Intervensi Untuk Anak Autism

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

PENDAHULUAN

Semakin banyaknya gejala gangguan autisme pada anak, menimbulkan keperihatinan bagi para orang tua, baik dalam bidang kesehatan maupun bidang pendidikan. Segala upaya telah dicoba oleh berbagai pihak untuk membantu anak penyandang gangguan autis. Salah satu upaya yang telah banyak dilakukan adalah dengan mendirikan pusat-pusat terapi autis dan sekolah-sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku positif dan mengembangkan kemampuan lain yang terhambat, misalnya bicara, kemampuan motorik dan daya konsentrasi.

Autisme atau juga disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa langkah yang tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki kemampuan bersosialisasi, bertingkahlaku, dan berbicara. Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun. Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungannya.

RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud dengan gangguan autisme?

2. Program intervensi apa yang cocok dalam mengatasi gangguan autisme?

PEMBAHASAN

Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun

Pada saat memasuki usia 3 tahun, biasanya seorang anak akan semakin mandiri dan mulai mendekatkan diri pada teman-teman sebayanya. Pada usia ini anak mulai menyadari apa yang ia rasakan dan apa yang telah mampu dilakukan dan yang belum mampu ia lakukan. Dapat dikatakan usia 3-5 tahun adalah usia keemasan bagi anak.

Merujuk dari masa-masa yang dilewati anak pada usia 3-5 tahun maka periode ini merupakan masa yang yang penting bagi keberlangsungan perkembangan anak di masa akan datang. Berhasil atau gagalnya anak dalam menjalani periode tersebut akan menentukan proses selanjutnya. Jika anak berhasil menjalaninya maka anak tidak akan mengalami hambatan yang berarti dalam dirinya kelak. Namun bila anak gagal atau terlambat melewati masa-masa tersebut dikhawatirkan akan terjadi ketidakharmonisan di dalam perkembangannya.

Pengertian Autisme

Autisme berasal dari kata Auto yang berarti sendiri, dan isme yang berarti paham. Autisme adalah keadaan yang disebabkan oleh kelainan otak yang ditandai dengan kelainan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang sangat kaku dan pengulangan perilaku. Menurut Peeters (2009) Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman/gangguan pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental. Autisme juga diartikan sebagai gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama kehidupan anak. (Williams & Wright, 2007). Autisme ditemukan pertama kali oleh seorang ahli kesehatan jiwa bernama Leo Kanner. Kanner menjabarkan tentang 11 pasien kecilnya yang berperilaku ‘aneh’ yaitu asyik dengan dirinya sendiri, seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Kanner menggunakan istilah ‘autisme’ yang artinya hidup dalam dunianya sendiri. Kanner berhipotesa bahwa pada anak autis terjadi gangguan metabolisme yang telah dibawa sejak lahir (in born error of metabolism).

Selanjutnya, Remland berhipotesa bahwa kelainan susunan saraf pusat mungkin melandasi gejala autisme. Lalu, Bauman (Departement of  Neurology, Harvard Medicene Scholl) dan Courchense (Departement of Neurosains, University of California, San Diego) menemukan kelainan Susunan Saraf Pusat (SSP) pada beberapa tempat dari anak autisme yaitu:

1. Pengecilan Cerebellum (otak kecil) terutama Lobus VI-VII. Lobus VI-VII berisi sel-sel Purkinje, yang memproduksi Neurotransmiter Cerotonin. Pada anak autisme, jumlah sel Purkinje sangat kurang, akibatnya produksi Cerotonin berkurang sehingga penyaluran rangsang/informasi antar sel otak kacau.

2. Kelainan struktur pada pusat emosi dalam otak (Sistem Limbik), yang bisa menerangkan kenapa emosi anak autis sering terganggu.

Suatu teori adanya variasi selama perkembangan otak pada anak-anak autistik terutama pada masalah integrasi sensorik. Otak tidak dapat mengartikan sejumlah sensasi penglihatan, suara, sentuhan, bau dan rasa. Otak menjadi kacau dan bingung. Otak mencoba melindungi dirinya sendiri dengan menghambat dan mengabaikan masukan sensorik yang datang. Hal ini menyebabkan anak seolah-olah berada jauh dan bertingkah laku tidak responsif.

