HAKIKAT PENDIDIKAN DAN ASUMSI TENTANG HAKIKAT MANUSIA DALAM PENDIDIKAN

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

Hakikat Pendidikan

Hakikat pendidikan  merupakan suatu usaha memberdayakan potensi kemanusiaan (Human Capacity) secara optimal dan terintegrasi untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dengan ciptaan Tuhan lainnya dalam usaha meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan yang maha Esa.

Asumsi-asumsi Hakikat Manusia dalam Pendidikan

Hakikat manusia yakni adalah sebagai berikut:

1. Manusia pada hakikatnya adalah spiritual, setiap manusia memiliki tanggung jawab kekhalifahan dimuka bumi ini sebagai wakil Tuhan.

2. Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya dengan keridhaan Allah, dalam artian setiap yang dijalani oleh manusia bernilai ibadah.

3. Manusia merupakan makhluk sosial yang berbahasa.

4. Manusia mempunyai tenaga yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi semua kebutuhannya.

5. Merupakan individu yang rasional dan bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

6. Setiap manusia mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif serta mampu mengatur dan mengontrol dirinya.

7. Selalu mengalami proses perkembangan secara terus menerus selama hidupnya.

8. Merupakan individu yang selalu melibatkan dirinya dalam membantu orang lain dan membuat dunia lebih menyenangkan untuk ditempati.

9. Merupakan mahkluk Tuhan yang memungkinkan untuk dapat menjadi baik ataupun sebaliknya.

10. Merupakan individu yang sangat dipengaruhi lingkungan, terutama lingkungan sosial, serta dapat berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

Pengertian Sistem:

- Sistem suatu strategi menyeluruh atau rencana dikomposisi oleh satu set elemen, yang harmonis, merepresentasikan kesatuan unit, masing-masing elemen mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis. Made pidarta (Mc Ashan: 1983)

- Sementara itu Made Pidarta (Immegart: 1997) mengatakan esensi sistem merupakan suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya. Adapun komponen-komponen dalam pendidikan yakni:

1. Pesan, merupakan materi dari pelajaran.

2. Orang, yang menyampaikan pesan atau penerima pesan.

3. Bahan, untuk menyimpan pesan.

4. Alat, untuk menyampaikan pesan dari bahan.

5. Teknik, cara atau metode dalam penyampaian pesan.

6. Lingkungan.

Jadi sistem adalah suatu kesatuan komponen yang saling terkait untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu sistem pendidikan adalah suatu kesatuan komponen yang terdiri dari pesan, orang, bahan, alat, teknik, serta lingkungan yang saling terkait dalam rangka mencpai suatu tujuan pendidikan. Semua yang ada di dunia bisa dipandang sebagai suatu sistem, mulai dari yang besar seperti tata surya, bumi, Negara, orang, peredaran darah, sampai satu biji gigi dapat dipandang atau dipikir sebagai suatu sistem. Begitu pula pendidikan dapat dilaksanakan sebagai sistem, kalau suatu sekolah dipandang sebagai sistem, maka sistem-sistem lain yang ada di sekitarnya seperti perumahan, pasar, pertokoan, ladang, sungai, jalan, dan sebagainya disebut suprasistem. Antara sistem dengan suprasistemnya ada kalanya berhubungan dan ada kalanya tidak.

Bila sistem itu berhubungan dengan suprasistemnya, maka disebut sistem terbuka. Sebaliknya bila tidak, maka disebut sistem tertutup. Dalam hal ini pendidikan tergolong sistem terbuka. Untuk itu, pendidikan disebut sebagai sistem berada bersama, terikat, dan tertenun didalam suprasistemnya yang terdiri dari tujuh sistem tersebut di atas. Ini berarti untuk membangun suatu lembaga lembaga pendidikan lama, tidak dapat memisahkan diri dari suprasistem tersebut.

Ciri-ciri sistem terbuka adalah sebagai berikut: Made Pidarta (Tanner: 1981)

- Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar.

- Memiliki pemroses.

- Menghasilkan output atau mengekspor materi, energi, dan informasi.

- Merupakan kejadian yang berantai.

- Memiliki negativeentropy, yaitu suatu usaha untuk menahan kepunahan dengan cara membuat impor lebih besar daripada ekspor.

- Mempunyai alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri.

- Ada kestabilan yang dinamis.

- Memiliki deferensiasi, yaitu spesialisasi-spesialisasi.

- Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang sama.

Konsep-konsep Pendidikan

Pendidikan

Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pendidikan: pengertian disini mengacu kepada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi.

2. Teori Umum Pendidikan: konsep ini berawal dari pandangan John Dewey, seorang ahli pendidikan di abad-19 di Amerika serikat. Dia mengatakan pendidikan itu adalah The General Theory of education. Di bagian lain dia juga mengatakan Philosophy is the General Theory of Education. (TIM MKDK, 1990). Disini tampak bahwa John Dewey tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan, atau filsafat pendidikan disamakan dengan teori pendidikan. Sebab itu ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.

