, anak sudah menghasilkan vokal dan konsonan yang berbeda seperti frikatif dan nasal. Mereka juga mulai mencampur konsonan dengan vokal. Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/. dengan demikian, strukturnya adalah K-V. Ciri lain dari celotehan adalah pada usia sekitar 8 bulan, stuktur silabel K-V ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur seperti:

K1 V1 K1 V1 K1 V1…papapa mamama bababa…

Orang tua mengaitkan kata papa dengan ayah dan mama dengan ibu meskipun apa yang ada di benak tidaklah kita ketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulatori belaka (Djardjowidjojo, 2005:245).

Begitu anak melewati periode mengoceh, mereka mulai menguasai segmen-segmen fonetik yang merupakan balok bangunan yang dipergunakan untuk mengucapkan perkataan. Mereka belajar bagaimana mengucapkan sequence of segmen, yaitu silabe-silabe dan kata-kata. Cara anak-anak mencoba menguasai segmen fonetik ini adalah dengan menggunakan teori hypothesis-testing (Clark & Clark dalam Mar’at 2005:43). Menurut teori ini anak-anak menguji coba berbagai hipotesis tentang bagaimana mencoba memproduksi bunyi yang benar.

Pada tahap-tahap permulaan pemerolehan bahasa, biasanya anak-anak memproduksi perkataan orang dewasa yang disederhanakan sebagai berikut:

(1)  menghilangkan konsonan akhir. Contoh: blumen=bu, boot=bu

(2) mengurangi kelompok konsonan menjadi segmen tunggal. Contoh: batre=bate, bring=bin

(3) menghilangkan silabel yang tidak diberi tekanan. Contoh: kunci=ti, semut=emut

(4) reduplikasi silabel yang sederhana. Contoh: pergi=gigi, nakal=kakal

Menurut beberapa hipotesis, penyederhanaan ini disebabkan oleh memory span yang terbatas, kemampuan representasi yang terbatas, kepandaian artikulasi yang terbatas (Mar’at 2005:46-47).

Apakah tahap celoteh ini penting bagi si anak. Jawabannya tentu saja penting. Tahap celoteh ini penting artinya karena anak mulai belajar menggunakan bunyi-bunyi ujaran yang benar dan membuang bunyi ujaran yang salah. Dalam tahap ini anak mulai menirukan pola-pola intonasi kalimat yang diucapkan oleh orang dewasa.

2. Tahap Satu-Kata atau Holofrastis

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Pada tahap ini pula seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. pada usia ini pula, sang anak sudah mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa ada di sini), “Ma” (Saya mau mama ada di sini). Mula-mula, kata-kata itu diucapkan anak itu kalau rangsangan ada di situ, tetapi sesudah lebih dari satu tahun, “pa” berarti juga “Di mana papa?” dan “Ma” dapat juga berarti “Gambar seorang wanita di majalah itu adalah mama”.

Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam tahap ini mempunyai tiga fungsi, yaitu kata-kata itu dihubungkan dengan perilaku anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk suatu perilaku, untuk mengungkapkan suatu perasaan, untuk memberi nama kepada suatu benda. Dalam bentuknya, kata-kata yang diucapkan itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafalkan seperti m,p,s,k dan vokal-vokal seperti a,i,u,e.

3. Tahap Dua-Kata, Satu Frase

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada tahap holofrastis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Ani mainan” yang berarti “Ani sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “Sepatu ini kotor” dan sebagainya.

4. Ujaran Telegrafis

Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman.

“Cat stand up table” (Kucing berdiri di atas meja);

What that?” (Apa itu?);

He play little tune” (dia memainkan lagu pendek);

Andrew want that” (Saya, yang bernama Andrew, menginginkan itu);

No sit here” (Jangan duduk di sini!)

Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar B1-nya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dengan cara menirukan. Namun, Fromkin dan Rodman (1993:403) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan (reinforcement), artinya kalau seorang anak belajar ujaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dsb. Akan tetapi, jika ujaran-ujarannya salah, ia mendapat “penguatan negatif”, misalnya lagi, salah, tidak baik. Pandangan ini berasumsi bahwa anak itu harus terus menerus diperbaiki bahasanya kalau salah dan dipuji jika ujarannya itu benar.

Teori ini tampaknya belum dapat diterima seratus persen oleh para ahli psikologi dan ahli psikolinguistik. Yang benar ialah seorang anak membentuk aturan-aturan dan menyusun tata bahasa sendiri. Tidak semua anak menunjukkan kemajuan-kemajuan yang sama meskipun semuanya menunjukkan kemajuan-kemajuan yang reguler.

Selain tahap pemerolehan bahasa yang disebutkan di atas, ada juga para ahli bahasa seperti Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak yaitu:

Tahap 1: Mendengkur

Tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. Bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa.

Tahap 2: Meraban

Tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. Tahap meraban merupakan pelatihan bagi alat-alat ucap. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak.

Tahap 3: Pola intonasi

Anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan ibunya.

Tahap 4: Tuturan satu kata

Pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang, binatang, dan lain-lain.

Tahap 5: Tuturan dua kata

Umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. Tuturan hanya terdiri atas dua kata.

Tahap 6: Infleksi kata

Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. Dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal istilah infleksi, mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi, misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.

Tahap 7: Bentuk Tanya dan bentuk ingkar

Anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa, siapa, kapan, dan sebagainya. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar.

Tahap 8: Konstruksi yang jarang atau kompleks

Anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. Anak juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit, seperti pemerolehan kalimat majemuk.

Tahap 9: Tuturan yang matang

Pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimat-kalimat seperti orang dewasa.

C. Proses Perkembangan Bahasa Anak

1. Fonologi

Anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari, misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. Pada akhir periode berceloteh, anak sudah mampu mengendalikan intonasi, modulasi nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya.

2. Morfologi

Pada usia 3 tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatika sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak terus memperbaiki bahasanya sampai usia sepuluh tahun.

3. Sintaksis

Alamsyah (2007:21) menyebutkan bahwa anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap, yaitu melalui peniruan, melalui penggolongan morfem, dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat.

4. Semantik

Anak menggunakan kata-kata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya, anak sudah mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya, namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.

D. Proses Pemerolehan Bahasa Pada Khansa

Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa (Tarigan, dalam Prastyaningsih, 2001:9). Lebih jelasnya pemerolehan bahasa diartikan sebagai suatu proses yang pertama kali dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan bahasa sesuai dengan potensi kognitif yang dimiliki dengan didasarkan atas ujaran yang diterima secara alamiah. Bahasa yang pertama kali dikenal dan diperoleh anak-anak dalam kehidupannya adalah bahasa Ibu (mother language) atau sering disebut dengan bahasa pertama (first language). Bahasa inilah yang mula-mula dikenal oleh anak kecil dan dipergunakan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai bahasa komunikasi. Pada saat ini, maka telah mempunyaai kemampuan bawaan memperoleh pengetahuan tentang bahasa yang dipelajari melalui pembentukan hipotesis karena adanya struktur internal pada mental mereka.

Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318).

1.  Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam
sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus
yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.

  1. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum
    pernah mereka hasilkan sebelumnya.
  2. Anak-anak   belajar   memahami   kalimat   yang   belum   pernah   mereka   dengar
    sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang
    didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka.