Untuk menghambat lebih jauh terhadap serangan sensasi yang kacau tersebut, otak memfokuskan pada satu sensasi atau aktifitas. Hal ini mungkin berupa menggoyangkan tubuhnya dengan keras, bermain dengan mainan yang sama, atau melihat video yang sama berulang-ulang. Aktivitas ini kelihatan aneh, tidak pantas dan bersifat unik untuk masing-masing anak. Aktivitas ini diulang terus-menerus, sehingga membuat tingkah lakunya menjadi aneh. Aktivitas yang berulang-ulang lebih sering terjadi dan lebih jelas terjadi ketika mengalami pengalaman baru. Suara yang keras, orang asing yang belum dikenal atau tempat-tempat yang ramai kadang-kadang dapat mencetuskan hal ini. Aktivitas yang berulang-ulang adalah mekanisme pertahanan dan perlindungan pada anak autistik.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak tahun 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat sembilan kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 sampai 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan satu diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai satu diantara sepuluh anak menderita autisme. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah anak penyandang autisme, namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4:1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Karakteristik Autisme

Pada dekade terakhir ini, terjadi banyak kemajuan dalam mengenali karakteristik dan perilaku anak autis, dimana hasil positif tampak pada anak-anak usia muda yang mendapatkan intervensi dini. Dengan intervensi dini, potensi dasar (functional) anak autis dapat meningkat melalui program yang intensif. Ini sejalan dengan hipotesa bahwa anak autistik memperlihatkan hasil yang lebih baik bila program intervensi dini dilakukan pada anak usia di bawah lima tahun dibandingkan diatas lima tahun. Dalam pendeteksian dini yang lebih jelas, memerlukan tenaga yang ahli, dalam hal ini adalah psikolog untuk memeriksa kecerdasan dan hal-hal yang berhubungan dengan persepsi, perilaku dan mengungkap informasi lain yang berkaitan dengan anak sebagai referensi anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang pertama kali muncul selama masa bayi atau masa kanak-kanak, Anak autistik merupakan anak yang mengalami autisme yang ditandai dengan perilaku utama yaitu anak yang terganggu dan berbeda dari anak normal. Autisme sudah dapat diidentifikasi sejak anak berusia dua tahun. (Lovas & Newsom dalam Jamaris, 2009). Autisme dapat dibagi ke dalam tiga jenis yaitu autism spectrum disorder (ASD) dan asperger syndrome, kedua jenis autism ini mengalami kelambatan dalam perkembangan kognitif dan bahasa, dan PDD-NOS apabila kriteria dari kedua jenis autisme yang terdahulu tidak cocok dengan karakteristik autism yang dialami anak. (Johnson & Myers, dalam Jamaris, 2009). Autisme timbul dengan gejala yang beragam, tetapi keragaman tersebut masih dapat diklasifikasikan ke dalam empat bagian yaitu: kelainan interaksi sosial, kelainan dalam komunikasi, kelainan dalam perhatian, serta perilaku yang berulang.

Menurut Power (1989) karakteristik anak autistik ditandai dengan adanya enam gangguan/gejala adalah sebagai berikut:

1. Interaksi Sosial: meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya, serta  tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.

2.Komunikasi (bicara, bahasa dan komunikasi): meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu yang singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain. Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya.

a. Gangguan dalam bemain: diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan, reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.

b. Gangguan Sensoris: meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.

c. Gangguan Perasaan dan Emosi: dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum) bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain.

d. Gangguan Perilaku: dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), sering marah tanpa alasan yang masuk akal.

Sedangkan Gejala-gejala autisme itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Sikap anak yang menghindari tatapan mata (eye contact) secara langsung.

2. Melakukan gerakan atau kegiatan yang sama secara berulang-ulang  (repetitive), gerakan yang terlalu aktif atau sebaliknya terlalu lamban.

3. Terkadang pertumbuhan fisik atau kemampuan bicara sangat terlambat.

4. Sangat lamban dalam menguasai bahasa sehari-hari, hanya mengulang-ulang beberapa kata saja atau mengeluarkan suara tanpa arti.

5. Hanya suka akan mainannya sendiri dan mainan itu saja yang dia mainkan.

6. Serasa dia mempunyai dunianya sendiri, sehingga sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.

7. Suka bermain air dan memperhatikan benda yang berputar, seperti roda sepeda atau kipas angin.

8. Kadang suka melompat, mengamuk atau menangis tanpa sebab. Anak autis sangat sulit dibujuk, bahkan menolak untuk digendong dan dibujuk oleh siapapun.