3. Ilmu Pendidikan: Pandangan ini berasal dari Eropa Barat, khususnya Belanda dengan ahli pendidikannya yang terkenal bernama Langeveld. Dia mengatakan bahwa pendidikan adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju arah kedewasaan dalam artian dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, (1991: 232) Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan latihan. Sedangkan dalam Bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata “pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” dan “agogos” artinya membimbing, sehingga “pedagogi” dapat di artikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak.

Kemudian, Wijaya (Susetyo, 2005 145) mendefinisikan pendidikan adalah proses awal usaha untuk menumbuhkan kesadaran sosial pada setiap manusia sebagai pelaku sejarah. Lalu, Gunawan (2000: 54) berpendapat bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Sementara itu dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses awal untuk menumbuhkan kesadaran pada setiap manusia, yaitu berupa sosialisasi yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam pembelajaran yang efektif dengan tujuan mengembangkan potensi anak didik yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Selain itu pendidikan juga harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang berada di tengah masyarakat.

Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pengajaran

Proses atau aktivitas yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan yang meliputi perancangan, pengelolaan, penyampaian, bimbingan dan penilaian.

Pelatihan

Pelatihan merupakan suatu pengajaran menuntut agar melakukan apa yang telah diajarkan.

Sedangkan menurut Amstrong (1991) “training is planned process to modify attitude, knowledge or skill behavior through learning experience to achieve effective performance in an activity or of activities”.

Pengasuhan

Pengasuh erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya.

Stimulasi Lingkungan

Rangsangan yang muncul karena pengaruh lingkungan. Rangsangan ini bisa bersifat baik dan juga tidak baik.

LANDASAN AGAMA DALAM PENDIDIKAN

PANDANGAN UMUM AGAMA TERHADAP PENDIDIKAN

Landasan Agama dalam pendidikan tersebut memberikan keterangan bahwa agama berasal dari wahyu berarti berasal dari tuhan (dalam hal ini agama bersifat residental). Dengan landasan ini diharapkan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku pada agama. Landasan agama dalam pendidikan juga dapat didefinisikan sebagai asumsi-asumsi yang bersumber dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Manusia sebagai subjek maupun objek dari pendidikan harus selalu mempertimbangan landasan fundamental ini dalam melakukan proses pendidikan.

Manusia adalah makhluk Tuhan YME. Hal ini jelas bagi kita atas dasar keimanan; dalam konteks filsafat, hal ini didasarkan pada argumen kosmologis; sedangkan secara faktual terbukti dengan adanya fenomena kemakhlukan yang dialami manusia.

Manusia adalah kesatuan badani-rohani. Sebagai kesatuan badani-rohani, manusia hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, insting, nafsu, serta tujuan hidup. Manusia memiliki potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbuat baik, cipta, rasa, karsa, dan berkarya. Dalam eksistensinya manusia memiliki dimensi individualitas, sosialitas, kultural, moralitas, dan religius. Adapun semua itu menunjukkan adanya dimensi interaksi atau komunikasi, historisitas, dan dimensi dinamika.

Idealnya manusia mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, hidup sehat, mampu mengendalikan insting dan hawa nafsunya, serta mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal; bebas, bertanggung jawab serta mampu mewujudkan peranan individualnya, mampu melaksanakan peranan-peranan sosialnya, berbudaya, bermoral serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Sehingga dengan demikian ia mampu berinteraksi atau berkomunikasi secara mono-multi dimensi, serta terus menerus secara sungguh-sungguh menyempurnakan diri sebagai manusia untuk mencapai tujuan hidupnya (dunia-akhirat).

Aliran filsafat yang bercorak keagamaan ikut pula mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan, baik pada permulaan filsafat yunani komo maupun/terutama pada era pengaruh filsafat yang dipengaruhi agama Hindu, Islam, Katolik, Protestan dan sebagainya. Meskipun seringkali terjadi pertentangan antara agama dan filsafat, namun terdapat beberapa tokoh besar yang mengemukakan pandangan filosofis yang berpijak pada filsafat agama, seperti Ibnu Sina (980-1037), Al-Ghazali (1058-1111) dan Ibnu Rusy (1126-1198) dari agama Islam, St. Thomas Aquinas (1225 – 1274) dari agama Khatolik yang dapat dianggap puncak skolastik Kristen dengan filsafat neothomisme, Laotse dari Tacis di China, Rabindranat Tagore di India, dan sebagainya. Pokok pendapat aliran ini yakni Tuhan adalah pencipta alam semesta termasuk manusia sebagai ciptaan tertinggi. Hakikat manusia ialah kesatuan tubuh dan jiwa, manusia dapat mencapai pengetahuan mutlak asalkan dengan menggunakan akal dan iman, dan sebagainya (Redja Mulyahardjo, 1992). Pendapat-pendapat tersebut mempengaruhi pendidikan, khususnya tentang hakikat manusia diupayakan perwujudannya melalui pendidikan.