Penulis mempunyai empat keponakan yang sangat lucu-lucu dan cantik-cantik, tiga diantaranya adalah perempuan, seorang lagi adalah laki-laki, namanya adalah Zahira, Khansa, Safina dan Riandra, jarak usianya tidak terpaut jauh satu sama lain, hanya dengan yang laki-laki ini saja yang agak begitu jauh selisih usianya, masing-masing mempunyai keunikan dan karakter yang berbeda-beda, ada yang pendiam, aktif dan lincah. Dan di sini penulis hanya menceritakan seorang saja, yaitu khansa, karena penulis lihat dia lebih aktif dan lincah dalam kesehariannya ketimbang yang lainnya. Sehari-sehari khansa dititipkan kepada pengasuhnya sampai jam 12 siang, selanjutnya nenek dan kakeknya yang mengasuh sampai kedua orang tuanya pulang bekerja. Penulis sendiri pun lebih cenderung dekat dengan khansa dibandingkan dengan keponakan yang lainnya, mungkin karena letak rumahnya yang bersebelahan dan khansa pun kalau siangnya diasuh oleh ibu dan ayah saya, untuk itu penulis sering mengamati dan melihat perkembangannya, baik itu perkembangan fisik maupun proses pemerolehan bahasanya. Khansa termasuk anak yang mempunyai perkembangan kemampuan bahasa yang cukup pesat dan luar biasa, setiap apa yang penulis tanyakan pasti dia bisa menunjukkan itu semua dengan benar, misalnya mana ayah? pasti dia tunjuk, mana ayahnya, terus mana nenek? padahal pada saat itu neneknya lagi dalam kamar, dan dia cari neneknya dan ditunjukkan sama semua orang bahwa itu neneknya. Bukan itu saja dia juga sudah bisa membedakan pada saat ditanya mana yang namanya zahira dan safina, dan dia selalu benar dalam menunjuk mana yang namanya zahira dan safina tersebut. Penulis sering berfikir bahwa anak seusia itu memiliki daya ingat yang sangat tajam dan luar biasa. Serta proses pemerolehan bahasa yang terjadi pada khansa itu sendiri banyak diperoleh dari orang-orang yang ada di sekitar dan terlibat langsung dengannya. Setiap kata-kata yang diucapkan kepadanya langsung tersimpan dan terserap ke dalam memori otaknya. Terkadang juga didapat melalui media televisi.

Sejalan dengan pendapat Yuliani nurani dan Bambang sujiono (2005) bahwa pada tahun pertama ini perkembangan kritis bagi anak, setelah melewati masa pra-linguistik anak memasuki masa linguistik, pada masa inilah anak mulai mengucapkan kata-katanya yang pertama dan tertuju pada objek yang jelas. Selanjutnya Yuliani dan Bambang Sujiono menambahkan bahwa pada usia 12 bulan, anak sudah mampu melakukan gerakan yang bersifat “conventional social gesture” seperti melambaikan tangan (dadah…/ bye..bye…), mengangguk yang berarti “iya” dan menggeleng berarti “tidak” .

Pada saat khansa sakit, hari-harinya dihabiskan di dalam kamar saja, badannya lemas dan sangat rewel, menjelang malam dia gak bisa tidur,  tidurnya hanya sebentar-sebentar saja dan kedua orang tuanya selalu terjaga apabila dia terbangun dan menangis sangat keras, sulit untuk dapat membujuknya supaya diam, dan ini semua membuat panik kedua orang tuanya, segala usaha dilakukan kedua orang tuanya untuk membuatnya berhenti menangis, dengan memberikan susu sampai menimang-nimangya sambil dibacakan shalawat Nabi, dan tidak lama dari itu dia pun diam dan langsung tertidur. Keesokan harinya dia hanya mau digendong dengan orang-orang terdekatnya saja atau orang yang mengasuhnya, selain dari itu dia tidak akan mau, walaupun dipaksa dia akan berontak dan menangis sekeras-kerasnya. Sedih rasanya kalau lihat dia sedang sakit, keceriaannya hilang begitu saja, dipanggil pun tidak akan menjawab, apalagi ditanya.