9. Sangat sensitif terhadap cahaya, suara maupun sentuhan.

10. Mengalami kesulitan mengukur ketinggian dan kedalaman, sehingga mereka sering takut melangkah pada lantai yang berbeda tinggi.

Gejala-gejala di atas tidak semuanya ada pada anak autis. Gejala dapat beraneka ragam, sehingga hambatan yang dimiliki seorang anak autis belum tentu sama dengan anak autis lainnya. Autisme dapat menunjukkan gejala-gejala yang tidak teridentifikasi, akan tetapi, gejala ini mempengaruhi kehidupan keluarga, seperti gejala susah tidur dan tidak mau makan. Gejala lain yang diperlihatkan oleh anak autistik adalah kegemarannya berjalan di antara dua benda dan merasa tertekan dengan suara yang keras, serta menyukai gerakan-gerakan tertentu. Di samping itu, anak autisme juga diiringi dengan masalah gerakan motorik, seperti otot yang lemah, kurang dapat merencanakan gerakan motorik sesuai dengan situasi yang dihadapi dan berjalan dengan dengan cara menjinjit. (Ming, Brimakombe, Wagner, dalam Jamaris, 2009).

Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified (PDD-NOS)

PDD-NOS Biasa dikenal dengan autis ringan atau beberapa karakter autis. PDD-NOS juga memperlihatkan gejala gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Akan tetapi gejalanya tidak sebanyak seperti pada autisme masa kanak-kanak. Istilah ini merujuk kepada anak-anak dengan kesulitan yang jelas pada area interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, dan bermain, namun masih terlalu bersosialisasi untuk bisa disebut benar-benar autis. Beberapa ahli berharap bisa menghilangkan istilah ini, karena menurut mereka istilah ini berawal dari para psikolog yang tidak bisa menentukan harus dikategorikan ke mana anak yang mengalami kesulitan ini.

Asperger’s Syndrome

Dalam perkembangan terakhir ini asperger syndrome lebih mendapat perhatian khusus oleh para ahli dengan melakukan berbagai penelitian karena peningkatannya yang cukup tinggi. (Braaten & Felopulo, dalam Jamaris, 2009). Asperger syndrome lebih banyak terdapat pada anak laki-laki dari pada anak perempuan. Anak Asperger syndrome juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, tetapi tidak separah seperti pada Autisme.

Kebanyakan dari anak asperger perkembangan bicaranya tidak terganggu, bicaranya tepat waktu dan cukup lancar meskipun ada juga yang bicaranya agak lambat. Akan tetapi, meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa berkomunikasi timbale-balik. Banyak sekali anak-anak mendapat diagnosa Asperger’s pada usia antara 5 dan 9 tahun. Asperger’s menunjukkan ketidakmampuan/cacat yang parah dan tetap dalam hal interaksi sosial, perkembangan pada pola perilaku tertentu dan berulang-ulang, minat, dan aktivitas. Sangat  berlawanan dengan autisme, secara klinis tidak ada keterlambatan yang berarti pada bahasa, kognisi, kemampuan membantu diri sendiri, atau perilaku beradaptasi, selain dari pada masalah interaksi sosial mereka.

Anak dengan sindrom Asperger’s bisa jadi tidak tanggap secara benar atau bahkan mengerti pernyataan kalimat yang berhubungan dengan “perasaan” dalam percakapan. Asperger’s mungkin secara klinis tidak menyebabkan keterlambatan yang berarti dalam menerima informasi baru, tetapi tetap ada perbedaan di dalam proses pembelajaran. Misalnya, anak Asperger’s bisa menjadi hiperleksik (hyperlexic), yaitu dapat mengindentifikasi kata-kata serta membaca pada usia yang sangat muda, dengan sedikit atau sama sekali tanpa mengerti arti kalimat yang dibaca. Sebagaitambahan, anak Asperger’s menunjukkan memori/menghafal di atas rata-rata dan mempunyai kelebihan dalam vokabulari (banyaknya jenis kata) namun tidak bisa menggunakannya dalam kalimat secara benar. Kebanyakan anak Asperger syndrome berotak cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan jarang mempunyai kesulitan pelajaran di sekolah. Mereka juga mempunyai sifat yang kaku/rigid.