Pandangan Masing-Masing Agama Terhadap Pendidikan

Pendidikan dalam Agama Hindu

Tujuan Agama Hindu

“Moksàrtham Jagadhitàya ca iti Dharma”

Moksartham: kebahagian setelah meninggal   (bersatunya jiwa dengan Tuhan)

Jagadhita: Kebahagiaan dan Kesejahteraan di dunia

Dharma: Kebenaran

Di Indonesia tujuan pendidikan mengantarkan anak menuju tingkat kedewasaan.

Kata dewasa berasal dari kata “devasya” (bahasa sansekerta) artinya anak diberikan pendidikan agar memiliki sifat-sifat dewa (sifat yang penuh kemuliaan). Diharapkan seorang anak selalu merenungi diri akan esensi kehidupannya.

Tri Kaya Parisudha

Tri: tiga, Kaya: perbuatan, Parisudha: amat disucikan, artinya “tiga perilaku dasar yang harus disucikan”, Terdiri dari: Manacika (pikiran), Wacika (perkataan), Kayika (perbuatan).

Unsur Trikāya Pariśudha Indikator
Mānacika Tidak menginginkan mendapatkan sesuatu dengan cara-cara yang melanggar aturan.Tidak menaruh prasangka, curiga dan berpikir buruk terhadap orang lain.

Yakin terhadap berlakunya hukum sebab akibat dalam kehidupan sosial dan pribadi.

Mengembangkan keingintahuan, berpikir ilmiah, kritis dan kreatif.

Menghargai pandangan orang lain dan siap melakukan sharing ide/gagasan.

Tangguh menghadapi cobaan dan tantangan hidup.

Wācika Tidak berkata kasar dan menyakiti hati orang lain.Tidak mengucapkan kata-kata fitnah dan bohong.

Berani dan santun dalam mengajukan pandangan, pertanyaan, dan argumentasi.

Kāyika Tidak melakukan kekerasan fisik dan psikis terhadap orang lain.Tidak mendapatkan sesuatu (harta benda dan kedudukan) dengan cara tidak halal.

Tidak melakukan perbuatan yang mengarah pada kebebasan seks dan zinah.

Menunjukkan prilaku hemat terhadap uang, waktu, dan energi.

Bekerja sama dalam memecahkan masalah.

Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial-alamiah yang baru.

Bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya.

Melakukan kegiatan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Tri Hita Karana

Tri: tiga, Hita: Kebahagiaan, Karana: penyebab

Artinya “ Tiga penyebab kebahagiaan manusia”, yaitu:

a.  Prahyangan (hubungan harmonis dengan Tuhan)

b. Palemahan (hubungan harmonis dengan lingkungan alam)

c. Pawongan (hubungan harmonis dengan sesama manusia)

Upacara Sarira Sayskara

Konsep Pendidikan melalui ”Upacara Penyucian Diri” yang disebut Upacara Sarira Sayskara. Upacara penyucian diri ini merupakan sebuah sarana sekaligus wadah untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan karena di dalamnya ada sebuah penyampaian pesan-pesan mulia dari keluarga maupun masyarakat kepada yang diberikan ataupun yang melakukan upacara tersebut.

Pendidikan Dalam Agama Budha

Budha Dhamma

Ajaran Sang Budha dalam Buddha Dhamma ini terangkum dalam Empat Kesunyataan Mulia. Ini menjadi dasar yang sangat perlu dikuasai umat budha, yaitu :

1. Hidup penuh dengan ketidakpuasan.

2. Ketidakpuasan bersumber dari keinginan dan harapan kita sendiri.

3. Memiliki keseimbangan bathin untuk menemukan kebebasan menyatu dengan Sang Guru Agung (Nirwana).

4. Jalan mulia berunsur  delapan (pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, cara hidup benar, daya upaya benar, konsentrasi benar, dan samadhi benar).

Sila (Kemoralan)

Dasar kemoralan Buddhis adalah Pancasila, yaitu:

1. Tidak melakukan pembunuhan

2. Tidak melakukan pencurian

3. Tidak melakukan pelanggaran kesusilaan

4. Tidak berbohong

5. Tidak mabuk-mabukkan

Samadhi (Meditasi)

1. Mengatur keadaan pikiran dan dikendalikan sehingga keseimbangan terjadi antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

2. Latihan menyeimbangkan pikiran dengan memposisikan bidang pikiran pada kondisi positif

3. Merelaksasi tubuh

4. Menghindari gangguan psikologis

5. Merealisasikan harap

Pendidikan Dalam Agama Islam

Pokok-Pokok Ajaran Islam

Islam Sebagai Agama Tauhid

Suatu keyakinan bahwa Tuhan itu Esa segalanya. Allah Swt. tempat meminta makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang mampu menyamainya. Allah Esa dalam zatnya, artinya zat Allah itu satu, tidak terbilang dan tersusun oleh unsur-unsur yang berbeda.