Sepadan dengan pendapat Yuliani Nurani dan bambang sujiono (2005), sudah sejak lahir emosi bayi berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang tua dan kemudian dengan orang-orang terdekat yang ada di lingkungannya. Selanjutnya Hurlock (1999) menambahkan bahwa mulai usia 12 bulan anak sudah dapat menahan diri untuk tidak melakukan sebagai reaksi dari tingkah laku orang dewasa atau kata-kata “jangan…! “atau “tidak…!”. Mereka juga akan memperlihatkan ketakutan dan ketidaksukaan kepada orang yang tidak dikenal dengan menghindari dan menangis, jika ada orang lain yang tidak dikenalinya.

Setelah sembuh dari sakitnya khansa pun mengalami kemajuan yang signifikan pada dirinya, kemampuan berbahasanya semakin mengalami peningkatan, baik dari segi perbendaharaan kata maupun dari pengucapannya, kemampuan mengingatnya pun semakin bertambah, disamping itu juga dia memiliki rasa cemburu dan bisa ngambek apabila dia melihat ayah atau ibunya sedang menggendong keponakan yang lainnya. disamping itu juga pengucapan dan artikulasinya sudah semakin baik dan lancar, serta terjadi melalui proses yang alami. mengutip pendapat Lovitt, dalam Martini Jamaris, (2009), perkembangan kosakata dimulai sejak anak usia satu tahun. Melalui interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya secara perlahan anak mengembangkan kemampuannya dalam memahami kosakata yang berkaitan dengan objek dan peristiwa di sekitarnya. Jadi di sini banyak kosakata yang didapat oleh anak banyak diperoleh dari orang yang terlibat langsung dengan anak tersebut dalam kesehariannya. dalam artian orang-orang yang sering bermain dan berkomunikasi langsung seperti keluarga, orang tua, pengasuh serta teman-teman sepermainan.

Melihat fenomena yang terjadi diatas penulis teringat dengan suatu kisah anak yang sangat mengharukan orang tuanya. Pada suatu ketika dikisahkan ada seorang tua renta yang tinggal dengan anak dan menantunya yang mempunyai putra berumur enam tahun. Sang kakek sudah mengalami kesulitan saat berjalan ataupun menggerakkan tangannya, karena stroke yang pernah diderita sebelumnya. Seperti biasa saat makan malam seluruh anggota keluarga berkumpul dimeja makan diruang tengah, seperti biasa pula karena ketidakseimbangan tangannya ada saja alat makan yang terjatuh, sup atau air tumpah dan membasahi taplak meja makan. Melihat itu semua gusarlah pasangan suami istri tersebut. “Kalau begini terus, hilang selera makanku.!!! ” begitu keluh sang menantu. akhirnya dengan kesepakatan bersama suami istri tersebut membuat meja kecil lalu diletakkan disudut ruangan, tidak lupa pula mereka membeli peralatan makan dari plastik untuk sang kakek. Sejak itu anak dan menantunya dapat menikmati makan malam tanpa merasa terganggu ulah sang kakek. Sementara dari sudut ruangan kerap terdengar isak tangis sedih sang kakek yang makan sendirian dimeja kecilnya. Tak jarang bubur yang berhasil masuk kemulutnya sudah bercampur dengan tetesan air matanya. Tak jarang sang kakek tidak makan karena sup atau buburnya tumpah ke lantai. Hal itu makin membuat anak dan menantunya geram dan mengomel pada sang kakek. Melihat semua itu sang cucu yang baru berusia enam tahun, hanya bisa diam dan tidak satu patah kata pun terlontar dari bibirnya yang mungil. Suatu malam sebelum tidur, seperti biasa pasangan suami istri tersebut masuk kekamar anaknya untuk mengucapkan selamat tidur. Tapi malam itu putranya masih terlihat asyik dengan mainan kayunya. Sang ayah bertanya : ” Apa yang sedang kamu buat nak., sampai malam begini kamu belum tidur juga? ” dengan penuh semangat sang putra menjawab : ” aku sedang membuat meja makan untuk ayah dan ibu kalau aku sudah besar nanti, akan kuletakkan disudut ruangan tempat kakek makan, “bagus kan yah…? mendengar jawaban putranya, suami istri tersebut merasa amat sedih dan terpukul. Malam itu mereka sadar harus ada yang dibenahi. Sejak malam itu suasana diruang makan kembali seperti semula, semua berkumpul dalam satu meja makan, bedanya tak ada lagi terdengar suara omelan meski selalu ada saja alat makan yang jatuh atau sup tumpah mengotori taplak meja. Tidak ada lagi meja kecil disudut ruangan dengan suara isak tangis sang kakek yang membuat sang cucu berhenti makan. Anak-anak adalah persepsi sebuah keluarga, mata mereka akan selalu mengamati, Telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang orang tua lakukan. Mereka adalah peniru ulung. Orang tua yang bijak akan selalu menyadari setiap “Bangunan Jiwa” yang disusun adalah pondasi yang kekal untuk masa depan anak-anak. Dari merekalah orang tua akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain sama artinya dengan tabungan untuk masa depan.