Autistic Syndrome (autisme)

Autistic Syndrome adalah suatu ketidakmampuan perkembangan anak yang sangat mempengaruhi komunikasi verbal dan nonverbal dan interaksi sosial. Ketidakmampuan ini sangat jelas pada usia sebelum tiga tahun. Autisme menampakkan diri dalam spektrum yang luas, mulai dari individual dengan kelainan komunikasi berat, misalnya membisu, retardasi mental, yang selalu bertepuk dan menggoyangkan badannya, sampai pada individu yang mampu berfungsi dalam kehidupannya, akan tetapi memiliki kelainan dalam interaksi sosial, minat yang terbatas, verbose (sangat aktif berbicara) pedantic communication atau berkomunikasi secara aneh. (Happe, dalam Jamaris, 2009).

Autisme juga sangat berpengaruh buruk pada area pendidikan/pembelajaran.  Anak yang teridentifikasi autisme menunjukkan aktivitas mengulang-ulang dan pergerakan meniru (stereotype), menolak perubahan pada lingkungannya atau perubahan pada kebiasaan sehari-hari, dan mempunyai tanggapan yang tidak biasa pada sensori/indera. Autisme kemungkinan mempengaruhi anak laki-laki tiga sampai lima kali dibanding anak perempuan dan tidak mengenal ras, suku, dan kelompok sosial.

Identifikasi Autisme

a. Identifikasi

Mengidentifikasi autisme memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mengidentifikasi langsung autisme. Untuk menetapkan identifikasi gangguan autisme para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV. Gangguan Autisme diidentifikasi berdasarkan DSM-IV.

Identifikasi yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autisme yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autisme. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut. Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara identifikasi yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis.

Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi autisme. Terkadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan identifikasi dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan proses identifikasi. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil identifikasi. Secara sekilas, penyandang autisme dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan.

b. Alat Identifikasi

Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autisme pada anak. Sehingga penelitian terhadap autisme pun semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orangtua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Berikut ini merupakan sejumlah alat identifikasi yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi autisme adalah sebagai berikut:

a. The Autism Diagnostic Interview-Revised (AdI-R), alat ini digunakan untuk menginterview orang tua anak autistik.

b. The Autism Diagnostic Observation Schedule, (ADOS), alat yang digunakan untuk mengobservasi dan menginterview anak autistik.

c. The Childhood Autism Rating scale (CARS), alat yang digunakan untuk kepentingan klinis dalam menentukan autisme berat, yang dilakukan dengan mengobservasi perilaku anak autistik. (Volkmar, Chawarska, Klin, dalam Jamaris, 2009).

Pediatrician (dokter anak) biasanya melakukan investigasi awal terhadap autisme dengan mencatat sejarah perkembangan dan pemeriksaan fisik anak. Apabila perkembangan anak ada kelainan maka identifikasi dan evaluasi dilanjutkan dengan mengirimkan anak ke spesialis ASD yang akan melakukan assessmen terhadap kemampuan kognitif, kemampuan komunikasi, latar belakang keluarga, dan faktor-faktor lainnya dengan menggunakan alat assessmen yang telah distandarisasi. Dalam melakukan assessmen hal-hal yang berkaitan dengan kondisi medis menjadi pertimbangan. (Eikes, dalam Jamaris, 2009).

Pediatric Neuropsychologist (ahli neuropsikologi anak) merupakan pihak yang dapat memberikan pertolongan untuk melakukan assessmen keterampilan perilaku dan kemampuan kognitif anak autistik. Semua kegiatan ini dimaksudkan dalam rangka memberikan berbagai pertimbangan dan saran yang dapat digunakan dalam menunjang pendidikan anak autistik. Di samping itu juga untuk mengidentifikasi apakah anak autistik mengalami retardasi mental, kelainan pendengaran, serta kelainan perkembangan bahasa secara khusus.