Manusia adalah sama di sisi Allah

Semua manusia adalah sama di sisi Allah, yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya. Seseorang dikatakan iman dan taqwa apabila ia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Iman, Islam, Ihsan (3 pokok ajaran Islam)

Dasar dan Tujuan Pendidikan

Dasar pendidikan: Ajaran Islam

1. Tauhid

2. Iman, Islam, Ihsan

3. Keyakinan (termasuk rukun iman)

4. Melaksanakan syariat Islam

5. Amal sholeh

Tujuan pendidikan dalam Islam untuk meningkatkan pengabdian yang dilihat 2 aspek:

1. Hubungan manusia dengan Alloh

2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Yang keduanya bertujuan akhir untuk kebahagiaan dunia akhirat.

Tujuan Penciptaan Manusia

1. Sebagai Hamba/menghamba kepada Allah SWT.

2. Khalifah Allah di muka bumi.

Sumber-sumber  Pendidikan:

1. Al-Qur’an

2. Al-Hadist

3. Ijtihad

4. Ijma’

Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.

Pendidikan dalam Agama Kristen

Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan. Pemeluk agama Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus atau Isa Almasih adalah Tuhan dan Juru Selamat, dan memegang ajaran yang disampaikan Yesus Kristus.

Di dalam kitab Amsal dijelaskan “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan….”(Ams. 1:7). Pengetahuan di sini bukan sekedar berarti ilmu, melainkan mengetahui yang baik. Takut akan Tuhan yang dimaksud adalah bukanlah takut dalam arti ngeri atau gentar, melainkan dalam arti hormat atau taat. Menghormati Tuhan berarti mengindahkan dan menghargai petunjuk Tuhan.

Sejarah Nilai Kekristenan dalam Konteks Pendidikan

Adam diberi mandat untuk memberi nama pada hewan-hewan di taman Eden (Firdaus) à menguasai ilmu tata nama hewan (ilmu biologi)

Adam memetik dan memakan setiap buah yang ada di taman à menguasai teknologi.

Adam dididik oleh Allah untuk taat namun ia melanggarnya à proses pendidikan yang terjadi.

Anak–anak Adam sudah mengadakan korban persembahan bagi Allah à dapat bersyukur atas berkat yang diterima.

Pada zaman Nuh Allah menyuruh untuk membuat bahtera dengan ukuran yang telah ditentukan à  menerapkan ilmu matematika dan arsitek.

Raja Salomo berdoa meminta hikmat  dari Allah dan ia dikabulkan pada saat ia menghadapi suatu masalah à ilmu hukum.

Pada zaman Isa A.S (Yesus), Ia sangat menganjurkan bagi seorang guru agar tidak menyesatkan anak-anak. Intisari dari ajarannya adalah kasih. Semua yang kita lakukan termasuk didalamnya pendidikan, jika tanpa didasarkan kasih maka tiada artinya.

Hakikat Kasih

“ Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa makaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak berduka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Dasar pendidikan agama kristen diterapkan  pada jenjang-jenjang pendidikan agar anak didik dapat berinteraksi dengan makhluk hidup yang lain dalam konteks bahwa ia mengasihi sesama manusia seperti ia mengasihi dirinya sendiri.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya agama-agama yang ada sangat menekankan pentingnya pendidikan. Pendidikan yang dilakukan pun dengan berbagai bentuk. Namun benang merah yang perlu kita pahami bahwa setiap agama menekankan penghargaan terhadap seluruh ciptaan tuhan. Proses pendidikan merupakan bagian dari proses keimanan yang harus selalu diorientasikan sebagai usaha dalam mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Landasan Pengetahuan Ilmiah Terhadap Pendidikan

Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan (Sains)

Pengetahuan

Definisi pengetahuan itu sendiri adalah sebagai berikut, segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalam dari pengetahuan. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

Dari uraian di atas Pengetahuan dapat diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa batu, apa gunung, apa air, dan sebagainya. Pengetahuan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu obyek kajian, metoda pendekatan, dan bersifat universal.

Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya:

1. Pengetahuan langsung (immediate);

Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang hadir dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran. Kaum realis (penganut paham Realisme) mendefinisikan pengetahuan seperti itu.

2. Pengetahuan tak langsung (mediated);

Pengetahuan mediated adalah hasil dari pengaruh interpretasi dan proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu. Apa yang kita ketahui dari benda-benda eksternal banyak berhubungan dengan penafsiran dan pencerapan pikiran kita.