Jika bercermin dari pristiwa di atas maka dapat di simpulkan bahwa seorang anak memiliki suatu perasaan yang peka dalam menyikapi sebuah fenomena yang terjadi di dalam suatu permasalahan di lingkungan keluarganya. Serta tidak pernah terbayangkan dan sulit dipercaya bahwa seorang anak mampu berbuat sesuatu yang begitu mulia dan mengaharukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Padahal orang dewasa pun belum tentu dapat berbuat seperti apa yang dilakukan anak tersebut. Jadi setiap kejadian yang terjadi di sekeliling anak, maka seorang anak akan cepat dalam merespon hal tersebut, karena pada masa-masa itu daya ingat dan penyerapan kata-kata yang terjadi pada seorang anak berkembang sangat pesat dan signifikan.

Ibu khansa selama proses kehamilan tidak pernah mengalami masalah atau hambatan yang berarti, karena ibunya sangat menjaga kehamilannya dengan sebaik-baiknya karena merupakan kehamilan pertama dalam hidupnya, dia sering bertanya kepada teman-temannya yang sudah berpengalaman dalam proses kehamilan, walaupun pada usia kandungan yang semakin tua ibunya juga masih tetap mengajar dan beraktivitas, karena dengan begitu akan mempermudah dalam proses melahirkan. Dan itu semua terbukti, karena pada saat melahirkan semuanya dapat berjalan lancar dan normal, dan khansa pun lahir dengan berat 48 kg dan panjang 49 cm.

Seiring waktu berjalan khansa pun tumbuh menjadi anak yang periang, aktif, dan sangat cerdas, setiap orang yang melihatnya pasti akan suka dan gemes untuk mencubit pipinya yang gempal. Teman-teman sebayanya pun sangat suka bermain dengannya, karena sifatnya yang ramah dan mudah bergaul dengan orang lain, tidak heran lagi kalau dia memiliki teman yang banyak, oleh karena itu proses pemerolehan bahasa pada khansa sangat baik dan berjalan secara alami. Pada saat khansa merayakan ulang tahunnya yang pertama, semua teman yang diundang, hampir semuanya datang, neneknya pun sangat heran melihat undangan begitu banyak untuk acara yang sangat sederhana tersebut. Kelihatan diwajah khansa pada waktu itu sangat bahagia, hampir disepanjang acara dia selalu tertawa layaknya anak yang sudah dewasa. Ada peristiwa yang sangat unik pada waktu itu, pada saat acara selesai dia tidak memperbolehkan temannya untuk pulang, dia menangis sekeras-sekerasnya waktu melihat teman-temannya pada pulang semua, dan orang tuanya pun sangat heran dan berusaha untuk mendiamkannya.