c. Contoh Kasus Anak Autisme

Nia (25) tak pernah menduga akan dikaruniai anak autis. Tapi apa daya, ia pun hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Hanya usaha yang bisa ia lakukan agar kelak putranya itu bisa hidup layaknya anak normal. Kevin adalah adalah anak pertama pernikahan Nia dengan Anton. Kini usianya beranjak 5 tahun. Kelainan pada bocah lelaki kelahiran Medan, 1 Oktober 2002 ini mulai nampak ketika ia berusia dua tahun. Di usia itu ia belum bisa bicara dengan jelas. “Sebelumnya ia tampak normal. Responnya pun masih normal. Jika dipanggil misalnya, ia akan menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya itu,” kenang Nia perempuan berdarah Sunda itu. Cara bicara Kevin yang lambat dan tidak jelas sebelumnya dianggap Nia dan keluarga hanyalah masalah keterlambatan pertumbuhan saja. Dan mereka yakin, Kevin pasti bisa berbicara layaknya anak normal seiring dengan pertumbuhan usianya nanti. Dan Kevin pun sempat mengikuti sekolah playgroup dengan sesama anak normal lainnya.

Namun hingga enam bulan kemudian, anggapan itu tenyata keliru. Kevin belum menampakkan perubahan. Bahkan, perilaku Kevin tampak semakin tidak seperti biasanya. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan Nia bahwa ia perlu memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya itu. Karena kurangnya informasi tentang kelainan Kevin, Nia kemudian membawa Kevin ke Bandung. Dokter pertama yang ditemuinya adalah dr Dadang Sharief (spesialias anak) yang mengatakan, bahwa Kevin mengalami masalah (gangguan) pada pencernaan. Dugaan-dugaan diagnosa yang belum jelas tentang kelainan yang terjadi pada Kevin sempat membuat Nia bingung. Hingga akhirnya atas rujukan dr Dadang Syarif sendiri, Nia pun bertemu dengan dr Meli Budiman (Ketua Yayasan Autis Indonesia). Kebetulan waktu itu dr Meli Budiman sedang berkunjung ke Bandung. Dan atas diagnosa sang dokter, Kevin dijelasakan positif mengidap autis. “Dokter langsung tahu setelah memeriksa tingkah laku Kevin,” jelas Nia. Dan menyarankan agar Kevin menjalani terapi rutin. Sayangnya, Kevin hanya bisa menjalani terapi selama enam bulan karena terkendala masalah biaya. “Terus terang saya akui, sebagai orang tua yang masih muda, waktu itu kami masih belum mapan secara finansial dan pengalaman,” kata Nia.

Maka dengan terpaksa Nia pun kembali ke Medan dengan harapan mendapat dukungan dari orang tua dan keluarga. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Nia tidak mendapat respon dan dukungan dari mereka, yang bahkan tidak menerima kenyataan yang menimpa Kevin. Meski demikian, Nia dan suami tidak menyerah. “Saya dan ayah Kevin berusaha berjuang sendiri tanpa ada dukungan dari pihak keluarga dengan usia yang masih muda, dengan keadaan yang belum mapan,” kata Nia. Dengan keterbatasan itu, Nia pun merawat Kevin sendirian. “Selama satu tahun Kevin kami rawat di rumah, tanpa bimbingan medis,” katanya. Ibu muda ini hanya merawat anaknya dengan mengandalkan buku-buku dan video. Hingga pada tahun berikutnya, Nia dan suami yang bekerja sebagai pegawai swasta, memutuskan agar Kevin kembali mengikuti terapi dan pendidikan di Yayasan YAKARI, yayasan khusus untuk penanganan bagi anak penderita autis di Kota Medan. Meski demikian, tak banyak harapan Nia pada Kevin. Harapan yang hampir sama bagi ibu yang juga memiliki anak penderita autis, yang juga terjadi bagi Mama Yudha misalnya; juga orang tua lain yang menghadapi kondisi yang sama. Harapan yang sangat sederhana sebenarnya. “Bisa mandiri saja sudah cukup,” pinta Nia.