3. Pengetahuan indrawi (perceptual);

Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh, kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini yang masuk ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita. Pada pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya anggota-angota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adad istiadad). Dengan faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.

4. Pengetahuan konseptual (conceptual);

Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan indrawi. Pikiran manusia secara langsung tidak dapat membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan alam eksternal. Alam luar dan konsepsi saling berpengaruh satu dengan lainnya dan pemisahan di antara keduanya merupakan aktivitas pikiran.

5. Pengetahuan partikular (particular);

Pengetahuan partikular berkaitan dengan satu individu, objek-objek tertentu, atau realitas-realitas khusus. Misalnya ketika kita membicarakan satu kitab atau individu tertentu, maka hal ini berhubungan dengan pengetahuan partikular itu sendiri.

6. Pengetahuan universal (universal).

Pengetahuan universal mencakup individu-individu yang berbeda. Sebagai contoh, ketika kita membincangkan tentang manusia dimana meliputi seluruh individu (seperti Muhammad, Ali, hasan, husain, dan …), ilmuwan yang mencakup segala individunya (seperti ilmuwan fisika, kimia, atom, dan lain sebagainya), atau hewan yang meliputi semua indvidunya (seperti gajah, semut, kerbau, kambing, kelinci, burung, dan yang lainnya).

Pengetahuan memiliki sumber (source) diantaranya adalah:

Intuisi

Ketika kita berbicara mengenai intuisi yaitu sebuah maenstream yang terbangun dibenak kita adalah sebuah eksperimen, coba-coba, yang berawal dari sebuah pertanyaan dan keraguan maka lahirlah insting. Menurut Kamus Politik karangan B.N. Marbun mengatakan intuisi: daya atau kemampauan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa ada dipelajari terlebih dahulu.

Rasional
Pengetahuan rasional atau pengetahuan yang bersumber dari akal adalah suatu pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah. Hal ini berbeda dengan pengetahuan intuitif atau pengetahuan yang berasal dari hati. Pengetahuan ini tidak akan didapatkan dari suatu proses pengajaran dan pembelajaran resmi, akan tetapi, jenis pengetahuan ini akan terwujud dalam bentuk-bentuk “kehadiran” dan “penyingkapan” langsung terhadap hakikat-hakikat yang dicapai melalui penapakan mistikal, penitian jalan-jalan keagamaan, dan penelusuran tahapan-tahapan spiritual. Pengetahuan rasional merupakan sejenis pengetahuan konsepsional atau hushuli, sementara pengetahuan intuisi atau hati adalah semacam pengetahuan dengan “kehadiran” langsung objek-objeknya atau hudhuri.

Emperikal atau pemakalah lebih suka dengan membahasakannya dengan Indra.

Tak diragukan bahwa indra-indra lahiriah manusia merupakan alat dan sumber pengetahuan, dan manusia mengenal objek-objek fisik dengan perantaraanya. Setiap orang yang kehilangan salah satu dari indranya akan sirna kemampuannya dalam mengetahui suatu realitas secara partikular. Misalnya seorang yang kehilangan indra penglihatannya maka dia tidak akan dapat menggambarkan warna dan bentuk sesuatu yang fisikal, dan lebih jauh lagi orang itu tidak akan mempunyai suatu konsepsi universal tentang warna dan bentuk. Begitu pula orang yang tidak memiliki kekuatan mendengar maka dapat dipastikan bahwa dia tidak mampu mengkonstruksi suatu pemahaman tentang suara dan bunyi dalam pikirannya. Atas dasar inilah, Ibn Sina dengan mengutip ungkapan filosof terkenal Aristoteles menyatakan bahwa barang siapa yang kehilangan indra-indranya maka dia tidak mempunyai makrifat dan pengetahuan.