Watak khansa sangat keras dan susah untuk dapat menenangkannya, menurun dari sifat ayahnya. Kalau dia sudah marah dan menangis itu sangat sulit untuk dapat meredamnya. Anak seusia itu sudah memiliki watak dan emosi yang sangat tinggi, jika ini dibiarkan maka akan berdampak negatif pada perkembangannya di masa yang akan datang, jadi dalam hal ini, jika seorang anak memiliki sifat yang keras maka orang tua harus memiliki strategi dalam mengghadapinya. Dalam artian, menyampaikan sesuatu kepada anak harus dengan lemah-lembut dan tegas.

Karena ada seorang anak tetangga yang mirip wataknya dengan Khansa, anak ini semenjak kecil sampai sekarang apa yang dia mau selalu dituruti oleh kedua orang tuanya, karena sudah dibiasakan dari kecil, setelah dewasa anak ini menjadi sangat liar dan sangat kurang ajar terhadap orang tuanya, pada waktu itu dia minta dibelikan sepeda motor, padahal dia sudah mempunyai tiga sepeda motor dirumahnya, dan ibunya tidak menyanggupi permintaannya tersebut, anak ini marah dan melempari kaca rumahnya dan membanting semua perabotan, ibunya sangat takut padanya dan membiarkan itu semua terjadi, dan akhirnya, ibunya pun membeli sepeda motor tersebut. Penulis pun tidak habis pikir dengan kelakuan anak itu dan menyayangkan ibunya yang telah salah dalam mendidiknya akibatnya pemerolehan bahasa yang terjadi pada ini tidak berkembang dengan baik dan cenderung menyimpang. Karena diusia anak yang masih dinilah orang tua dapat menuntunnya terutama dalam proses pemerolehan bahasa dapat terbentuk sebaik mungkin sesuai dengan yang diharapkan. Karena kosakata yang diperoleh seorang anak itu didapat dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya, apapun bentuk kata yang didengar akan selalu dingat dan ditiru oleh mereka.

PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pemerolehan bahasa pada Khansa berjalan dengan normal dan sesuai dengan keadaan yang semestinya. Setiap kata yang diucapakan kepadanya itu langsung tersimpan dan terserap langsung ke dalam memori otaknya. Untuk itu tanpa disadari perbendaharaan kata yang diperoleh khansa begitu banyak seiring waktu berjalan.

SARAN

Saran penulis terhadap proses pemerolehan bahasa pada Khansa disini, hanya perlu ditingkatkan saja, dan orang tua harus peka dan respon dalam masalah perkembangan yang terjadi pada anaknya, baik itu perkembangan fisik maupun proses pemerolehan bahasa pada anak. Karena yang menentukan baik dan buruknya bahasa pada anak adalah bimbingan orang tua dan orang-orang yang ada di sekitarnyya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yusoff dan Che Rabiah Mohamed. 1995. Teori Pembelajaran Sosial dan Pemerolehan Bahasa Pertama. Jurnal Dewan Bahasa. Mei. 456-464.

Alamsyah, Teuku. 1997. Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acqusition). Diktat Kuliah Program S-2. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor.

Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language. Florida: Harcourt Brace Jovanovich Collage.

http://www.ziddu.com/download/10119064/pemerolehanbahasapada anak.rtf.html.

Jamaris, Martini, Kesulitan Belajar: Perspektif, Assesmen dan Penanggulangannya, (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2009).

Mangantar, Simanjuntak. 1982. Pemerolehan Bahasa Melayu: Bahagian Fonologi. Jurnal Dewan Bahasa. Ogos/September. 615-625.

Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.

Papalia, D. E dan Old, S. W. , Human Development (Psikologi Perkembangan), terj. (Jakarta: Prenada Media Group, 2008).

Prastyaningsih, Luluk Sri Agus. 2001. Teori Belajar Bahasa. Malang: FKIP Unisma.

Soejono, Ag, Aliran Baru dalam Pendidikan. (Bandung: CV. Ilmu, 1979).

Sujiono, Bambang dan Yuliani Nurani, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. (Jakarta: Yayasan Citra pendidikan Indonesia, 2005).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s