Kenyataanya, hingga kini Kevin masih kesulitan untuk makan sendiri, buang air kecil (besar) sendiri. Yang jelas, semuanya masih mengharapkan uluran tangan orang lain, meskipun untuk melakukan hal semudah apapun. Bagi Nia, menerima kenyataan memiliki anak menderita autis awalnya sangatlah tidak mudah. Apalagi Kevin adalah putra pertamanya dari perkawinan mudanya. Rasa minder pun sering dialaminya. Tapi perasaan itu justru menyadarkannya bahwa ia harus menerima Kevin bagaimanapun ia adanya. “Sikap menerima adalah kunci ketabahan bagi setiap orangtua yang memiliki anak autis,” jelas Nia. Sikap yang pada awalnya sulit ia lakukan. “Kalau bukan orangtua yang berusaha mendekatkan diri, maka semakin sulit bagi penderita autis untuk hidup berkembang seperti yang diharapkan,” katanya. Nia pun mengaku semakin sadar akan makna cinta sesungguhnya. Juga semakin sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang bagaimanapun ia adanya haruslah dijaga dan dibesarkan dengan ikhlas. Bahkan dengan rasa syukur. “Jika Kevin tidak menderita autis, mungkin cinta saya tidak sebesar ini. Jika Kevin tumbuh normal, mungkin saya tidak akan merasakan kebahagiaan yang pasti tidak dirasakan orangtua lain,” tambahnya.

Kebahagiaan orang tua yang memiliki anak autis seperti Nia memang berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh orangtua yang memiliki anak normal. Nia mengaku akan bahagia jika misalnya, Kevin menunjukkan ekspresinya ketika dipanggil oleh ibunya; jika ia berbicara dengan baik atau ketika anaknya itu mampu melakukan hal lain yang bisa dilakukan anak normal, meski tak banyak. “Mungkin kedengaran biasa saja bagi orang lain. Tapi itulah kebagiaan saya sebagai orang tua yang memiliki anak pengidap autis,” katanya dengan raut wajah sedih. Pengalaman itu sekaligus membuat ia semakin sayang kepada Kevin. “Saya dan suami akan merawatnya semampu kami. Apa pun akan kami lakukan demi Kevin. Sebab inilah tanggungjawab kami sebagai orangtua.

Dari kisah yang diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa Kevin mengidap autistic syndrome (autisme). Ini didasarkan pada perilaku serta gejala-gejala yang ditunjukkan oleh anak tersebut. Yaitu pada usia yang seharusnya sudah dapat berkata-kata, tetapi Kevin belum menunjukkan hal tersebut. Serta perilakunya pun semakin hari tidak seperti perilaku anak normal lainnya.

Program Intervensi

Orang tua yang anaknya baru diidentifikasi autisme atau ASD (autisme spectrum disorder) akan banyak menerima saran atau pendapat soal perawatanya. Mulai dari bertanya kepada teman, tetangga, dokter ahli, bahkan dari buku maupun internet. Beberapa filosofi intervensi berkembang dengan memberi perhatian kuat pada lingkungan anak untuk memaksimalkan perkembangannya. Beberapa punya pendukung sangat kuat dan beberapa sangat tidak menyetujuinya. Tujuan utama dalam penanggulangan autisme adalah untuk mengurangi gejala-gejala yang berkaitan dengan autisme dan mengurangi tekanan yang terjadi dalam keluarga. Selanjutnya, upaya terapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik agar dapat berfunggsi di dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Salah satu masalah yang timbul dalam melakukan intervensi autisme adalah laporan neuropsikologi sulit dimengerti oleh pendidik sehingga sulit untuk diterjemahkan ke dalam tindakan edukatif yang sesuai bagi anak autistik.

Intervensi pendidikan dalam banyak hal secara efektif memberikan manfaat bagi perkembangan anak autistik. Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA) Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara objektif. Pelaksanaannya dilakukan empat sampai delapan jam sehari. Anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan, misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dan sebagainya. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat.

Biasanya setelah satu sampai dua tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap masuk kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara individual. Di sini anak akan mendapatkan penanganan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagogik. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan intervensi mengalami berbagai masalah metodologi yang bersumber pada masalah efektifitas dan efisiensi dalam penerapannya ( Ospina, Krebs, Clark, et al, dalam Jamaris 2009). Walaupun demikian, sebagian besar ahli intervensi psikososial menemukan bukti-bukti positif yang menyarankan bahwa beberapa upaya terapi cocok untuk diterapkan pada anak autistik. Berikut ini merupakan jenis terapi yang dapat dilakukan dalam menangani anak autisme:

a. Terapi perilaku

Terapi Perilaku terdiri dari terapi wicara (sampai kepada komunikasi Pragmatis atau bahasa gaul), terapi okupasi, akademik, Bantu diri dan menghilangkan perilaku asosial.

a.Terapi okupasi, Terapi ini untuk menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya.