Dengan demikian bahwa indra merupakan sumber dan alat makrifat dan pengetahuan ialah hal yang sama sekali tidak disangsikan. Hal ini bertolak belakang dengan perspektif Plato yang berkeyakinan bahwa sumber pengetahuan hanyalah akal dan rasionalitas, indra-indra lahiriah dan objek-objek fisik sama sekali tidak bernilai dalam konteks pengetahuan. Dia menyatakan bahwa hal-hal fisikal hanya bernuansa lahiriah dan tidak menyentuh hakikat sesuatu. Benda-benda materi adalah realitas-realitas yang pasti sirna, punah, tidak hakiki, dan tidak abadi. Oleh karena itu, yang hakiki dan prinsipil hanyalah perkara-perkara kognitif dan yang menjadi sumber ilmu dan pengetahuan adalah daya akal dan argumen-argumen rasional.
Akan tetapi, filosof-filosof Islam beranggapan bahwa indra-indra lahiriah tetap bernilai sebagai sumber dan alat pengetahuan. Mereka memandang bahwa peran indra-indra itu hanyalah berkisar seputar konsep-konsep yang berhubungan dengan objek-objek fisik seperti manusia, pohon, warna, bentuk, dan kuantitas. Indra-indra tak berkaitan dengan semua konsep-konsep yang mungkin dimiliki dan diketahui oleh manusia, bahkan terdapat realitas-realitas yang sama sekali tidak terdeteksi dan terjangkau oleh indra-indra lahiriah dan hanya dapat dicapai oleh daya-daya pencerapan lain yang ada pada diri manusia. Konsep-konsep atas realitas-realitas fisikal dan material yang tercerap lewat indra-indra, yang walaupun secara tidak langsung, berada di alam pikiran, namun juga tidak terwujud dalam akal dan pikiran kita secara mandiri dan fitrawi. Melainkan setelah mendapatkan beberapa konsepsi-konsepsi indrawi maka secara bertahap akan memperoleh pemahaman-pemahaman yang lain. Awal mulanya pikiran manusia sama sekali tidak mempunyai konsep-konsep sesuatu, dia seperti kerta putih yang hanya memiliki potensi-potensi untuk menerima coretan, goresan, dan gambar. Dan aktivitas persepsi pikiran dimulai dari indra-indra lahiriah.
Mengapa jiwa yang tunggal itu sedemikian rupa mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam menyerap semua pengetahuan? Filosof Ilahi, Mulla Sadra, mengungkapkan bahwa keragaman pengetahuan dan makrifat yang dimiliki oleh manusia dikarenakan kejamakan indra-indra lahiriahnya. Mulla Sadra juga menambahkan bahwa aktivitas persepsi-persepsi manusia dimulai dari jalur indra-indra itu dan setiap pengetahuan dapat bersumber secara langsung dari indra-indra lahiriah atau setelah berkumpulnya konsepsi-konsepsi indrawi barulah pikiran itu dikondisikan untuk menggapai pengetahuan-pengetahuan lain. Jiwa itu secara esensial tak mampu menggambarkan objek-objek fisikal tanpa indra-indra tersebut.

Wahyu
Sebagai manusia yang beragama pasti meyakini bahwa wahyu merupakan sumber ilmu, karena diyakini bahwa wahyu itu bukanlah buatan manusia tetapi buatan Tuhan Yang Maha Esa.

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

Pendidikan

Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.

Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

Keterpaparan informasi

Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary, adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program komputer, databases . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.

Jenis-Jenis Pendidikan

Pendidikan Inklusif

Pendidikan Inklusif adalah penggabungan pendidikan reguler dan pendidikan khusus ke dalam satu sistem persekolahan yang dipersatukan untuk mempertemukan  perbedaan kebutuhan semua siswa. Pendidikan Inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidikan melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinnekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualias pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusif adalah suatu penggabungan pendidikan reguler dan khusus ke dalam suatu sistem persekolahan yang dipersatukan yang bertujuan untuk menemukan perbedaan kebutuhan siswa dengan bentuk implementasi filosofi yang mengakui keaneka ragaman manusia dengan misi membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan berkualitas.

Pendidikan Multikultural

Andersen dan Cusher berpendapat bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Sementara James Banks mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color, artinya pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan), dan bagaimana kita mampu mensikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleran dan semangat egaliter. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Muhaimin el Mahady berpendapat bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (glogal).

Kemudian Hilda Hernandes mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur  dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status social, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.  Dengan kata lain, pendidikan sebagai media transformasi ilmu pengetahuan hendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme kepada peserta didik untuk bekal mereka dalam menghadapi keragaman yang kelak mereka temui dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Dari uraian di atas dapat didefinisikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keberagaman kebudayaan yang bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan suatu anugerah Tuhan dan bagaimana setiap individu dapat mensikapi perbedaan tersebut dengan penuh semangat dan dapat dipertanggung jawabkan.

ARAH PENDIDIKAN NASIONAL

Realiatas Pendidikan

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, sejak Indonesia belum merdeka hingga pascakemerdekaan 17 Agustus 1945, banyak sekali persoalan yang menerpa dunia pendidikan negeri ini. Sebelum merdeka, ketika bangsa ini dijajah oleh pihak asing, baik Belanda maupun Jepang, konsep pendidikan terus mengalami perubahan karena mengikuti kepentingan para penjajah. Bangsa ini dididik untuk mengabdi kepada penjajah dan menjadi sekrup kepentingan mereka, pendidikan yang diberikan bukan membuat bangsa ini menjadi cerdas, kritis, dan peka terhadap persoalan yang dihadapi, tetapi menjadikan bangsa ini tetap bodoh dan dan terus bertekuk lutut dibawah ketiak para kolonialis.

Mengutip pendapat Kartini Kartono (1997), tujuan pendidikan kolonial tidak terarah pada pembentukan dan pendidikan orang muda untuk mengabdi pada bangsa dan tanah air sendiri. Akan tetapi, pendidikan kolonial dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat penjajah agar dioper oleh penduduk pribumi menjadi budak dari pemerintah kolonial. Bangsa ini selalu menjadi alat kepentingan kolonial pada saat itu, dan ini berimbas pada kondisi pendidikan pascakemerdekaan.

Pada masa pascakemerdekaan, masih mengutip Kartini Kartono berpendapat ada beberapa hal yang kemudian terjadi akibat perkembangan politik dan demokrasi yang belum mapan di tanah air. Birokrasi yang terlalu ketat dan kaku di sektor pendidikan pun menjadi sebuah kenyataan yang harus dihadapi, adanya perembasan kekuasaan-kekuasaan politik yang terlalu banyak pada sistem pendidikan nasional kita (ada intervensi politik yang sangat ketat).

Dengan dampak yang terjadi demikian, maka dalam lembaga-lembaga pendidikan pun tidak terjadi perubahan dan pembahuruan karena orang harus patuh pada ketentuan-ketentuan dan peraturan formal serta kepentingan-kepentingan politik. Sedangkan di kalangan rakyat pada umumnya, orang lebih bersikap apatis atau menyerah pada keadaan pendidikan yang sudah ada tersebut, tidak ada perlawanan maupun penolakan sama sekali, mereka menerima segala bentuk kebijakan pendidikan secara taken for granted, akhirnya, ketika sistem pendidikan sudah terlalu ketat, maka sebenarnya kembali lagi pada sistem pendidikan lama (era kolonial), hanya konteksnya saja yang berbeda. (Moh. Yamin: 2009).

Pendidikan Orde Lama

Pendidikan orde lama pada masa kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Karena konsep pemerintahan Soekarno yang berasaskan sosialisme menjadi rujukan dasar bagaimana pendidikan akan dibentuk, dijalankan, dan dilakoni dengan sedemikian rupa demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Sosialisme memberikan penghargaan setinggi-tingginya terkait derajat yang sama di depan hukum dan kemanusiaan sehingga tidak ada yang dibedakan karena faktor suku, agama, dan ras. (Moh. Yamin: 2009).

Menurut Willy Aditya (2005), Indonesia di era Soekarno (orde lama), merupakan Negara sarat dengan cita-cita sosialisme, dan sangat mendukung pendidikan sebagai satu alat akselerasi masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita UUD 1945. Bahkan Indonesia mampu mengekspor guru ke Negara tetangga, menyekolahkan ribuan mahasiswa keluar negeri, dan menyebarkan mahasiswa-mahasiswa ke seluruh penjuru untuk mengatasi buta huruf. Dan puncaknya tahun 1960-an, terjadi peningkatan yang luar biasa karena banyaknya perguruan tinggi dan sekaligus mengindikasikan peningkatan jumlah mahasiswa dan pelajar di seluruh negeri.

Masih menurut Willy Aditya, orde lama merupakan satu fase yang mirip dengan fase pascarevolusi demokratik di Prancis. Saat itu, di mana-mana muncul semangat egalitarianisme yang mengejawantah dalam masyarakat. Panggilan terhadap orang, baik yang sudah berumur maupun belum, disamaratakan dengan sebutan “Bung”, yang merupakan pengganti sebutan orang yang tidak mengenal strata kelas, status, dan umur. Selain itu juga mahasiswa bebas berorganisasi dan berpendapat sesuai dengan keinginannya, oleh sebab itu di era orde lama cukup memberikan angin segar bagi arah perjalanan bangsa.

Pendidikan Orde Baru

Setelah Soekarno lengser dari tampuk kekuasaan dan Soeharto naik menjadi Presiden, maka di situlah Orde Baru mulai melahirkan dan menggelar kebijakan-kebijakannya, termasuk pula dalam dunia pendidikan. Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Dalam era ini, dikenal sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Intruksi Presiden Pendidikan Dasar. Tetapi sangat disayangkan Inpres Pendidikan Dasar belum ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas, hanya pada kuantitas saja.

Selain itu juga, sistem ujian Negara yang dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTANAS) telah berubah menjadi bumerang, yaitu penentuan kelulusan siswa menurut rumus-rumus tertentu, sehingga di tiap-tiap lembaga pendidikan sekolah berusaha untuk meluluskan siswanya 100 persen. Pada era ini pendidikan telah dijadikan sebagai indikator palsu mengenai keberhasilan pemerintah dalam pembangunan. Di sinilah mulai terjadi kemerosotan pada pendidikan Nasional, dimulai dari manipulasi ujian nasional sekolah dasar, kemudian meningkat kesekolah menengah pertama, kemudian meningkat lagi kesekolah menengah tingkat atas, yang kemudian berpengaruh pada mutu pendidikan tinggi.