b.Terapi Wicara, Bagi penyandang autisme oleh karena semua penyandang autisme mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa, speech therapy adalah juga suatu keharusan, tetapi pelaksanaannya harus dengan metode ABA.

c. Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar, hal ini perlu dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, kemudian diajarkan konsep menirukan, lalu diberikan pengenalan konsep dan kognisi melalui bahasa reseptif/kognitif dan bahasa ekspresif disertai dengan tata krama dan sebagainya.

b. Terapi biomedik

Sebagian besar terapi biomedik terhadap ASD diintegrasikan dengan kegiatan anak di rumah dan di sekolah. Hal ini dilakukan karena terapi yang dilakukan  secara terpisah kurang berhasil.

c. Pengobatan (pemberian obat, vitamin, mineral, food supplements)

Tidak diketahui adanya pengobatan menyeluruh terhadap autisme, menggunakan pengobatan tradisional, obat-obatan herbal atau homeopati. Obat-obatan bukanlah perawatan utama dalam autisme. Pemberian obat-obatan untuk penyandang autisme sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya diserahkan kepada Dokter Spesialis yang memahami dan mempelajari autisme (biasanya Dokter Spesialis Jiwa Anak).

d. Program Intervensi lainnya

a. Program Adaptasi Hanen: yaitu suatu program pelatihan di bidang bahasa dan bicara. Dalam berkomunikasi dengan anak autisme haruslah menggunakan bahasa yang sederhana, saling bertatapan muka dengan anak, dan mendengarkan mereka dengan baik.

b. Auditor Integration Training (pelatihan integrasi auditori): yaitu suatu program pelatihan dengan menggunakan suara sebagai cara mengekspos anak pada serangkaian pengalaman pendengaran. Alat dengan headphone digunakan untuk memainkan musik yang dapat diubah dan dikontrol.

c. Diet: beberapa diet telah disarankan untuk mengurangi beberapa gejala autisme. Hingga kini belum ada riset yang mengkomfirmasi keefektifannya. Diet bebas gluten dan kasein adalah yang sangat umum ditemui. Namun tak ada bukti yang menunjukkan bahwa dengan mengeluarkan gluten dan kasein dari diet anak mengarah pada perubahan dalam perkembangan anak.

d. Lumba-lumba: merupakan suatu program treatment, yaitu berenang dengan ikan lumba-lumba sebagai kegiatan terapi.

e. EarlyBird: yaitu suatu program pelatihan bagi para orang tua anak autis. Tujuan dari pelatihan ini yaitu, 1) untuk mendukung orang tua dalam periode diantara identifikasi  dan penempatan sekolah, khususnya dalam memahami autisme. 2) untuk mendorong orang tua dan membantu memfasilitasi komunikasi sosial anak dan tingkah laku sesuai dalam lingkungan alami anak. 3) untuk membantu orang tua mempraktekkan pengasuhan anak di usia awal dengan sebagai pengendali perkembangan tingkah laku yang tak sesuai.

f. Higashi: terapi daily life dikembangkan di jepang oleh Dr. Kiyo Kitahara dan   lainnya. Terapi ini memusatkan filosofi mereka pada budaya Jepang atas penampilan dan milik kelompok. Ini merupakan kurikulum 24 jam yang berfokus pada keterampilan hidup sehari-hari, pendidikan fisik, musik, dan prakarya.

g. Lovaas: pelatihan ini menggunakan pendekatan berdasarkan terapi tingkah laku, serta menggunakan penguatan positif untuk mendorong pembelajaran. Karena program ini sangat terstruktur dan membutuhkan kerjasama yang tinggi dari anak dengan tingkat perulangan yang tinggi.

h. Mifne: pelatihan ini merupakan program intervensi awal untuk keluarga dengan anak autis di bawah umur lima tahun. Program ini menggunakan pendekatan melalui permainan resiprokal (saling respon) dengan anak. Program ini juga menggunakan tim, bekerja secara intens dengan anak dan keluarga untuk menghasilkan lebih banyak peluang berkomunikasi. Ini bertujuan untuk memperbaiki kontak mata, ekspresi afeksi, dan kepedulian sosial.

i. PECS: The Picture Exchange Communication System, program ini mengajarkan anak menukar gambar dengan benda yang diinginkannya, program ini dimulai dengan satu gambar tunggal, bergerak pada pilihan dan kemudian membentuk kalimat yang lebih kompleks.