Lebih jauh Darmaningtyas (2006), menjelaskan pendidikan pada masa orde baru ibarat pendidikan militer, Yaitu jiwa yang dikembangkan di sekolah umum sama halnya dengan jiwa yang dikembangkan di sekolah militer, bedanya yaitu, yang satu di bawah Departemen Pertahanan Keamanan, satunya lagi di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta yang satunya dilaksanakan dalam suatu isolasi yang ketat, sedangkan yang lain berada di suatu lingkungan masyarakat yang terbuka. Ini berarti tidak ada sedikit pun bagi berkembangnya keragaman pikiran, ideologi, budaya, suara, hingga tindakan selama masa orde baru berkuasa selama 32 tahun.

Pendidikan Orde Reformasi

Salah satu gerbang utama yang telah memaksa Soeharto yang disebut penguasa orde baru lengser dari tampuk kekuasaan selama 32 tahun adalah peristiwa reformasi, yang digelar oleh mahasiswa tanggal 21 Mei 1998. (Moh. Yamin: 2008). Hal ini pun, diakui atau tidak, berpengaruh dan mempengaruhi segala sendi kehidupan berbangsa di negeri ini, termasuk juga dalam pendidikan. Romo  benny Susetyo (2005), mengatakan bahwa Era Reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Jika pendidikan di prareformasi lebih sentralistik, maka pascareformasi pendidikan berubah menjadi desentralistik.

Merujuk dari hal tersebut memicu munculnya Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang diperkuat oleh Undang-Undang No. 25 tahun 1999 mengenai perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan sebuah kabar gembira bahwa segala kebijakan termasuk pendidikan tidak lagi berada di tangan pusat, melainkan berada di tangan daerah sebagai eksekutor kebijakan di tingkat lokal.

Menurut ketentuan pasal 11 UU No. 22 tahun 1999, pendidikan termasuk salah satu bidang pemerintahan yang didesentralisasikan. Dengan demikian, maslah pendidikan yang semula serba ditangani pemerintah pusat, maka tanggung jawab masalah ini bergeser ke pemerintah daerah, dalam hal ini adalah daerah kabupaten maupun kota. Karena selama ini manajemen pendidikan nasional selama ini secara holistik sangat sentralistik sehingga menutup dinamika demokratisasi pendidikan serta mematikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan serta mendorong terjadinya pemborosan dan kebocoran alokasi anggaran pendidikan.

Oleh karenanya, penguasa reformasi pun berupaya memformulasi arah kebijakan pembangunan pendidikan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 dan kemudian dipertegas dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (4), yang berbunyi, “ Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan belanja Negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.” Maka inilah sesungguhnya yang ingin dicapai oleh pendidikan di era reformasi ini. (Moh. Yamin: 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Ali Maksum, 2008. Pengantar Filsafat: “Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.

Drs. Surajiyo, 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannyadi Indonesia.Suatu pengantar. JakartA: Bumi Aksara

Hakim Nasution, Andi. 1988. Pengantar ke Filasafat Sains. Jakarta : Litera Antar Nusa

Harold, Marilyn, Richard. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat (alihbasa oleh : HM Rasjidi). Jakarta: PT. Bulan Bintang

Jumali, M dkk. 2008. Landasan pendidikan. Surakarta:  Muhammadiyah University Press

Jujun S Sumantri, 2005. Filsafat Ilmu “ Sebuah Pengantar Populer”. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Prof. Dr. Made Pidarta, 2007. Landasan Kependidikan: “Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak    Indonesia”. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

http://www.anneahira.com/ilmu/index.htm

http://www.anneahira.com/ilmu/jenis-jenis-ilmu.htm

http://dikdas.blogspot.com/2008/09/hakekat-manusia.html

Tirtarahardja, Umar & la Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Abdurrahman. 2009. Pengantar pendidikan.

http://pernikmagazine.wordpress.com. 5/10/09

Posted Sab, 10/01/2009 – 04:58 by akhmadsudrajat

http://www.psb-psma.org/content/blog/pendekatan-pendekatan-dalam-teori-pendidikan

Mulyahardjo, Redja. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

http://id.wikipedia.org/wiki/kekristenan

http://media.isnet.org/kristen/sejarah/asal-usul.html

http://www.carelinks.net/doc/bbintro-id/1

http://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Amsal

www.id.wikipedia.org

Ismail, Andar. 1997. Selamat Menabur. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Ellis, Arthur K, dkk. Introduction to the Foundation of Education. (New Jersey: Prentice Hall, 1991).

Okvina, 18 februari 2009. konsep pengasuhan. http :www.wordpress.com, diakses pada tanggal 8 oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s