j. Program Son-Rise, program ini merupakan perawatan dengan pendekatan pendidikan yang dirancang untuk membantu anak autis, keluarga dan pengasuh mereka. Pendekatan ini juga mengeksploitasi ketertarikan anak dan interaksi orang dewasa dengan apa yang dilakukan anak, dan pendekatan ini juga menyarankan interaksi sosial dan belajar sebagai pemfasilitas terbaik melalui ketertarikan spesifik anak. Adapun prinsip kunci dalam program ini yaitu: 1) secara aktif bergabung dengan tingkah laku berulang atau tak biasa anak dalam usaha memfasilitasi lebih banyak interaksi sosial. 2) fokus pada motivasi anak dan ketertarikannya untuk memfasilitasi pembelajaran dan keterampilan. 3) mendorong permainan interaktif dan menggunakan ini untuk belajar. 4) mempertahankan sikap mengasuh, tanpa menghakimi, dan positif dalam interaksi dan harapan. 5) menyampaikan bahwa orang tua dan pengasuh adalah sumber paling penting dan tanpa akhir bagi anak. 6) menciptakan area bekerja dan bermain yang aman, tanpa gangguan.

k. TEACCH, program ini bertujuan untuk membantu anak ASD hidup mandiri sesuai dengan potensi terbaik mereka. Program ini juga menyarankan pengajaran berstruktur, tetapi tidak mendikte dimana orang dengan autisme seharusnya dididik. Program ini juga menyediakan layanan seperti identifikasi, pengembangan kurikulum, setiap individu, pelatihan keterampilan sosial, pelatihan dan konseling orang tua. Sebagai tambahan program ini juga menyediakan layanan konsultasi keberbagai kelompok profesinal. Orang tua dan guru dapat dilatih dengan pendekatan TECCCH.

KESIMPULAN

Autisme merupakan keadaan yang disebabkan oleh kelainan otak yang ditandai dengan kelainan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang sangat kaku dan pengulangan perilaku. Autisme dapat dibagi ke dalam tiga jenis yaitu autism spectrum disorder (ASD) dan asperger syndrome, kedua jenis autism ini mengalami kelambatan dalam perkembangan kognitif dan bahasa, dan PDD-NOS apabila kriteria dari kedua jenis autisme yang terdahulu tidak cocok dengan karakteristik autism yang dialami anak. Di Indonesia, saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah anak penyandang autisme, namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4:1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Tujuan utama dalam penanggulangan autisme adalah untuk mengurangi gejala-gejala yang berkaitan dengan autisme dan mengurangi tekanan yang terjadi dalam keluarga. Selanjutnya, upaya terapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik agar dapat berfunggsi di dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA) Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara objektif.

SARAN

Dalam mengidentifikasi yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autisme yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autisme. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya sangat diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut. Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara identifikasi yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2008. Intervensi Biomedis pada Anak Autisme. http//www.kaskus.us/php.

Angel. 2008. Mengerti karakteristik dan tantangan dari kelainan spektrum autisma atau Autism Spectrum Disorder (ASD). http//angel-s-wing.blogspot.com.

Chaerunnisa. 2008. Penanganan Tepat pada Anak Autisme. http//www.okezone.com.

Effendi. 2010. Deteksi Dini dan Penanganan Anak. http//www.effendy-fendy.co.cc.

Emerina. 2009. Pendidikan Untuk Anak Autis. http//www.Emerina.blogspot.com.

Falyhz. 2010. Karakteristik Autisme. http//Falyz.blogspot.com.

Jamaris, Martini. Kesulitan Belajar: Perspektif, Assessmen dan Penanggulangannya. (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2009).

Judarwanto, Widodo. 2006. Deteksi Dini dan Skrening Autis. http//www.alergianak.  bravhost.com.

Min Min. 2007. mengenal gejala & penanganan autisme.  http//www.borubudurbiz.com.

Peeters, Theo. Panduan Autisme Terlengkap. (Jakarta: Dian Rakyat, 2009).

Williams, Chris & Barry Wright. How to Live With Autism and Asperger Syndrome. (Jakarta: Dian Rakyat, 2007).

Yanti, Nurma. 2010. Program Penyertaan Anak dengan Gangguan Perkembangan Perpasif. Presentasi Kepada Mahasiswa PAUD Pasca Sarjana UNJ.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s